Tenteram (44)

132 16 3
                                        

.
.
.
.

5 hari kenudian.

"KURANG AJAR!!!! KAU MAU MEMENJARAKAN ISTRIMU SENDIRI! MANA HARGA DIRIMU SEBAGAI SUAMINYA?!"
Dari awal persidangan, ibu dari Dila terus menerus memakiku.

"diam! Anakmu itu yang pelacur!"
Ibu juga sekarang sudah berpihak padaku.

Saat ini persidangan kasus perselingkuhan ini masih di laksanakan.

Aku juga sudah mengajukan gugatan cerai beberapa hari yang lalu.

Dila, selingkuhannya dan keluarganya juga tidak bisa berkoar-koar di persidangan ini setelah aku menunjukkan bukti video yang aku rekam sendiri malam itu.

.
.

Setelah persidangan selesai...
Dila dan selingkuhannya terbukti bersalah dan mereka di jatuhi hukuman 4 tahun penjara.

Aku keluar dari pengadilan dengan hati yang sangat tenang.

"kamu jadi seperti ini karena ayah sama ibu"
Orang tuaku menemuiku di parkiran.

"hehe, tidak apa-apa yah"

"kamu sampai menduda nak karena pilihan kami yang salah"
Ucap ibu yang sekarang sudah menangis lagi.

Aku menyeka air mata di pipinya...
"aku yang minta maaf bu, ibu sudah berusaha untukku"

"jadi... Bagaimana selanjutnya?"
Tanya Ayah.

"aku...., akan kembali bertugas di Sidrap"
Kataku.

"kamu mau pergi lagi?"
Tanya ibu cemas.

"aku hanya merasa lebih nyaman saja di sana bu, dan mungkin saja aku bisa menemukan jodoh yang lebih baik di sana"

"bukan karena Abri masih di sana kan?"
Yah...
Ibu berhasil menebak.

"ehehehe ma...mana mungkinlah bu"

"hufff... Mi, Abri itu sudah berkeluarga, jadi jangan pernah mengganggu mereka lagi"

"tidak kok yah, aku dan dia kan juga sudah putus"

"ya sudah, ayo pulang kalau begitu"
Ajak ibu.

.
.
.
.

****ABRI POV****

"kita mau kemana pah?"
Tanya Yusni.

"sampai..."
Aku menghentikan mobil di sebuah toko.

Yusni melihat keluar dari jendela mobil.
"toko kebutuhan bayi?, bukannya terlalu cepat yah?"

"tidak ada salahnya kan antisisapi?"

"antisipasi... Ehehe"

"ya sudah ayo turun, kita cari perlengkapan buat kakak"

"kakak?"

"nanti adeknya bakal nyusul"

"papah ih....."

"sudah ayo turun hehe...., habis ini kita cek kandungan ya"

.
.
.

Kemudian di rumah sakit....

"jadi pak Abri jangan sampai bu Yusninya terlalu capek, sering makan makanan bergizi dan berserat, dan juga jangan sampai bu Yusni makan kacang-kacangan dulu"
Jelas bu dokter.

"kenapa bu?"

"soalnya bu Yusni ini ada riwayat alergi kacang-kacangan, takutnya kalau kambuh bisa berpengaruh ke kandungannya"

.
.
.

Kemudian lagi....

Rumah...

Aku langsung menyingkirkan semua kacang-kacangan yang ada di rumah.
Kacang tanah...
Kacang panjang....
Kacang hijau...
Semuanya aku singkirkan.

"pah....hehe tidak perlu sampai begini"

"pokoknya kakak harus sehat sampai lahir!, uh..."
Aku berjongkok dan menempelkan telingaku pada perut Yusni.
"kak..., kalau ibumu macam-macam bilang sama ayah ya, nanti ayah marahin"

"papah bisa saja....."

"mulai sekarang ayah yang akan urus semuanya, cuci piring, masak, nyuci baju"

"tapi papah kerja di kantor!"
Bentak Yusni.

"kamu duduk saja, nonton tipi, makan, ah! Kalau perlu ikut senam ibu hamil!"

"papah tidak perlu ih"

"perlu yank....."

"ahh tidak usah..... Ughh"

"kenapa?"

"pu..pusing..."

"si...sini, kita ke kamar"
Aku lalu menuntunnya masuk ke kamar dengan hati-hati.

.
.
.
.
.

****FAHMI POV****

Tiga hari berlalu...
Aku telah mendapat izin untuk kembali di tugaskan di Polres Sidrap.

Kali ini...
Di sini aku tidak ngontrak lagi, tapi sekarang aku sudah membeli rumah pribadi.
Cukup besar dan luas dari hasil tabunganku selama ini.

Namun...

Kriiiiik.....
Saat membuka pintu, yang kurasakan hanya kehampaan.

Tapi aku sudah memutuskan.
Seumur hidup aku hanya ingin fokus bekerja!
Aku tidak akan pernah memulai rumah tangga lagi!

"saya pikir siapa tetangga baru ini..."

Aku langsung menoleh ke rumah di sebelah rumahku.
Isman?!

Dia tersenyum dan melambaikan tangan padaku.

Aku hanya membalas senyumanya dan segera masuk kedalam rumah.

Dunia memang tak selebar daun kelor....

.
.
.
.
.

****ABRI POV****

Hari demi hari...
Minggu demi Minggu...
Dan sudah berlalu 5 bulan tak terasa.

"Assalamu'alaikum"
Ucapku saat memasuki rumah sepulang dari dinas.

"Wa'alaikumussalam pah..."
Yusni tiba-tiba berlari dan memelukku.

"ehehe apa ini?"
Tanyaku.

"tutup mata dulu"
Pintanya.
Akupun menurut dan langsung memejamkan mataku.
Terasa pelukannya terlepas dariku.
"buka sekarang..."

Dan begitu aku membuka mata...
Aku melihat foto?
Yang tengah di pegang oleh Yusni.
"ehehe foto apa ini?"

"tebak apa?"

"foto apa?"
Tanyaku menggoda.

"hihi... Laki-laki pah..."
Seketika aku memeluknya dengan erat.
"makasih mah, makasih! Makasih! Makasih banyak!!!!!!, kamu sudah berkali-kali bikin papah bahagia"

"dan papah juga...."

"jadi anak kita namanya siapa?"
Tanyaku.

"kamu ayahnya...., jadi.... Yus percayakan namanya sama papah"

"hmm..., Army?"

"Army?, Army bukan kependekan Abri Fahmy kan?"

"ehhh sembarangan...."
Aku mencubit hidungnya.

"hmm, bagus... Yus suka, terdengar berani...."

Aku menempelkan telingaku di perut istriku yang mulai membesar itu.
"Army...., mulai sekarang jangan banyak gerak dulu ya, nanti ibumu kesusahan..."

*****

Army = Abri Fahmy

Or...

Army fens bi ti es, eh!, bi ti es apa Ekso? :v
Sorry author ga ngikut budaya koryah

Jangan lupa vote :)

Pluviophile (Sejenak#3)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang