99. Selesai

212 19 4
                                        

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Ciiiiiis!!!!!!!!

9 Bulan masa pendidikan akhirnya telah usai.
Sisa menjalani praktik di lapangan selama 3 bulan.

"Army Army Army!!!!!"
Sahut Rey dari kejauhan.
Terlihat ia bersama ayahnya, om Gusti.

"om!"
Aku berlari menghampiri mereka.
"om apa kabar?"
Tanyaku.

"baik, kamu selamat ya Army"
Om Gusti memberikan ucapan selamat padaku.

"oi kau!"
Papah juga menghampiri kami.

"oi!"
Papah dan om Gusti langsung berpelukan.
"lama tidak jumpa, kau sehat Fahmi?"

"sehat gus, selamat ya Rey"

"Fahmi, bisa bicara berdua?"
Om Gusti dan papah menjauh dari kami.

"Army, Aden mana?"
Tanya Rey.
Benar juga, dari tadi aku tidak melihat Aden dimanapun setelah upacara penutupan pendidikan kami.

"Army!!!!!!!!!"
Adwin dan Edwin berlari ke arahku dan langsung memelukku.
"Army selamat untuk kita!!!!!!"
Sahut mereka berdua, benar-benar aktif...

"oh iya, Aden tadi pulang duluan sama nenek sama om Aryo!"
Jelas Edwin.
Hah?
Aden pulang duluan?

"katanya...., dia mau langsung ke makam om Abri"
Sambung Adwin.

"APAAAAAAAA?!!!!!!!! TIDAK MENUNGGUKU?!, PAPAH MANA?!!! PAPAH AYO CEPAT!!!!!"

.
.
.

Sementara itu di area pemakaman...
Seorang pria berseragam Polisi berjalan menghampiri makam ayahnya dengan membawa bingkai foto serta buket bunga.

****ADEN POV****

"maaf yah, sudah beberapa bulan aku tidak mengunjungi ayah"
Aku menaburi bunga dari keranjang ke makam ayah, lalu menyiraminya dengan air.
"maaf, Aden akan janji untuk selalu menjenguk ayah mulai saat ini!, jadi..... Uh?"
Aku melihat rumput tumbuh di sekitar makam ayah.

Kebetulan aku melihat tukang bersih-bersih makam di situ.
"pe..permisi!"
Aku menghampirinya.
"maaf pak, celuritnya bisa saya pinjam?"

"kalau ada makam yang mau di bersihkan tunjuk saja, nanti saya bersihkan nak"

"ah tidak perlu pak, saya akan membersihkannya sendiri"
Bapak itu langsung dengan senang hati meminjamkan celuritnya padaku.

Akupun membersihkan rumput juga semua tanaman liar di sekitar makam ayah.
"nanti aku akan marahi papah, ini jelas-jelas papah tidak pernah mengunjungi ayah"
Gerutuku sembari terus memangkas dan membersihkan makam ayah.

Setelah bersih, aku mengembalikan celurit itu dulu.

Aku kemudian meletakkan potret ayah di nisannya, juga buket bunga yang tadi aku bawa.
"semua ini tidak akan bisa aku raih jika ayah dulu tidak merawatku, terima kasih yah..."

"OIII SERIGALA KAU...."

"Army! Ini pemakaman, jangan teriak begitu!"
Dari gerbang terlihat Army dan nenek.

Army langsung berlari ke arahku.
"hati-hati, nanti tersandung batu nisan"

"kau kenapa pergi tanpa bilang hah?!, mau cari muka di depan ayah?!"

"ssst..., jangan mengganggu ayah tidur"

"cih, dasar, lagipula bunga yang aku bawa lebih besar darimu! Wle!"

"kalau aku tidak kesini duluan..., kau juga tidak akan berpikiran untuk kesini"

"a..apaaa?!!!!"

"sudah sudah!, cucu nenek jangan bertengkar!, kalian mau ayah kalian marah?!"
Nenek yang tadinya cuma menunggu di luar pun datang dan menegur kami.

"tidak nek..."
Ucap kami bersamaan.

"ayo baca do'a, lalu kita pulang, nenek sudah masak untuk kalian di rumah"

.
.
.
.

Malamnya aku hanya berbaring di kamar sambil memeluk foto ayah.
Entah kenapa hari ini aku merasa lebih kehilangan di banding saat dia meninggal dulu?

"itu cuma foto, pemujaan yang berlebihan itu tidak sehat kau tahu?"
Kata Army yang kemudian ikut berbaring di sebelahku.

"diam, malam ini aku cuma mau merayakan kelulusanku bersama ayah"

"stres..., Aden Ayah sudah lama tiada dan sepertinya kau masih belum bisa mengikhlaskan ayah?"

Aku bangkit dan memukul kepalanya.
"aduih!, sakit sialan!"

"durhaka"

"uhhh, ku tanya nenek ya!, tidak kau... tidak kak Rio sama-sama menjengkelkan!"

"berisik..., aku mau tidur"

"tunggu dulu, tadi di luar papah memberikan sesuatu untuk kita, katanya hadiah perayaan atas kelulusan kita"
Hadiah?

****ARMY POV****

Aku juga sangat penasaran dengan bingkisan yang papah tadi berikan...
Semoga ipon!

Aku segera membuka bingkisan itu, dan isinyapun bikin kaget.
"apa isinya?"
Tanya Aden penasaran.

"uh bu..bukan apa-apa!, cuma hadiah kecil dan sepertinya ini tidak pantas untukmu"

"sini aku mau lihat dasar pelit!"
Aden berusaha merebut bingkisan itu dari tanganku.

"tidak!, kau tidak boleh melihatnya atau semu akan berakhir untukku!"

"kalau begitu itu bagus untukku!"
Aden berhasil mengambil bingkisan itu dari tanganku.

Habislah....
Malamku yang indah akan hancur sekarang.
"apa ini?"
Adenpun mengeluarkan isi bingkisannya...
Sekotak Kondom dan pelicin...

*****

Tidak akan ada adegan ++ di bagian selanjutnya, jadi jangan terlalu berharap ye...

Tapi jangan lupa vote ea :)

Pluviophile (Sejenak#3)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang