.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Fian...."
Sapa Aryo.
"hmm...."
Fian berbalik mendengar sapaan dari Aryo.
Pertamakali bertemu kala masih SMA....
Semua ini bukan soal pertemuan, tapi bagaimana semuanya berubah dan menjadi seperti yang kalian tahu.
.
.
.
Balutan seragam putih abu-abu...
Dua pemuda tengah duduk di kantin, yang satu sedang makan, dan satu lagi sedang sibuk membaca buku.
"kita masih kelas 2, kau sudah semangat belajar..."
Ucap Fian.
"aku harus bisa sukses!, aku punya keluarga yang harus aku bahagiakan!"
Aryo adalah pemuda yang ambisius dan sangat menyayangi keluarganya.
Walaupun keluarganya yang sekarang bukanlah kandung, tapi justru Aryo ingin berterima kasih pada seorang Tentara yang sudah mengeluarkannya dari penjara kehidupan yang dulu mengurungnya.
Fian hanya tidak mengerti...
Masa lalu Aryo seperti apa.
Yang Fian ketahui adalah Aryo adalah orang yang baik, dan yang terpenting cara pandangnya pada Aryo berbeda dengan orang lain.
"yo..."
"hm.....?"
"kau pernah dengar laki-laki menyukai laki-laki juga?"
Aryo yang tadi sibuk dengan bukunya langsung menatap Fian.
Cukup lama mereka terhanyut dalam diam....
"oi!!!!!"
Said, teman sekelas Aryo datang dan membuyarkan lamunan mereka berdua.
Entah itu di sebut lamunan....
Atau saling mengagumi.
Tak ada yang sadar dan tahu bahwa mereka terikat benang merah sejak bertemu, namun mereka juga terus berjalan ke arah yang berbeda.
.
.
.
.
"ini....."
Suatu ketika, Saat Fian tengah demam tinggi, Aryo menjenguknya di rumahnya.
Kriiik....
Suara nyaring dari ranjang kayu saat Aryo duduk di tepi tempat tidur sahabatnya itu.
"sudah 3 hari kau sakit, bangun... Jangan mati!"
"aku cuma demam...., kau sendiri masih jam sekolah sudah kesini?"
"guru ada rapat, daripada bosan di rumah, lebih baik aku menjengukmu..."
Aryo berdiri.
"tapi kalau kau tidak mau ya sudah"
"aku cuma main-main, duduk lagi... Aku kesepian"
"hahaha, oh iya aku membawakanmu sesuatu!"
Aryo mengeluarkan sekelopak bunga Anggrek dari dalam saku seragam SMA nya.
"hehe, punya ibuku, aku harap kau bisa segera baikan"
Wajah Fian saat itu datar...
Tanpa ekspresi bagaikan orang kebingungan.
Namun dalam hatinya, dia bagai seseorang yang baru menang undian.
.
.
.
.
Seringkali hati berusaha kuat untuk membohongi diri sendiri.
Itulah Aryo....
"aku suka padamu!"
Ungkapan isi hati Fian di dalam kelas itu langsung menggema ke hati Aryo.
Kelas sepi yang hanya berisi mereka berdua, menjadi saksi putusnya benang merah yang sudah terjalin itu.
"gila! Kau laki-laki! Aku juga!"
"tapi aku menyukaimu yo..."
Fian segera maju hingga Aryo terjebak di antara tembok dan tubuh Fian di hadapannya.
"aku menyukaimu....."
"tidak!, kau sudah gila!"
Aryo yang emosi kala itu langsung menghajar wajah Fian hingga hidungnya mengeluarkan darah.
Fian tetap kokoh....
Aryopun menendang perut Fian hingga ia tersungkur di lantai.
Melihat itu, Aryo segera mengambil tasnya dan pulang ke rumah.
"kenapa...., kenapa?!!!! Kenapa?!!!!!"
Fian....
Sejak saat itu semua sudah berubah.
Tidak ada lagi tegur sapa di antar Fian dan Aryo.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****RIO POV****
Apa semua itu benar....
Ayahku sendiri... Dan Ayah Indra, apa semua yang ku saksikan itu benar?
Mataku terbuka perlahan....
Silaunya cahaya matahari di jendela langsung menusuk mataku.
Aku melihat ke segala arah...
Mataku tertuju pada bagian atas meja.
Sebuah vas kaca di isi bunga Anggrek yang sama di dalam mimpi barusan.
Kriiiik...
Seseorang memasuki kamar...
"ayah?"
Namun bukan ayah.
Yang masuk adalah ayahnya Indra, om Fian.
"bagaimana kondisimu?"
Tanyanya padaku.
"mana ayahku?"
"ayahmu sedang sholat di Mushollah, saya kesini hanya ingin melihat, kamu sudah sadar atau belum"
Melihat wajah om Fian...
Aku terus terbayang mimpi barusan.
"maafkan ayahku..."
Ucapku.
Om Fian hanya diam..
Tapi dia tiba-tiba tersenyum dan menggenggam tanganku dengan kuat.
"kamu tahu?"
Aku mengangguk...
"semuanya..."
"Ayahmu menyayangi keluarganya, dia memang tidak pantas meminta maaf padaku, atau bahkan kamu yang minta maaf"
"tapi ayahku sudah menolak anda dengan kasar"
"semua itu wajar...., harusnya saya yang minta maaf pada kalian, untuk ucapan saya ke ayahmu... Dan untuk Ginjal kamu yang sudah rusak"
Ginjalku...
Aku langsung menyentuh bagian perutku.
Sebuah gulungan perban..
Apa benar Ginjalku sudah rusak?!
Tiba-tiba om Fian melepas kancing kemejanya.
Lalu memperlihatkan perutnya...
Perutnya yang juga terperban.
"Permintaan maaf saya...., jaga baik-baik"
*****
Begitu ceritanya...
Jangan lupa vote :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Pluviophile (Sejenak#3)
RomanceHubungan yang kandas akibat kesalahpahaman. Dapatkah kembali bersemi? Hujan... sampaikanlah Isi Hatiku padanya.
