IBL #4 (84)

126 24 10
                                        

"bu..bukan begitu bri, aku mau kasih tahu tapi aku pikir mungkin bagus kalau ini ku jadikan kejutan untukmu"

Aku berusaha menjelaskan semuanya pada Abri.
Abri yang sekarang sudah naik pitam.

"a..aku...."
Sedangkan sekarang Aden tertunduk bingung.

Army yang marah juga mulai membuka mulut lagi..
"Aden saudaraku!, apa itu benar yah?!, selama ini ayah berbohong kalau saudaraku itu sudah meninggal?!, ayah kenapa tega menutupi ini se..."

"CUKUP!"
Air mata Abri berlinang.
"Aden..."
Abri menatap Aden dan langsung memeluknya.
"syukurlah...., kamu sudah pulang... Anakku..."

Aku langsung tersenyum dengan pembalikan keadaan yang sangat drastis ini.

"a..aku...., om.."

"ayah..., aku ayahmu"
Ucap Abri di sela tangis bahagianya.

"a..aku..., hiks.. Aku...."
Adenpun ikut menangis.
"ayah..., ayah kemana saja selama ini? Haaaaaaa....."
Tangisnya bahkan makin pecah.

"maafkan ayah..., ayah janji tidak akan membiarkan siapapun mengambilmu lagi"

"hiks.., hiks... Aku juga minta maaf"
Ucapku terhura.

"Aden saudaraku?, pantas aku sangat membencinya..."
Ucap Army yang nampak biasa saja.

.
.
.

Malamnya....

Kami berempat sibuk menata meja makan.
Di hari yang sangat berbahagia ini, kami mengadakan pesta keluarga kecil kami untuk merayakan kebahagiaan kami hari ini.
Semuanya sudah berkumpul.
Aku, Abri, Army dan Aden.

"ayah itu koki nomor satu!, aku belum pernah merasakan masakan terenak selain dari tangan ayah!"
Kata Army memuji ayahnya, Abri.

"kamu sepertinya senang mendapat saudara, jangan bertengkar lagi ya"
Kataku.

"hm!"
Army mengangguk.
"tapi dia tetap akan aku panggil Serigala"

"Army!, jangan panggil kakakmu dengan nama binatang begitu!"
Tegur Abri.

"aku tidak keberatan yah, lagipula selama Adikku nyaman juga aku tidak masalah"

****ARMY POV****

"aku tidak keberatan yah, lagipula selama Adikku nyaman juga aku tidak masalah"
A..Apa-apaan itu?!

"ta..tapi.... Aku... Aku... Akhhhhh"

"salting my?"
Tanya papah.
"kamu suka Aden ya?"
Bisik papah.

"PAHHHHHHHHHHH!!!!!!!"

"apa ini?!, jangan teriak-teriak di meja makan!"
Lagi-lagi ayah menegurku.

"hahaha"
Papah cuma tertawa melihatku.

"jangan marah adikku, ayo makan"
Aden mengambil sesendok nasi dan meletakkannya di piringku.

"ahh aku bisa sendiri!"

Papah kemudian berbisik lagi.
"hayo, baper ya? Hihihi"

"ayah..... Papah ini!!!!!!"
Aku langsung mengadu ke ayah, yang tak lain merupakan kelemahan terbesar papah.

"mi...., jangan ganggu Army terus"

"habisnya kalau kau yang di ganggu, kau langsung marah-marah"

"aku marah karena candaanmu tidak sesuai dengan usia om om mu itu!"

"pfffft!!!! Hahaha om om!"
Aku balik menertawai papah.

****ADEN POV****

Jadi begini keluargaku yang sebenarnya?
Cuma satu kata...
Aneh...

Benar...
Dua ayah, yang ku ketahui pasangan sesama jenis.
Namun, walaupun aneh tapi belum sehari aku di rumah ini...
Aku sudah merasakan kehangatan dari keluarga lagi, bahkan lebih dari yang dulu pernah aku rasakan.

Ayahku...
Om Fahmi...
Dan Adikku, sekaligus sainganku Army.

Aku sudah menemukan keluargaku.

"Aden"
Ayah menyebut namaku.

"iya yah?"

Ayah tersenyum..
"Army"

"iya yah?"
Balas Army yang sedari tadi sibuk di ganggui om Fahmi.

"malam ini kita tidur bertiga ya"
Kata Ayah.

"berempat!"
Kata om Fahmi dengan tegas.

"yang memisahkan Aden dariku tidak di anggap"

"yahhh beb..., boleh ya, aku kan juga mau rasain tidur sama anak-anak"
Kata om Fahmi.

Ayah lalu merangkulku.
"mereka bukan anak-anak lagi mi, mereka sudah besar sekarang"

.
.
.
.

Malam kian larut....
Setelah membersihkan diri, kami bersiap-siap untuk tidur.

"den, ayo masuk"
Ayah memanggilku masuk ke kamarnya.

Saat aku masuk, sudah ada Army yang terlelap di atas tempat tidur.
"Army tidur duluan, katanya sudah mengantuk dari tadi"
Jelas ayah.

"yah.., apa tidak apa-apa?, om Fahmi bagaimana?"
Tanyaku.

"Fahmi?, ahh tenang saja nanti juga betah nonton bola di sofa, MI JANGAN BERISIK!"
Sahut ayah pada om Fahmi yang sedang nonton tv di ruang tamu.

"ajib!"
Om Fahmi mengangkat jempolnya.

Aku dan ayahpun naik ke atas ranjang.
Ayah berada di tengah, sedangkan aku dan Army berbaring di sebelahnya.
"haha.., jadi ingat saat kalian dulu masih kecil"
Ayah tertawa kecil.

"yah!, aku boleh tahu?, bagaimana ayah dulu merawatku?"
Tanyaku penasaran.

"hmm..."
Ayah memejamkan matanya dan tersenyum.
"walau cuma seminggu, tapi ayah sudah sangat sakit saat berpisah dengan kamu"

*****

Brondong :v

Jangan lupa vote :)

Pluviophile (Sejenak#3)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang