Patroli (04)

382 30 2
                                        

Aku segera memacu kecepatan motor patroli ke arah jembatan itu.

Dan sepertinya dugaanku benar.
Orang itu nampak khawatir saat melihat kedatanganku.

Dia tiba-tiba bersiap hendak lompat, tapi aku segera memarkirkan motor dan langsung mendekapnya dari belakang.
"LEPASKAN AKU!!!!!!"
Pemuda itu sontak berontak saat aku menahannya.
"Aku ingin mati!!!! Lepaskan aku!!!!!!"

"Jangan bicara sembarangan!, jika kau punya masalah bicaralah baik-baik!"

Dia terdiam dan memalingkan wajahnya ke arahku.
Sorot wajahnya menampakkan ia tengah marah di tengah air matanya.
"Masalahku sudah terlalu banyak! Tidak ada lagi yang bisa aku bicarakan!!!! Lepaskan aku! Biarkan aku pergi!!!!!!"

"KAU PIKIR HANYA KAU YANG PUNYA MASALAH?!"
Teriakku.
Dia kembali terdiam, kali ini nampak bingung melihatku.
"Kau pikir.... Hanya kau yang punya masalah?!"
Air mataku mengalir saat kembali teringat kesalahanku dulu.
"Kumohon jangan bunuh diri...., aku akan mendengarkan masalahmu"

Dia ikut menangis.
Akhirnya dia mau menurut dan turun dari pembatas jembatan itu.

Kami berdua duduk di pinggir jalan.
Jalanan sepi, memang karena area ini jarang di lewati kendaraan dan sudah masuk area dalam.

"Bicaralah..."
Ucapku.

Dia diam sejenak lalu mulai menceritakan masalahnya.
"Aku...., empat hari yang lalu di vonis Kanker paru-paru"

Ternyata masalahnya lebih besar dari masalahku.
"Dan sepertinya hidupku sudah tidak lama lagi...."
Sambungnya.

"Jadi itu alasanmu untuk langsung mengakhiri hidup?, begitu?"
Tanyaku.
Dia hanya mengangguk.
"Begini..., harusnya kau mulai memperbaiki dirimu, mendekatkan diri pada tuhan, bukannya malah berbuat seperti tadi"

"Tapi...., apa tuhan akan memaafkanku?"

Aku memandanginya.

"Dosaku terlalu kotor"

"Semua dosa itu kotor, aku juga pernah melakukan kesalahan"

"Kesalahan seperti apa?"
Tanyanya.

"Aku...."
Aku mengaktifkan hpku dan langsung muncuk wallpaper dengan foto Abri.
"Aku menghianati seseorang"

"Pacar ya?"
Tebaknya.

"Hehe iya..., aku meninggalkannya saat kami sedang sangat bahagia"

"Kau jahat sekali...."

"Hei...."
Aku memandanginya karena barusan rasanya dia mengejekku.

"Hehe maaf"

"Tapi, justru itu aku ingin mencarinya agar aku bisa menjelaskan kesalahpahaman ini"

"Kesalahpahaman?"

"Benar, aku menjauhinya karena keluarga kami melarang, harusnya aku memberitahunya tapi dengan bodohnya...."
Aku kembali teringat kebodohanku dulu.
"Aku malah menjauh tanpa mengucapkan kalimat perpisahan"

"Bodoh sekali..., tapi lebih bodoh diriku"
Katanya.
"Dosa kotor yang kulakukan itu...., adalah menjatuhkan temanku kedalam kemaksiatan"

Berarti orang ini bukan pribadi yang baik dalam masyarakat :l

"Eh!, kumohon jangan tangkap aku!"

"Hehe lanjutkan saja, aku tidak akan menangkapmu, kalau perlu periksa aku, aku tidak punya alat penyadap atau perekam suara"

"Hehe baiklah, terima kasih pak"

"Fahmi saja"
Aku memberikan namaku padanya, soalnya kalau di lihat-lihat sepertinya usiku dan usianya hampir sama.
"Jadi....., kau mengajak temanmu berbuat apa?"
Tanyaku penasaran.

"Aku...."
Dia yang tadinya mulai ceria kembali tertunduk.
"Aku pecinta sesama jenis"

Dan aku langsung mengerti.
"Ohhh, jadi kau mengajak temanmu itu jadi miring juga?"

"Kau kasar juga..."

"Hei santai!"
Aku mendekatkan mulutku ke telinganya dan berbisik.
"Pacarku itu juga pria"

Dia nampak kaget.
"Jadi kau juga?!"

Aku tersenyum dan mengagguk.
"Pasti pacarmu itu senang punya pasangan yang baik sepertimu, tidak seperti aku.. "

"Bisa saja...., tapi memangnya kau kenapa?"

"Soalnya....., aku mencekoki temanku itu dengan pill perangsang lalu menikmati tubuhnya"
Jelasnya.
Ternyata orang ini benar-benar nekat..
"Tapi setelah itu kami berpacaran juga"

"Hmm bagus dong kalau begitu, cuma caramu lain kali di ubah ya"

"Hehe siap komandan!"

"Lalu apa yang terjadi?"
Aku malah semakin antusias dengan kisahnya.

"Aku dan dia bahagia, sampai suatu hari dia hilang ingatan dan melupakanku"

"Ohh begitu....., sabar ya!, dulu pacarku juga sempat hilang ingatan"

"Hah?!, kok bisa?"

"Hehe, aku tidak sengaja menabraknya"

"Ah kau ini!"

"Ehhh aku serius!"

"Haha iya iya aku percaya"

"Fahmi....Fahmi.... Masuk"
Walkietalkie ku berbunyi.

"Fahmi di sini, ada apa?"

"Kita disuruh berkumpul di titik kedua"

"Baiklah, aku akan segera kesana"

Aku berdiri dan berjalan ke arah motor.
"Kau sudah tidak apa-apa kan?"
Tanyaku.

"Iya, terima kasih Fahmi"

"Ingat!, jangan bunuh diri lagi"

"Iya, eh! Sebentar!"
Dia berlari menghampiriku yang sudah naik ke motor.
"Bisa aku minta nomormu?"

"Nomorku?"

"Hehe, aku merasa nyaman curhat denganmu"

"Ahh baiklah"
Akupun memberikan nomor wa ku padanya.
"Eh, namamu siapa?, aku belum tahu"

"Faizal"

*****

Selamat hari raya Idul Adha.
Mana yang kurban perasaan?
Hehe bercanda.
Jangan lupa vote :D

Pluviophile (Sejenak#3)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang