Keputusan #2 (42)

144 15 9
                                        

Kembali ke hari lamaran....

****FAHMI POV****

Jadi hari ini Abri akan melangsungkan lamaran...

"mi, makan"
Wandi membawakan sarapan untukku.

Sementara Abri melangsungkan lamarannya, aku harus masuk rumah sakit karena drop akibat stres ini.

"makasih wan"
Ucapku.

"jangan terlalu di pikirkan mi, sudah 6 hari kau di rawat di sini, aku...."
Wandi meneteskan air mata dan dengan cepat dia mengusapnya.
"e... Hiks... Aku tidak tahan melihatmu menderita begini....."

"temanku...., maafkan aku wan"
Wandi langsung memelukku.

"ti...tidur saja, jangan terlalu memikirkan Abri sekarang, fokuslah dengan kesembuhanmu, Abri juga sudah menelpon pagi tadi, habis lamaran dia akan langsung ke sini"
Jelas Wandi.

"kesini?"
Aku langsung berbalik membelakangi Wandi.
"entahlah, ada baiknya mungkin Abri tidak kesini lagi wan"

.
.
.
.

Rumah Pak Harto...

****ABRI POV****

Aku di tinggalkan berdua dengan Yusni anak pak Harto di ruang tamu.

"a..anu... Aku....."

"kak"
Ucap Yusni.

"ya?"

"kak Abri terlihat kurang setuju dengan ini, aku tidak masalah dengan itu"
Ucapnya sambil tertunduk.

"tapi...., ini kemauan orang tua kita"

Yusni tersenyum.
"aku menyukai kak Abri saat aku masih kecil"

"masih kecil?"
Aku memiringkan kepalaku.
"memangnya.... Kita pernah bertemu?"
Tanyaku serius.

Dia menggeleng.
"hmm.., tapi aku selalu memperhatikan kak Abri dari jauh"
Yusni lalu merogoh saku rok nya.
Dia mengeluarkan selembar foto.
"ini..."
Yusni memperlihatkan foto itu padaku.

Foto pak Harto dan aku dalam balutan seragam persilatan kami.
"aku menyimpan foto ini sudah lama, karena ini dua sosok laki-laki yang paling aku cintai di hidupku"

"Yus...."

"jika kak Abri memang belum bersedia atau tidak mau jika di sandingkan denganku, aku tidak keberatan kok kak, selama itu membu..."

"Yusni"

"i..iya..."

"ada yang ingin aku bertahu padamu"

Dia tersenyum lagi.
"Hubungan kak Abri dan Fahmi aku sudah tahu kok"

Terkejut?
Sangat.....
"darimana kau ta...."

"sudah ku bilang aku memperhatikan kak Abri hehe"

Aku jadi malu...
"ka...kalau begitu boleh aku bertanya satu hal?"
Dia mengangguk.
"jika... Kau tahu membantah orang tua itu terhitung durhaka, dan jika kita nanti bersama, bagaimana dengan orang tuamu?, kau tahu kan, dalam agama jika seorang wanita menikah maka dia akan menjadi hak sepenuhnya untuk suaminya"

"kak...., suami istri itu hubungan yang sakral dan hanya akan terjadi sekali untuk hubungan yang harmonis, jika nanti kak Abri akan sepenuhnya akan aku...., aku tidak akan mrmbantah suamiku, tapi aku tentu tidak bisa meninggalkan kewajibanku sebagai anak, aku akan terus berusaha membahagiakan papah dan mamah"

"begitu...."
Aku tersenyum.
"aku suka orang yang menghargai keluarganya hehe"

"kak Abri...."

Pluviophile (Sejenak#3)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang