Fian & Aryo (68)

135 20 13
                                        

Para polisi langsung menarikku menjauh dari Fian.

"kau!!!!!! Lihat apa yang anakmu sudah lakukan!!!! Kalian berdua tidak ada bedanya!"

"Aryo, aku akan menghukum Indra"

"itu tidak cukup!, kau pikir setelah merenggut nyawa putraku ada hukuman yang pantas dia terima?!, tidak!, lihat saja.... Aku akan menuntut kalian berdua!"

"kak!"
Abri memelukku.
"sudah!, jangan marah-marah di depan Rio!"

Aku luluh...
Aku menoleh kebelakang, melihat Rio yang sudah di naikkan ke dalam ambulans.

"ayah akan menjemput kamu..."
Ucapku.

"maaf yo...., Aku akan memberikan apapun yang kau mau"

"penjara saja cukup, tangkap saja dia, aku tidak mau kau kehilangan putramu juga"

"Aryo...."
Saat hendak berbalik, Fian memegang tanganku.
"apapun kita di masa lalu...., maaf... Masalah kita sampai menurun ke anak kita"

Aku melepas tangannya dan pergi tanpa sepatah kata.

****ABRI POV****

"yah...."
Ucap Army dalam pelukku.

"kita susul kakakmu, kita kerumah sakit sekarang"

Tiba-tiba aku merasakan badan Army melemas di dalam pelukanku.
"Army?, heh kamu kenapa?!"
Perlahan matanya tertutup, aku mencoba membangunkannya namun tidak ada respon!
"Army! Army jangan tinggalkan ayah lagi Army! Bangun!"

"uhuk uhuk bri...."
Fahmi memegang pundakku.
"Army uhuk.. "

"mi kau batuk darah!"

"bawa Army ke uhuk rumah sakit, dia sudah meminum Racun, aku juga"

"harusnya kau bilang dari tadi!"

.
.
.

****INDRA POV****

"Sialan!, kalau tidak ketahuan om Fahmi pasti aku masih bisa selamat"

Tapi untuk sekarang...
Aku harus pergi jauh dari sini, kalau perlu aku harus meninggalkan provinsi ini.
Bodoh jadi buronan juga tidak apa, aku juga sudah muak hidup dengan polisi itu.

Bugh!

Pandanganku seketika kabur dan tubuhku langsung tersungkur di tanah setelah menerima pukulan tepat di kepala dari seseorang.
Perlahan pandanganku kembali...
Teman Army!
Alan....

"sialan! Sialan! Sialan! Sialan!!!!!!!"
Aku mengeluarkan pisau lipat dari sakuku dan segera bangkit untuk menyerangnya.

Sialnya dengan mudah dia menghindar dan menangkap tanganku.
Bugh!
Dia menggunakan lututnya untuk menyerang perutku.
Sakit sekali...
Kalau begini bisa habis riwayatku.

****ALAN POV****

Aku segera mendorong Indra ke tanah lagi.
Saat tersungkur, aku lalu menindih tubuhnya dan mengikat kaki serta tangannya.

"naif...."
Ucapku.

"aha...ahahaha..... Dasar homo! Makan cintamu sama Army sialan itu!"
Bugh!
Aku menendang wajahnya dengan keras.

"jangan bicara yang tidak-tidak dengan Army...., kau beruntung saja aku tidak membunuhmu"

"memang kau bisa hah?!, ayo bunuh saja! Hidupku juga sudah hancur!"

"kau tahu apa soal hidup yang hancur?"

Aku mengeluarkan hpku dan menghubungi Rifki untuk memberikan lokasiku sekarang.

.
.
.

Lalu di Rumah sakit....

****FIAN POV****

Aku menghampiri ruang otopsi....
Aku meminta izin pada perawat untuk masuk dan ikut memeriksa kondisi anak Aryo.

"bagaimana dok?"
Tanyaku.

"eh.... Sebenarnya....., begini pak, korban tidak sepenuhnya mati"

"jangan bertele-tele, langsung saja jelaskan pak dokter"

"bisa di bilang koma, saat mencabut pisau di perutnya dan memerika lukanya, nafas korban tiba-tiba kembali jadi kami segera memasang selang oksigen"

"tapi apa bisa selamat dok?"

"harusnya bisa.... Tapi kemungkinannya sekitar 3/97, itupun jika ada yang bersedia mendonorkan ginjal, soalnya ginjal korban juga rusak karena pisaunya terlalu dalam tertancap"
Jelas dokter.

"kalau begitu biar saya saja"

"maaf, bapak keluarga korban?"

"bukan, tapi ayahnya adalah orang yang penting bagi saya"

"pak, bukannya kami menolak, tapi...."

"kerjakan saja dan jangan beritahu siapapun, katakan saja kalau anak ini mengalami mati suri"

.
.
.

****ARYO POV****

Ruang tunggu rumah sakit....

Aku....
Aku harus bilang apa ke istriku?

"kak...."
Abri menggenggam tanganku.
"maaf kak..., karena Army... Rio jadi celaka"

Aku tertunduk...
"hm..., Rio itu peduli orangnya...., itu yang ibu ajarkan sama dia"

"harusnya aku tidak menuruti keinginan Army untuk bersekolah di sini"

"jangan menyalahkan dirimu bri, ini sudah takdir, Rio juga melakukan ini karena sayang dengan Army"

Seorang perawat menghampiri kami.
"keluarga pasien Rio?"
Tanya perawat itu.

"pasien?, eh? I..iya saya ayahnya sus, apa saya sudah boleh membawa anak saya pulang?"
Tanyaku penuh harap.

"pasien harus di rujuk ke rumah sakit lain pak"

"Rujuk?, maksud suster?"

"pasien masih hidup"

*****

Hore....

Jangan lupa vote :)

Pluviophile (Sejenak#3)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang