Meow....
Nici masuk ke kamar dan terus bermanja-manja di kaki ku.
"ulululu tayang rindu ya sama kakak?"
Aku kembali menggendongnya di buaianku.
"sepertinya dia sangat suka padamu"
Kata Aden.
"dia ini sudah ku anggap saudaraku"
"aku tahu....., sama-sama anak tunggal pasti kita saling..."
Aku langsung memotong perkataannya dan berkata kalau....
"aku dulu punya saudara"
Aku kemudian duduk di lantai sambil tetap menggendong kucingku.
Aden ikut duduk dan mulai ikut mengelus kucing Nici.
"saat aku kecil...., aku selalu mendengar suaranya di sebelahku, kami sama-sama masih bayi"
Jelasku.
"lalu?, mana dia?"
Tanya Aden antusias.
"hm...., kata ayah..... Kakak ku itu sudah meninggal dunia"
Tapi....
Aku bisa ingat dengan jelas...
Saat aku kecil dulu, saat kulit kami yang masih sangat rapuh bersentuhan...
Aku bisa merasakannya.
Seorang saudara.
"maaf ya"
Ucap Aden.
"tidak apa-apa, lagipula aku juga tidak pernah melihat wajahnya, sama seperti ibuku...., ibuku meninggal dunia saat melahirkanku"
Tiba-tiba aden merangkulku...
"kasihan"
"ehh apa ini?, kau jadi protagonis sekarang?"
"memangnya tidak boleh aku merasa simpati padamu?"
"aku tidak butuh simpati dari siapapun".
.
.
.
.
****FAHMI POV****
"yang beeeeb"
Aku memeluk Abri dari belakang.
"lepaskan atau matamu ku siram detergen!"
"uhh jangan galak-galak beb, nanti di dengar anak-anak"
"sudah mi lepas.... Percuma kau berbuat romantis!, kita juga sekarang sudah bukan karakter utama"
"eh? Masa?, tapi kau yang utama di hatiku"
"awhhhh bacod...., cuci sayur yang ada di kulkas!"
"iya iya bawel..."
"apa?!"
Aku segera melepaskan pelukanku dan mengambil sayuran yang ada di kulkas untuk di cuci.
"beb, nanti malam siap gempur kan?"
Tanyaku nakal.
"bodo!"
"aku mau coba produk baru beb, baru sampai tadi siang, minyak taring Buaya, khasiatnya menambah ukuran dan stami..."
BUGH!
"ADUH!"
Kepalaku malah di geprek botol detergen.
"sakit beb.... Ih berdarah lho"
"BODO AMAT DASAR OM-OM MESUM!"
"ehehe sok sok nolak, nanti juga minta tambah"
.
.
****ARMY POV****
"KAU BILANG APA HAH?! DASAR OM-OM!, KAU YANG SELALU MENYIKSAKU!, TIAP MALAM!, KAU PIKIR AKU TIDAK CAPEK HAH?!"
"om Fahmi tidak apa-apa?"
Tanya Aden padaku.
"ahh tidak apa-apa, mereka sudah biasa begitu, eh itu kau turun atau tidak?!"
Aden lalu menurunkan kartu 9 sekop untuk menangkis 6 sekop yang tadi aku turunkan.
.
.
****FAHMI POV****
"ya sudah maaf bri, nanti malam dua ronde juga tidak apa-apa, jadikan saja hukuman"
"hum!"
Abri cuma berbalik dan lanjut dengan cuciannya di mesin cuci.
Aku juga lanjut mencuci sayuran di wastafel.
Jujur sebenarnya aku agak bingung sekarang.
Apa aku harus kasih tahu Abri soal Aden?
Atau biarkan dia tahu sendiri.
Cuma sekarang Aden juga tidak tahu kalau Abri itu orang yang sangat ingin ia temui.
"mi..."
Abri mendekatiku dan memeluk tubuhku.
"hm?"
"mi..., anu... Aku......"
Tangan Abri mulai nakal menjamah setiap inci dari tubuhku...
Leher...
Turun ke dada....
Perut...
Dan....
Uhhhh gawat!
"yey dapat dompet!"
Abri langsung mengambil dompetku dari sakuku.
"bri jangan....."
Ucapku memohon.
"diam!, gajiku sudah habis untuk urus Sim dan bayar pajak, sana keluar beli ayam!"
Padahal uang yang ia berikan juga dari dompetku...
Uhhh...
Untung sayang.
.
.
.
.
****ARMY POV****
"nih!"
Aden mengolesi bedak basah di pipiku karena aku kalah main kartu dengannya.
"akhhhhh lihat saja!, aku akan mengalahkanmu!, ayo kocok!"
"kocok nih?"
"kartunya!, kau ternyata punya sisi 18+ juga ya?"
Aden meraih kartu-kartu itu dan mulai mengocoknya.
"kalau tidak mesum, manusia tidak akan bisa lahir kau mengerti?"
Konsep dari mana itu?!
Eh?
Tapi kalau di pikir-pikir benar juga sih :v
.
.
****ABRI POV****
Aku mengeluarkan semua pakaian yang sudah tercuci tadi dari mesin cuci, dan memasukkannya ke mesin pengering.
Aku masih kepikiran...
Soal Aden...
Entah kenapa aku merasa tidak asing dengannya.
Tapi...
Mana mungkin dia Aden yang itu.
Aden yang dulu aku rawat sekarang sudah pasti punya nama lain dari orang tua angkatnya.
Tapi....
Aku juga masih penasaran soalnya aku punya firasat!
Baiklah!
Aku akan cari tahu, kalau dia benar Aden anakku, pasti dia punya tanda lahir di belakang teling kanannya!
*****
Jangan lupa vote :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Pluviophile (Sejenak#3)
RomansaHubungan yang kandas akibat kesalahpahaman. Dapatkah kembali bersemi? Hujan... sampaikanlah Isi Hatiku padanya.
