IBL #3 (83)

120 22 7
                                        


"Uhhh, ini aku beli dua ekor!"
Fahmi meletakkan plastik berisi daging ayam di atas meja.
"masak yang enak ya beb"

Aku segera menyiapkan bumbu yang akan di pakai untuk ayam tadi.
Kemiri....
Merica...
Bawang putih dan saudara tirinya...
Tomat.....
Asam jawa....
Dan lain-lain...

"beb, bumbu apa yang dari luar negeri?"
Bacotan Fahmi....

"diam, aku sedang sibuk"
Jawabku ketus.

"ehhh jawab dulu"

"huhhh apa?!"

"Merica!, karena dia dari A Merica!"
Ehh........

"oh iya, aku habis cek Army sama Aden di kamar, mereka akrab juga ya!"
Kata Fahmi.

"namanya juga teman..."
Aku mulai menghaluskan semua bumbu tadi dengan ulekan.

"hehe iya teman...., tapi... Aku lihat mereka lebih mirip saudara, apalagi saat bertengkar"

****FAHMI POV****

Aku kode saja...
Mungkin Abri akan paham maksudku.

"ha..hanya karena namanya sama, bukan berarti dia Aden yang itu mi"
Abri malah terdengar kesal menjawabnya.

"hmm... Maaf ya, dulu aku memisahkan kalian"
Ucapku.

"dia pasti bahagia sekarang"
Kata Abri.

"eh, aku sama Army keluar dulu ya!"

"mau kemana?!, sudah sore!, kau tidak lihat banyak pekerjaan di rumah hah?!!!!"

"ehh tenang, aku cuma mau mengantar Army mencari buku"

"buku apa?"

"entahlah, Army yang tahu, dah ya beb, sebelum Magrib kami pulang kok!"
Aku segera lari ke kamar Army dan membuka pintunya.

Di dalam nampak Army dan Aden tengah main kartu remi.
"Army ayo temani papah, eh?, kenapa wajahmu penuh bedak?"

"Kemana pah?!, aku tidak bisa!, aku harus mengalahkan orang ini dulu!"

Aku lalu masuk dan menarik Army keluar dari kamar.
"ikut saja!, kita hirup udara segar di luar!"

****ABRI POV****

Aku menghampiri Fahmi yang sedang sibuk menarik Army.
"sudahlah lain kali saja cari bukunya, bantu ayah di rumah!"

"ahhh tidak bisa bri, soalnya Army sudah mau pakai besok"
Jelas Fahmi.

"buku apa sih pah?!"

Plak!
Fahmi malah memukul punggung Army.
"sakit!"

"masa kamu lupa!, itu buku sangat penting!, sudah ayo cepat!"
Dan merekapun pergi.

Aku melihat kedalam kamar...
Ada Aden dengan ekspresi bingung dan terheran-heran.
"ehehehe maaf ya, keluarga kami memang agak aneh"

"ti..tidak apa-apa kok om"

Aku kembali ke dapur dan lanjut memasak masakanku yang tadi.
Selagi memasak...
Pikiran soal Aden kembali dan begitu menggangguku.
Aku harus memeriksanya!
Aku harus mencaritahu!
Aku harus membuktikannya!
Aku har....

"biar aku bantu om"
Aden tiba-tiba sudah ada di sampingku.

"ahhh tidak usah, kamu istirahat saja di kamar"

"tidak perlu om, aku juga masih sangat bersemangat"
Aden lalu mengambil pisau dan mulai mengupas wortel.

Kalau di liat-liat...
Dia cekatan juga...
Beda dengan Army yang sudah jadi anak Fahmi.
Pemalas!

Uh?
Ini kesempatan!

Aku mundur dua langkah...
Dan mencoba melihat di belakang telinga kanannya....
Jika ada tanda lahir di situ maka dia ini pasti....

"awh..."

"kenapa?"
Jari Aden terluka akibat pisau yang ia gunakan.
"hmm..., sini om lihat"

"ehh tidak perlu om, ini bukan apa-apa"

"jangan begitu, nanti kamu infeksi bisa bahaya!"
Aku langsung menggenggam tangannya dan mencoba melihat luka iris di jari telunjuknya.
"sebentar...."

Aku membuka kotak obat yang memang aku sediakan di dapur.
"basuh luka itu dengan air"

Aden menurut dan segera membasuh lukanya di wastafel.
Setelah itu aku kembali menghampirinya dengan membawa kapas yang sudah ku tetesi obat merah dan sebuah plaster.
"lain kali hati-hati"

"i...iya"

Akupun mengoleskan kapas itu pada lukanya.
"akhhh sa..sakit yah.."

"yah?"

"a..anu... ma..maaf om...., aku... Cuma teringat ayahku"

Jadi canggung rasanya.
"tahan ya, agak perih tapi pasti cepat sembuh"

Bismillah!
"Aden, bisa om bertanya?"
Aden mengangguk...
Baiklah, aku akan memberanikan diri.
"kamu...., kalau boleh om tahu apa kamu punya tanda lahir?"

"ta..tanda lahir?, umm... Aku punya satu di bela..."

"ADEN ITU SAUDARAKU?!!!!!!!"
Army tiba-tiba datang dan berteriak sangat keras.

Lalu Fahmi juga menyusul...
"sudah papah bilang dengar sampai selesai!"

****FAHMI POV****

Aku cuma menjelaskan sedikit tentang Aden pada Army di dalam mobil, dan begitu dia tahu Aden itu saudranya yang ia tahu sudah meninggal...
Dia langsung lari.

"mi...."
Sementara itu Abri menatapku dengan tatapan marah.
"apa lagi yang kau sembunyikan HAAAAAAAAHHHHHHHH?!!!!!!!!"

*****

Terungkap?

Jangan lupa vote :)

Pluviophile (Sejenak#3)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang