Hujan di Jendela #2 (06)

332 31 15
                                        

Aku menatap mata yang berkaca-kaca itu.
Kak Isman yang hanya ku tahu menyukaiku kini benar-benar mengungkapkan isi hatinya padaku.

"Kak.... Aku tidak bermaksud begitu...."

"Saya mengerti...., saya mengerti kalau kamu memang tidak di ciptakan untuk saya.."

Aku memegang tangan kak Isman yang masih menyentuh pipiku.
Aku kemudian memeluk tubuhnya.
"Maafkan aku kak....."

.
.
.

****FAHMI POV****

Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela.
Uap air akibat suhu dingin merembes memasuki bagian dalam jendela.

Hujan masih konser di luar sana....
Jika memang hujan ini turun di mana saja...
Aku ingin dia menyampaikan maafku padanya.
Dia yang ku hianati...
Dia yang ku cintai....
Dia yang ku sakiti...
Dia yang ku sayangi..
Dan dia yang kini entah dimana rimbanya.

Sekali lagi...
Namaku Fahmi.
Muh. Fahmi D
Bukan Will of D dari anime One Piece, tapi itu singkatan dari nama ayahku.

Usiaku kini sudah mencapai 20 tahun.
Lulus pendidikan Kepolisian di usia 18 memang mungkin adalah suatu prestasi yang membanggakan.
Namun nyatanya...
Itu semua bukan keinginanku.
Aku hanya ingin menikmati hidup tanpa harus pusing memikirkan berkas, laporan, kasus, masalah, atau soal politik.
Aku hanya mengikuti keinginan orang tuaku, yang mana sampai sekarang aku masih harus tinggal se atap dengan mereka.

Mungkin kalian sudah membaca sebelumnya.
Aku adalah Fahmi yang jatuh cinta pada seorang teman SMA ku, Abri.
Sekarang aku terpisah dengannya.
Entah dimana dia di tugaskan.
Yang aku tahu, kini dia menjadi seorang penjaga tahanan di sebuah lapas yang aku juga tidak tahu lokasinya ada di mana.

Kenapa tidak ku hubungi saja?
Aku tidak punya nomornya.
Abri benar-benar menghindar dariku, bahkan tidak ada kontaknya dalam Grub alumni atau bahkan Grub angkatan PMR.
Sosial media?, itu juga, semua hasil pencarian bernama Abri Syam tidak di temukan dalam pencarianku, seperti dia memblokir akunku.

Aku tahu...
Aku sangat bodoh mengikuti Fian dulu, sampai aku harus rela membuang masa indah bersama Abri.

"Fahmi, makan dulu..."

"Iya bu...."

Aku hanya bisa menatap keluar jendela.
Saat ini sedang hujan...
Aku jadi teringat kenangan masa SMA dulu.
Saat kami berduaan di perpustakaan.
Dimana Abri menyenderkan kepalanya di bahuku dan bertanya...
"Kau mau tahu dua hal yang paling kusukai?"

"Aku!"
Saat itu dengan percaya diri aku langsung menjawab demikian dan Abri sontak tertawa.
"Haha, sombong...."

"Memang salah?"
Tanyaku.

Abri menggelengkan kepalanya dan berkata...
"Tidak...., yang kusukai adalah hujan... Dan dirimu"

Sungguh memori yang sangat indah.
Aku sangat penasaran, apakah kini Abri juga menatap langit yang sama ini?

.
.
.

****ABRI POV****

"Nih"
Kak Isman memberikan handuk padaku dari ruang perawatan.

Aku menerima handuk itu dan mengeringkan tubuhku.

"Bajumu basah, kebetulan hari ini saya bawa baju treaning, kamu bisa pakai"
Kak Isman meletakkan baju dan celana yang terlipat rapih di atas meja.

"te...terima kasih....."
Ucapku tertunduk.

"Sana pakai cepat, tidak baik malam-malam begini pakai baju basah begitu"

Aku segera pergi ke kamar mandi untuk mengganti seragamku yang basah dengan baju dari kak Isman tadi.

Setelah beres, aku keluar dari kamar mandi sambil membawa seragamku yang basah tadi.
Kak Isman ternyata ada di luar kamar mandi dan menungguku.
"Maaf soal yang tadi, mungkin saya kurang sopan berteriak begi..."

"Aku yang harusnya minta maaf"
Aku masih tidak berani menatap langsung matanya.
Aku segera kembali ke pos jagaku dan memasukkan seragamku tadi kedalam tas.
Aku lalu duduk di meja dan kembali menyalakan rokok.

"Merokok lagi?, tadi sudah habis sebatang"
Kak Isman kembali menghampiriku dan langsung menegurku.
Dia lalu duduk di depanku dan terus memandangiku.
"Hei, lihat saya...."

Aku masih memalingkan wajah darinya.
Bukan marah...
Tapi masih malu dengan kak Isman itu.

Jdaaar!!!!!
Petir menggelegar di luar sana.
Lorong yang sunyi...
Lampu remang-remang...
Dan juga para tahanan yang sudah senyap tertidur.

Kak Isman tiba-tiba bangkit dan pergi meninggalkanku.

Memang benar...
Seperti kata orang, seseorang lama-kelamaan akan merasa bosan jika dia tidak di hargai begitu.

Maaf kak....

*****

Author positif covid :'(

Jangan lupa vote biar imun author meningkat dan bisa nulis lagi ;')

Pluviophile (Sejenak#3)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang