Sorenya...
Aku dan Army di antar om Fahmi kembali ke asrama.
"semangat ya kalian berdua, papah pergi dulu"
Om Fahmi segera melajukan mobilnya.
"ayo dek, kita masuk"
Ucapku.
"dak dek dak dek ARMY!"
Army yang kesal langsung berbalik dan masuk duluan ke asrama.
Aku hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepala melihatnya.
.
.
****ARMY POV****
Aku membuka pintu kamar asrama.
Dan di dalam ternyata sudah ada Teo seorang diri.
"Teo?, Rey belum datang?"
Tanyaku.
"belum my, aku saja baru sampai, eh?, Aden mana?"
Tanya Teo.
"hadir"
Aden langsung menyelinap masuk ke dalam kamar, menyimpan tasnya di rak, dan naik ke atas ranjangnya.
"hehe belum berubah ya dia..."
Ucap Teo.
Tapi bagiku itu aneh...
Dari semalam sampai di luar asrama tadi dia terus memanggilku adik.
Kenapa sejak masuk area asrama tadi dia jadi dingin bagai tingkat dua kulkas lagi?
"oi serigala, kau kenapa?"
Aku coba bertanya, barangkali dia tidak enak badan lagi.
"hmm..."
Dia langsung berbalik membelakangiku.
"berisik"
"heh?!, hei!, aku bertanya begitu karena aku peduli padamu!, cih!, menyebalkan"
.
.
.
Seminggu berlalu dan selama di asrama Aden benar-benar menjadi Aden yang aku kenal.
Pendiam, menjengkelkan, sok!
"hmm...."
Gumamku...
Soalnya sudah sejam lewat papah belum datang menjemput!
Aku sangat bosan apalagi harus menunggu dengan si Serigala ini.
Eh?!
Dia menatapku!
Aku langsung memalingkan wajah.
"jangan melihatku!, nanti kau baper"
"hufff, adikku kenapa?"
Weh Adik?!
"tunggu!, barusan kau bilang apa?!, adik?"
"aku kan lebih tua darimu walau mungkin hanya beberapa jam atau hari"
Kata Aden, namun bukan itu yang membuatku marah padanya.
"bukan itu!, kau sekarang memanggilku adik?, yang kemarin-kemarin aku memanggilmu saja kau tidak berbalik, sopankah begitu?!"
"cup cup cup maaf dik"
"dak dik dak dik dak dik cukup!, hari ini aku lebih suka kau jadi dirimu sendiri serigala, aku tidak suka sikap pedulimu itu, jadi diam dan tunggu saja...."
Piiip!
Akhirnya mobil papah datang.
"maaf maaf, tadi papah ganti ban dulu, bannya bocor"
Jelas papah.
Aku tidak berkata apapun dan langsung naik ke mobil dengan tasku.
"pah, bisa aku minta tolong?"
Tanya Aden.
"hm?, ayo naik saja dulu, minta tolongnya di rumah saja"
Kata papah.
"anu..., aku minta tolong bisa papah antar aku ke rumahku?"
.
.
"belok kanan pah"
Aden menunjukkan arah ke rumahnya pada papah.
Hufffff ini akan jadi hari yang panjang.
Aku ingin segera pulang ke rumah dan tidur!!!!!
"stop pah, sudah sampai"
Mobil pun berhenti dan saat aku menoleh keluar jendela....
"A.........."
Aku hanya bisa menganga melihat rumah bertingkat dua dengan cat berwarna ungu, pekarangan luas dengan pepohonan mangga yang rimbun.
Bahkan dari luar pagarnya aku bisa melihat ada KOLAM RENANG!
"masuk pah..."
Ajak Aden.
"wahahaha, rumahmu?"
Tanya papah.
"hehe, sebentar ya pah, aku hanya mau mengambil sesuatu, papah ayo masuk"
Papah pun ikut turun dari mobil bersama Aden.
"eh?, AKU BAGAIMANA ARGHHHH!!!!!"
Aku segera turun dari mobil dan mengikut di belakang mereka.
Aden mengambil kunci di dalam tasnya lalu membuka pintu ista maksudku rumah ini.
Kriiik....
Suasana di dalam sangat gelap, namun saat Aden menekan tombol lampu, seketika ruangan jadi sangat terang dan memperlihatkan kemegahan isi rumah ini.
"papah, duduk saja dulu"
Ucap Aden yang hendak menaiki tangga ke lantai atas.
"heh! Aku juga ada di sini!"
Sahutku emosi.
"kamu mau naik sendiri?, biar papah temani"
Tawar papah, tapi Aden menolak dan tetap naik seorang diri.
Aku cuma melihat-lihat seisi rumah ini dan jadi teringat perkataan Eja, tidak percaya rasanya rumah dan pekarangan sebesar ini milik seorang remaja seperti Aden.
Satu kata...
Beruntung.
"sudah"
Adenpun kembali dengan membawa map.
"apa yang kamu ambil?"
Tanya papah.
"oh, surat tanah dan surat warisan dari keluargaku pah, aku cuma khawatir barang berharga seperti ini di tinggal di sini"
Jelas Aden.
"kau......"
Ucapku.
"kau.., bukannya lebih nyaman tinggal di sini?"
"Army..."
Papah memandangiku.
"hehe, rumah ini memang sangat besar dan mewah, tapi aneh juga jika tinggal seorang diri, lagipula aku akan lebih nyaman tinggal dengan ayahku"
Aden tersenyum..
Kali pertama di hidupku aku melihat senyuman yang amat tulus dari seorang Aden.
"la..lalu rumah ini akan kau apakan?!"
Tanyaku.
"aku akan merobohkannya"
*****
Maaf lama
Jangan lupa vote :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Pluviophile (Sejenak#3)
RomansaHubungan yang kandas akibat kesalahpahaman. Dapatkah kembali bersemi? Hujan... sampaikanlah Isi Hatiku padanya.
