Kemudian di Panti....
"ehehe maaf mi, tapi tadi sewaktu kami baru saja datang... Ada keluarga yang langsung mengadopsi bayi itu"
"WAAAAAAAAAAAAN!!!!!!!!!!!!"
"ta..tapi lihat sisi baiknya mi, Bayi itu di adopsi oleh seorang Kapten tentara, hidupnya pasti akan terjamin"
"Yuli benar, apalagi keluarga itu sudah 6 tahun menikah tapi belum punya anak"
"uhhhh kalian berdua... Bukan itu masalahnya!"
Masalahnya adalah Abri dan Army.
"dengar, Abri membutuhkan bayi itu untuk menjadi saudara dari anaknya"
"eh?, aku tiba-tiba merasa bersalah"
Yuli tertunduk.
"kalau begitu kita adopsikan saja dia bayi yang lain dari sini"
Usul Wandi.
Tapi...
"tapi apa Abri mau?, dia sudah seminggu mengurus bayi itu dan pasti dia sudah menganggap bayi itu sebagai anaknya sendiri"
Wandi terlihat sedikit berpikir.
"ka...kalau begitu...., sepertinya kita harus...."
.
.
.
"kami minta maaf"
Ucap kami bertiga di hadapan Abri.
"hufdfff... Sudahlah...., aku juga minta maaf karena terlalu memaksa"
Sepertinya Abri sudah bisa mengerti.
"tapi kami punya sesuatu untukmu!"
Kata Wandi.
"ini idenya Fahmi lho bri, agar Army kecil tidak kesepian... Fahmi memberikanmu ini"
Aku langsung mengangkat sebuah kandang peliharaan.
Isinya adalah seekor anak kucing putih.
"bukankah ini bagus?!"
Tanya Yuli pada Abri.
"ayo masuk"
Hanya itu yang Abri ucapkan.
Sangat datar...
Sepertinya aku salah.
Abri akan kesulitan melupakan bayi itu.
Kami bertiga masuk ke rumah Abri.
Aku langsung mengeluarkan anak kucing itu dari kandangnya dan meletakkannya di samping Army kecil yang tertidur lelap.
Kucing itu langsung ikut mendengkur...
Tenang rasanya....
"maaf..."
Abri memelukku dari belakang.
"hiks..aku...aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku dan Army"
Aku tersenyum.
"tidak akan..."
______________________________________
Tamat....
Army kini sudah Tamat SMP :v
****ABRI POV****
"ayah?"
Army menghampiriku di ruang tamu.
"hmm?"
"ayah!, ingat hari ini tanggal berapa?"
Tanya Army.
"tanggal 9 September, oh iya ayah lupa!"
"nah kan ayah suka lupa"
"iya maaf ya, hari ini Jadwal kita mandikan Nici!"
"AYAAAAAAAAAAAAH!!!!!!"
"hahaha iya iya, selamat ulang tahun ya sayang, ayah cuma bercanda, mana mungkin ayah lupa sama tanggal lahir jagoan ayah ini?"
Aku memeluk Army.
"Assalamu'alaikum"
"papah Fahmi!"
Army dengan sangat girang langsung berlari ke pintu dan membukakan pintu untuk Fahmi.
Papah?
Saking dekatnya, Army juga sudah menganggap Fahmi sebagai ayahnya.
"selamat datang!"
Ucap Army sembari membukakan pintu untuk makhluk itu.
"hei, jagoan om sudah tambah tua hari ini"
Fahmi mengusap kepala Army.
"ini om belikan kesukaan kamu"
"mi....."
Aku menatap sinis ke arah mereka.
"ehehe, jangan di perlihatkan ke ayahmu, sana ke kamar"
Army langsung membawa paper bag yang Fahmi berikan tadi ke dalam kamarnya.
"ARMY JANGAN KEBANYAKAN!"
Teriakku.
"sudahlah, dia bukan anak kecil lagi"
Fahmi menghampiriku dan langsung mencium bibirku.
"akhhh, bisa kau tidak lakukan ini saat Army ada di rumah?!"
Aku takutnya Army jadi mencontoh kekonyolan ini.
"itu alasannya aku suruh dia tadi masuk ke kamar"
"hmm..."
"ei jangan marah, ini aku juga beli untukmu"
"ahaha makasih beb...."
"ingat umur!"
"bercanda, tau saja"
Aku langsung mengambil isi dari paper bag itu.
"kalian berdua ini, sama-sama suka martabak ya?"
"ini itu bukan hanya martabak, tapi Dufan dalam bentuk makanan"
"seperti kau pernah ke Dufan saja"
"Dufan itu kepanjangannya apa?"
"Dunia Fantasi?"
"nah, dengan makan ini...."
Aku langsung memakan sepotong martabak itu.
"Fantasiku langsung meledak"
"ehehe Fantasi apa ini?"
"Yang jelas bukan Fantasi kotormu, dasar om om"
"heii kau sendiri juga umurmu sudah tua"
"38, kau? 40? Hahahahahahahahaha"
"uhhh sini, biar ku tunjukkan goyangan om om itu bagaimana"
Fahmi langsung menarikku masuk kedalam kamar.
.
.
.
.
****ARMY POV****
"Selamat ulang tahun sayang"
Isi pesan singkat dari pacarku.
Kenapa?
Tidak boleh?
Memangnya aku tidak tahu hubungan ayah dan papah Fahmi?
Kalau mereka boleh, ya aku juga boleh.
"Kak Indra, aku nanti mau lanjut di SMA kakak ya"
Lama menunggu balasan...
Akhirnya balasanpun muncul.
"kenapa?, jauh lho"
"tidak apa-apa, aku nanti bisa tinggal di rumah nenek"
"oh iya"
"kampung ayah kamu kan?"
"hehe iya kak, sekalian biar kita tambah dekat dan bisa ketemu langsung"
Yap.
Aku dan kak Indra belum pernah bertemu.
Kami hanya berkenalan lewat Facebook.
Umurnya juga lebih tua dariku.
Aku 15, dan kak Indra ini sudah 17, dia juga sekarang sudah kelas 2 SMA.
Setelah aku cari tahu...
SMA tempat kak Indra ini adalah SMA ayah dan papah Fahmi juga dulu.
Ini kesempatan yang bagus.
Aku bisa dengan mudah membujuk mereka agar aku bisa lanjut SMA di sana.
"ahhhhhhh"
Papah Fahmi gema nya sampai sini >:(
*****
Om om wkwkwkwk
Jangan lupa vote 😂
KAMU SEDANG MEMBACA
Pluviophile (Sejenak#3)
RomanceHubungan yang kandas akibat kesalahpahaman. Dapatkah kembali bersemi? Hujan... sampaikanlah Isi Hatiku padanya.
