Cerita (71)

141 22 15
                                        

3 Tahun berlalu...

****RIFKI POV****

"oi kalian berdua!"
Aku menghampiri Alan dan Akir yang sedang berbincang di pinggir lapangan.
"foto!"

"ayo.."
Ucap Alan.

Kamipun berpose lalu berselfie ria.

Tak terasa...
3 tahun sudah berlalu dan hari ini adalah hari kelulusan bagi kami.

Army?
Sudah lama, namun setahun lebih tidak ada kabar yang kami terima dari dia.

.
.
.
.

****ARMY POV****

Aku duduk di ruang tamu bersama papah Fahmi.
Kami terus menunggu hasil tes Polri di depan laptop.

"sudah jam 10 lewat, harusnya hasilnya sudah keluar 8 menit yang lalu"
Kata papah Fahmi.

"pah, aku bisa lolos kan?"

"omong kosong, jagoan papah tidak mungkin gagal"

Entah kenapa rasanya papah Fahmi lebih mirip sosok ayah di banding ayahku sendiri.

Ping!
Pengumuman hasil tes sudah keluar!
"pah sudah muncul!"

Tanpa berkata apapun, papah segera membuka laman web yang langsung menampilkan bagan dari nama peserta tes yang lolos masuk.

Dan tiba-tiba papah memelukku dengan erat!
"Kamu lolos!!!!!"

Aku mengintip dan melihat namaku ada di nomor urut 2!
"a..aku....."

"makasih my...., papah bangga denganmu"
Papah menangis...

Aku juga merasakan kesedihan yang sama.
Soalnya ini adalah momen yang sangat bahagia untukku, namun....

Papah mengambil foto ayahku di atas meja.
"bri..., Army lolos"
Ucapnya dengan air mata yang terus mengalir.

Aku bisa merasakannya....
Sekarang ayah sudah tidak bersama dengan kami.

Drrrrt Drrrrt....
"halo?"
Aku menjawab telpon yang masuk.

"Hei, jagoan ayah, selamat ya kamu lolos"
Ucap ayah di telpon.

"BRI.... PULANG....."
Sahut papah.

"diam!, maaf ya Army, ayah masih ada tugas di Surabaya, jadi ayah tidak bisa mendampingi kamu masuk pendidikan"

"tidak apa-apa yah..., ayah jaga kesehatan di sana, jangan lupa makan yang banyak"

"jangan selingkuh"
Sambung papah.

"ya sudah jagoan ayah, bilang sama papahmu jangan kebanyakan coli"

"hehe tiap malam Army suka dengar ceplak ceplok dari kamar sebelah"

"ya sudah, ayah lanjut kerja dulu ya, uang saku sudah ayah transfer pagi tadi"

Muehehehe, itu yang aku tunggu
"ahhhh ayah best!, papah Fahmi ga ada apa-apanya"
Pencitraan.

"iya, banyak istirahat ya nak, nanti di pendidikan harus fokus, jadi polisi yang baik dan jujur, jangan seperti papahmu"

Papah langsung mengambil telpon dariku.
"beb kapan pulang?!"

"sudah ya, sampai jumpa"
Tiiiiit.....
Dan ayahpun mematikan telponnya.

Papah hanya tersenyum.
"dasar bibit tebal, eh besok kita belanja keperluan kamu di asrama ya!"

"keperluanku?"

"sabun mandi, sikat gigi, deodoran, ember kecil, dan lain lain, papah yang belikan"

"ahhhh papah memang paling best!, ayah ga ada apa-ap...."

"iyaiyaiya mata duitan"

.
.
.
.

Besoknya....

Aku dan papah Fahmi pergi berbelanja beberapa kebutuhan untuk aku di asrama nanti.

Sambil mendorong troli belanjaan kami berdua berputar-putar berkeliling mencari apa saja yang mungkin akan aku perlukan.

"sikat gigi..."
Papah langsung mengambil salah satu sikat gigi dari rak dan memasukkannya ke troli.

"ehhh pah, kok warna merah?"

"jangan protes....., ah iya habis ini kita cari pakaian dalam untuk kamu"

"aku pilih sendiri!"

"haha iya iya, takut ketahuan celana dalam kamu warna ungu ya? Adedeeeeehhhhh!!!!"
Aku langsung mencubit pinggang papah.

"papah ngomong lagi aku tampol ya!"

"iya iya maaf bri..., eh my"

"cie yang rindu...."
Godaku.

"heh!, papah masih bisa tahan kalau cuma dua bulan lagi, hehe...."
Ayah tiba-tiba meraih sesuatu dari rak, sekotak kondom.
"jangan liat, anak kecil seperti kamu belum mengerti apa-apa"

"dasar om-om....."

.
.
.
.

Setelah mendapatkan semua barang di perlukan, kami berdua bergegas pulang kerumah.
Begitu masuk ke rumah aku langsung memeluk erat papah.
"makasih pah...."

"eh?, tiba-tiba meluk begini...., kamu mau beli apa?"

"apaan sih pah?, memangnya aku cuma baik kalau lagi ada maunya?, ini itu sebagai bentuk terima kasih"

Papah kemudian mencium pipiku.
"jagoan papah tidak perlu berterima kasih, kamu lolos saja sudah bikin papah sama ayah kamu bangga"

"tapi...., aku mau minta maaf sama papah"

"kenapa sayang?"

"aku suka kasar sama papah, suka nyubit, mukul, bahkan suka fitnah papah ke ayah"
Memang aku durhaka.

"hahaha.... Tidak perlu Army, papah senang kok kamu begitu, jadi makin mirip sama ayah kamu"

"kan aku anaknya"

"hmm iya, ayo, kita makan malam, mulai hari ini kamu harus banyak istirahat, selasa depan kamu sudah masuk pendidikan!"

"siap pak!"
Hormatku.

"siap!"
Balas papah.

*****

Maaf ya, sekarang author jarang balas bacotan kalian di kolom komentar, seperti kemarin, Fahmi habis kecelakaan, udah baikan sih tapi masih di rumah sakit.
Author juga ga lulus cpns b4ng54t!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Tapi udah 2 minggu author jadi Mitra TNI, yahh bantu-bantu kerjaan kantornya aja sih, ibarat honorer gitu wkwkwk

Jangan lupa vote ya :)

Pluviophile (Sejenak#3)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang