"ayah pikir kamu kenapa my...."
Ayah memasukkan kapas ke lubang hidungku.
"akhh, pelan-pelan yah..."
"lemah! Baru kapas saja kamu sudah merintih!"
Malah di bentak :')
"ehehe, apa karena.... Liat tubuhnya Aden my...."
Bisik papah.
"TI..TIDAK! TIDAK MAU AKU TIDAK MAU!!!!!! mataku!, mataku ternodai!, aku butuh Instu!"
"mi!"
Ayah membentak papah.
"hufff, Aden, ini bukan salahmu"
Kata ayah.
"aku bahkan tidak mengerti apapun yah, tapi Army baik-baik saja kan?"
Eh?
"hmm...., peduli sekali"
Pancingku.
Aku masih merasa sangat terganggu dengan sikap baiknya padaku saat di rumah.
Kemana semua itu saat di asrama nanti?, apa dia malu mengakui kalau aku dan dia ternyata bersaudara?
"Army, jangan begitu"
"ayah tidak tahu apa-apa, Aden bukan orang yang baik"
Ucapku ketus.
"maaf..."
Ucap Aden.
"maaf?, kau baru minta maaf?, selama di asrama apa yang kau lakukan?, bahkan menyapaku saja kau tidak pernah, membalas perkataanku saja cuma sebatas lirikan mata, apa itu baik menurutmu?!"
"Army!"
Ayah sekarang membentakku.
"sudah aku bilang ayah tidak tahu apa-apa!, apa karena ayah lebih menyayangi dia daripada aku?, ayah sampai terus-terusan membela anak yatim piatu ini!"
Bugh!
Tamparan keras langsung mendarat di pipiku.
Bukan dari ayah, tapi malah dari papah.
"jaga mulutmu Army!"
Teriak papah dengan lantang.
"papah?"
Aku tertunduk.
"papah sama saja...."
Aku segera bangkit dan masuk kedalam kamarku.
.
.
.
****ADEN POV****
"mi! Itu tadi keterlaluan!"
"bri, dia sudah kelewat batas, sampai mengatai Aden seperti itu!"
"pah, yah...., aku yang salah"
Ucapku.
Aku sadar...
Aku bukan anak kandung dari ayah, dan sejak kedatanganku ke rumah ini ayah jadi harus membagi kasih sayang untuk Army padaku.
"tidak, Army memang seperti itu, jangan di masukkan ke hati, ayah yang akan bicara padanya"
"tidak perlu yah, aku yang akan bicara secara langsung pada dia"
"kamu yak..."
Papah memegang pundak ayah.
"masalah saudara bri, biar Aden lakukan sendiri, kita ke kamar saja dulu"
Papah lalu masuk ke kamarnya bersama dengan ayah.
Aku sekarang masih terdiam di depan pintu kamar Army.
Mau bagaimanapun juga aku harus minta maaf padanya.
.
.
.
.
****ARMY POV****
Aku membuka mataku...
Sejak masuk ke kamar tadi aku langsung tidur.
Pikiranku begitu berat dengan semua masalah tadi.
"pukul 10?"
Ucapku saat melihat jam di dinding, ternyata lama juga aku ketiduran.
Akupun bangun dan hendak ke kamar mandi, namun saat keluar dari kamar aku menyadari sesuatu...
"Aden?"
Aku kembali menoleh ke ranjang, tidak ada Aden di atas ranjang atau bahkan di dalam kamarku.
Kemana dia?
Di kamar ayah juga tidak mungkin, mereka tidak akan muat bertiga!
Sampai aku melihat secarik kertas di atas meja ruang tamu...
"maaf yah, aku pamit"
Aku sontak mengambil jaket dan pergi diam-diam dari rumah.
"dasar serigala!!!!!, kenapa kau kabur dari rumah segala!?!"
Aku terus berlari tak tentu arah...
Lagipula aku tidak tahu kemana dia pergi!
Merepotkan sekali!!!!!!!!
"tunggu!, buat apa aku mencarinya?, toh dia juga tidak peduli denganku"
Akupun berbalik dan hendak pulang ke rumah.
Sampai...
Gerimis muncul...
Udara dingin kian berhembus.....
"tapi Army baik-baik saja kan?"
"bodoh!, hiks..."
Entah kenapa saat ini aku malah menangis.
"ke...kenapa kau pergi?, kau tidak tahu ayah akan sangat khawatir kalau kau pergi dari rumah?!"
Akupun kembali berlari, kali ini aku tahu kemana harus mencari.
.
.
.
Aku akhirnya sampai di depan gerbang rumah yang sangat besar.
Benar saja, lampu rumah itu menyala, artinya ada orang di dalamnya dan hanya Aden seorang yang punya akses masuk kedalam sana.
Itu karena ini adalah rumahnya.
"sial..., gerbangnya di gembok...., ADEN!!!!!!"
Sahutku, namun karena hujan yang mengguyur sudah kian deras sepertinya orang di dalam tidak akan bisa mendengarku.
Akupun memanjat pagar itu, namun saat tepat di atasnya...
"aduh..."
Kakiku tergelincir dan aku terjatuh.
"akhhh...., punggungku..."
Aku berusaha bangkit dan berjalan ke teras rumahnya.
"hachu!, ughhh sepertinya aku akan kena flu"
Tok tok tok
Aku mengetuk pintu.
*****
Di cari
Jangan lupa vote :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Pluviophile (Sejenak#3)
RomanceHubungan yang kandas akibat kesalahpahaman. Dapatkah kembali bersemi? Hujan... sampaikanlah Isi Hatiku padanya.
