3 November #7 (15)

227 22 4
                                        

Indah sekali....

.
.
.

Aku selalu kagum saat melihat area pesisir.
Yang ada hanyalah bentangan air bagaikan di ujung saja sudah tidak ada daratan lagi untuk di pijaki.

"Abri lapar, makan siang dulu!"
Ajak Andi.

"Hei, kau habis darimana?"

Andi memang beberapa saat setelah kami sampai di sini dia langsung menghilang.
Terakhir ku lihat sebelumnya dia berlari ke pinggiran pantai.
"Hehe merendam kaki di air laut, kau dari tadi berduaan terus sama seniormu itu, jangan-jangan kalian homo ya? Hahaha"

"Kalau iya kenapa?"
Tanyaku dengan serius.

"Hehe, bercanda, mana mungkin teman baikku ini seperti itu"
Andi malah merangkulku dan mengajakku ke sebuah marung makan di dekat situ.

Ternyata di sana juga sudah ada kak Isman yang lagi duduk sambil meminum secangkir kopi.
"Bri?, sudah puas main anginnya?"

"Belum, ini katanya dia lapar"
Aku melirikkan pandanganku pada Andi.

"Oh kebetulan, saya baru selesai pesan makan siang untuk kita, tenang saja, hari ini spesial untuk Abri semuanya saya yang bayar"

"Harusnya kan aku, kan ini ulang tahunku"

"Tidak perlu dek, kamu sudah saya anggap sebagai adik sendiri"

.
.
.
.

****FAHMI POV****

Mencari Abri?
Entahlah....
Rasanya aku kesini cuma liburan saja.

"Eh eh di depan spot fotonya bagus!"
Kata Yuli.
Wandi langsung menepikan mobilnya tepat di sebuah tugu.

"Boleh juga, untung kau ikut jadi kita ada pemandu"

"Heiii kita kesini mencari ABRI! Kenapa kalian berdua malah sibuk membuat insta story?!"
Bentakku.

"Benar juga..."
Ucap Wandi.

"Kan sekalian, mungkin saja mumpung Arbi cuti jadi dia liburan"
Kata Yuli.

"Arbi Arbi....ABRI!"

"Iya itu...."

"Yuli benar juga mi, ayo turun"

"Tidak kalian saja"
Wandi dan Yulipun turun dari mobil, sedangkan aku tetap di dalam.

Aku hanya memperhatikan mereka berdua dari dalam mobil, cuma sibuk berfoto ria tanpa peduli aku masih khawatir dengan keberadaan Abri saat ini.

Sekarang sudah pukul 12 siang, sisa setengah hari lagi waktuku untuk mencari Abri di sini karena besok aku harus kembali bertugas di kantor.

Cklek..
Wandi dan Yuli akhirnya kembali.
"Hei, di dekat sini ada Pantai, mau coba kesana?"
Tawar Yuli.

"Ahh, paling nanti kalian berfoto lagi"

"Tidak kok mi, maaf soal yang tadi, kali ini kita akan bantu mencari Abri"

"Tau Wan, terserah kalian, aku juga cuma numpang di mobilmu"

Wandipun melajukan kembali mobilnya menuju pantai yang tadi Yuli maksud.

Sekitar 15 menitan, kami sudah bisa merasakan tiupan angin yang amat kencang dan juga pemandangan pasir pantai yang semakin dekat.

.
.
.
.

****ABRI POV****

"Ini pak, selamat menikmati"
Pelayan akhirnya membawakan makan siang yang tadi kak Isman pesan.

"Uhh ikan bakar! Enaknya sama sambal!"
Aku langsung mengambil botol saus.

"Ehh jangan kebanyakan ya bri, nanti perutmu sakit"
Tegur kak Isman.

"Tenang kak, aku tidak akan sakit perut kok"

"Dulu perutmu sering sakit bri hehe"
Kata Andi.

"Tau, aku sudah lupa"

"Kan ingatanmu hilang haha"

"Ehh sudah..., ayo makan mumpung semuanya masih panas"
Ucap kak Isman.

Kami segera menyantap makan siang kami.
Aku memasukkan potongan daging ikan bakar itu ke mulutku.
Seketika aroma asap membanjiri mulutku, rasanya.... Uhhh
Inilah Indonesia.
Kali ini dengan sambal...
Begitu masuk ke mulutku......
Lidahku terasa di BDSM oleh cabai, bawang, merica, lada dan tomat.
"Ahhh... Uhhh... Mhhh... Sshhhht...., huh best!"

.
.
.

Satu jam kemudian.....

Tadi lidahku...
Rasanya...
Sekarang perutku yang di BDSM sama sambal yang tadi.
"Uhh....."

"Nah kan, sudah saya bilang jangan makan lombok terlalu banyak"

"Iya kak.... Uhh sakit...."

"Minum bri"
Andi menuangkan air ke gelas untukku.

"i..iya makasih....."
Baru saja aku hendak meminum air itu, tiba-tiba ada dorongan dari dalam yang ingin keluar.
"Se...Sebentar...."
Aku berdiri.

"Mau kemana?"
Tanya kak Isman.

"Ke kamar kecil..."
Aku langsung lari ke wc warung makan ini.

.
.
Sementara itu...
Masih di pantai yang sama.
****FAHMI POV****

Hari yang melelahkan....
Tapi tidak ada hasil yang bisa aku banggakan untuk hari ini.

"Hei kau kenapa murung?"
Wandi merangkulku.

"Sepertinya aku dan Abri memang tidak akan bisa bersama lagi"

"Kau tahu, jika aku jadi Abri, aku sudah jelas akan meninggalkanmu"

"Kau kasar sekali jadi perempuan..."
Ucap Wandi ke Yuli.

"Memang benar, kau selalu patah semangat begitu, harusnya kau tetap teguh!"

"Sudahlah, kita makan siang dulu, mungkin
Fahmi hanya kelaparan saja"

Kami bertiga lalu pergi ke warung makan di dekat situ.

*****

Jangan lupa vote biar imun author meningkat :')

Pluviophile (Sejenak#3)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang