Besok sorenya...
****ARMY POV****
Alan membawa kami ke tempat dimana kami akan melakukan observasi.
Tapi saat sudah di lokasi....
Rasanya tempat ini tidak asing...
"Ani Gorden....."
Kami membaca tulisan di toko itu.
"kalian pasti tahu tempat ini..."
"kau bilang ke tempat usaha yang kecil...., hei! Ini usaha konveksi terbesar di kabupaten ini!"
Kata Tasya.
Tapi...
Bagiku bukan cuma itu...
"kenapa my?"
Tanya Edi.
"kenapa?, INI TEMPAT NENEKKU DASAR KONYOL!!!!!!!"
Sejak melahirkan tante Nima...
Kata Ayah, nenek mulai menekuni bisnis menjahit.
Awalnya cuma menerima jahitan baju dari tetangga dan teman-temannya...
Terus berkembang selama puluhan tahun.
Ayah bilang kalau nenek adalah orang yang ambisius, ia tidak takut dengan segala konsekuensi yang bisa di dapatkan.
Sampai bisa mendirikan usaha konveksi dan menafkahi puluhan keluarga?
Aku saja tidak percaya kalau aku ini adalah cucunya.
"ne...nenek mu?!, lalu kenapa kau tidak bilang?!"
"andai aku tahu Alan akan membawa kita kesini ki...."
"aku juga tidak tahu, hanya saja ini tempat jahit langgananku jika mau membuat seragam sekolah, itu pemiliknya..."
Alan melirik ke arah nenek yang sedang menyirami tanaman hias.
"uh?, Army?"
Nenek melihatku!
"Assalamu'alaikum nek!"
Aku segera menghampiri nenek dan mencium tangannya.
"Wa'alaikumussalam, sudah pulang sekolah?"
"sudah nek... Hehe anu..., sebenarnya aku dan teman-temanku ada tugas kelompok untuk observasi, apa kami bisa di sini?"
"oh tentu, ayo masuk masuk...."
Nenek lalu mengajak kami masuk.
Di dalamnya sedang ramai pembeli yang mencari peralatan jahit, kain, bahkan sedang menunggu jahitan mereka selesai.
"he..hebat...., aku tidak tahu nenek bisa memimpin tempat sebesar ini"
"Alan?, sudah dua hari tidak masuk ada apa?"
Masuk?
Apa maksud nenek bertanya begitu ke Alan?!
"maaf bu, saya juga sedang sibuk belakangan ini"
Bu?!
"hei!, jangan-jangan kau kerja di sini!"
Kata Edi.
"dia tidak cerita?, ahh , Alan ini kerja paruh waktu sama nenek, nenek suka dengan anak muda yang mau bekerja keras seperti itu, tapi dengan syarat jangan sampai putus sekolah"
Ini aneh....
Alan kerja paruh waktu?
Benar-benar aneh...
Jelas-jelas Alan ini terlihat berasal dari keluarga berada.
Apa sebenarnya?
Apa mungkin masih ada rahasia lain yang Alan tutupi dari kami?
"maaf bu, lain kali saya akan mengatur waktu lebih baik"
"tidak perlu, kamu boleh masuk kapanpun kamu bisa, gajimu juga tidak akan nenek kurangi"
Baik sekali :3
Kami lalu masuk ke ruangan nenek.
Di dalam cuma ada sofa, dan beberapa alat-alat dapur sampai kompor.
"maaf ruangan nenek berantakan, kalian mau minum apa?"
"ehhh ti tidak usah nek, kami juga kesini cuma kau melakukan pengamatan lalu pulang"
Kata Rifki.
"hmm...."
Nenek tiba-tiba menatap Rifki.
"hahaha, anak yang manis..."
"ehehe terima kasih nek..., my, nenekmu bilang aku manis"
"cih, basa-basi"
Sekali lagi Alan berhasil membuat alis Rifki mengerut.
"oh iya nek!, nenek bisa sukses seperti ini hebat sekali!, aku benar-benar kagum!"
Ujar Tasya.
"karena itu...., kalian semua masih muda..., jangan pernah takut melangkah, dan lagi... Jangan takut dengan resiko"
"Resiko?"
Ucap Rifki dan Alan bersamaan.
.
.
.
.
****ABRI POV****
"Bri aku lupa bawa handuk!"
Sahut Fahmi dari dalam kamar mandi.
"oh"
"cuma oh!, ambilkan aku, aku tadi meletakkannya di atas meja tapi lupa membawanya masuk"
Hufff....
Aku lalu mengambil handuk itu dari atas meja dan langsung menyodorkannya ke Fahmi.
"aaaaaaa sialan!"
Fahmi malah menarikku juga masuk kedalam kamar mandi.
"kau mau apa lagi?!"
"ehehe, mandi wajib barusan kayaknya akan batal...."
Fak...
Sudah kuduga..
Serumah dengan makhluk cabul seperti ini hanya akan menimbulkan bencana.
"diam, kita baru selesai main saat kau baru pulang tugas, apa tidak ada waktu lain?, aku juga capek mengurus rumah....huffff cutiku yang indah"
"cutimu yang indah akan jauh lebih indah bunda..."
"JANGAN PANGGIL AKU BUNDA DASAR ORANG TUA!!!!!!!!!!!!!!!"
Bugh!
Aku memukul kepala Fahmi dengan botol shampo.
*****
Sepertinya mereka bahagia.
Jangan lupa vote :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Pluviophile (Sejenak#3)
RomanceHubungan yang kandas akibat kesalahpahaman. Dapatkah kembali bersemi? Hujan... sampaikanlah Isi Hatiku padanya.
