"hahahaha hebat sekali, kamu sekamar dengan Rey dan Teo?!"
"eh?!, pa..papah kenal mereka?"
Tanyaku kaget.
"ah, kalian sepertinya tidak pernah saling ketemu, jadi begini... Teo anak teman papah dulu, Ivan"
"EHHHH KAU ANAKNYA OM IVAN?!!!!"
Aku dan Rei sontak kaget.
"dan Rey ini anak teman papah juga, Gusti"
"EHHHHH KAU ANAKNYA OM GUSTI?!!!!!!!!!!"
Sekarang aku dan Teo yang kaget.
"tapi..., om bukannya tidak punya anak?"
Tanya Teo.
"eh?!, ahahaha itu...."
Papah jadi salah tingkah.
"be..begini, papah ini teman ayahku, tapi dia sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri"
Jelasku, namun mereka berdua malah terlihat bingung.
"ehehe singkatnya, Army ini anaknya Abri"
Kata papah.
"EHHHHH KAU ANAKNYA OM ABRI?!!!!!!"
"Ja..jangan-jangan, Aden anaknya om Rajab! Atau om Ikbal?!"
Hmmm, Rey benar....
Bisa saja kan?
"Aden?"
Tanya papah.
"dia teman sekamar kami, tapi sejak selesai jadwal tadi dia belum kembali ke kamar"
Jelas Teo.
"hmm, mungkin dia di hukum karena sesua..."
"permisi"
Aden tiba-tiba kembali dan masuk kedalam kamar.
"kau darimana saja?!, kami khawatir!"
Kata Teo.
"bukan urusan kalian"
Aden hanya mengambil handuk dari lemari dan masuk kedalam kamar mandi.
"pah?"
Aku melihat papah sedang memperhatikan Aden.
"pah!"
"ah! i..iya iya....., maaf hehe papah tadi cuma sedikit mikir saja, oh iya papah bawa sedikit cemilan untuk kalian"
Kata papah sembali memberikan kantong plastik padaku.
"jangan langsung di habiskan ya!, itu untuk seminggu"
"makasih om!!!!!!"
Sahut Rey dan Teo.
"papah tidak perlu sebanyak ini hehe..."
"tidak apa-apa, sudah larut, kalian harus tidur, papah juga langsung pulang ya!"
"baiklah, sekali lagi makasih pah"
"ingat ya, jangan nakal jagoan papah, kalian berdua jaga Army, soalnya dia yang paling muda di antara kalian, nanti om juga akan kabari ayah kalian"
"hahhh makasih om!!!!"
Sahut mereka lagi.
"ya sudah, papah pamit!"
Dan papah pun pergi.
.
.
.
Kamar sudah sangat gelap...
Lampu sudah di matikan...
Kami harus segera tidur agar bisa memulai aktivitas lagi besok pukul 4 pagi.
"ayah!!! Ayah!!!! Ayah!!!!!!!"
Aku sontak terbangun...
Saat melihat ke ranjang sebelah, Rey dan Teo juga terbangun setelah mendengar suara itu.
"Aden"
Ucap Rey yang bisa dengan jelas melihat Aden dari tingkat dua ranjang sebelah.
"sepertinya dia mengigau"
"akhhh berisik!, besok kita harus bangun pagi-pagi sekali!"
Aku kembali berbaring sambil menutup kepalaku dengan bantal.
Clek!
Lampunya malah di nyalakan.
"Teo! Kenapa kau menyalakan lampunya?!"
"ma..maaf my, aku cuma khawatir dengan Aden"
Teo pun naik ke tingkat dua ranjang dan mengecek keadaan Aden.
"bagaimana?"
Tanya Rey.
"gawat... Badannya sangat panas, dia juga berkeringat hebat"
Kata Teo.
"my, kita harus membawa Aden ke ruang perawatan!"
Kata Rey.
"kalian saja, aku tidak ikut"
"Army bukan saatnya memikirkan masalah kalian berdua, kalau sampai Aden kenapa-napa kita juga yang di salahkan!"
"ahhhh ya sudah..., merepotkan saja"
Teo pun turun dan aku segera naik untuk mengeceknya sendiri.
"hei, serigala, kau bisa bangun?"
Tanyaku.
Namun dia cuma menggeram.
Memang benar, Aden sangat berkeringat, dan saat aku sentuh suhu tubuhnya juga sangat tinggi.
"A..Ayah.... Ayah....."
Hanya itu yang dia ucapkan.
Aku jadi teringat perkataan Eja....
"dia itu di adopsi saat masih kecil, ayah angkatnya juga sangat menyayanginya karena dia anak satu-satunya dalam keluarga, tapi...., ayah angkatnya meninggal saat dia baru masuk SMA, lalu ibunya juga menyusul karena depresi"
"tenang, kami akan membawamu ke ruang perawatan"
Ucapku.
Aku lalu berbalik di atas tangga dan mencoba menggendong Aden di punggungku.
Aku menarik tubuhnya dan alhasil...
Brak!
"Army!"
Aku terhempas ke lantai.
Aku melihat Aden di atasku, syukurlah dia tidak apa-apa.
"Army, kepalamu!"
Kata Rey.
Kepalaku jadi berdarah akibat benturan dengan lantai.
Dan lagi....
Kaki kiriku sepertinya terkilir akibat jatuh dari tangga.
Rey segera menggendong Aden di punggungnya dan Teo membantuku berdiri.
"awhhh"
Pekikku karena rasa sakit di kaki ku.
"kalau begini.... Kau juga harus di rawat my"
"tolong ya Teo, bantu aku"
Kamipun pergi ke ruang perawatan.
*****
Iya, Aden itu bayi yang Abri dulu rawat.
Jangan lupa vote :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Pluviophile (Sejenak#3)
RomanceHubungan yang kandas akibat kesalahpahaman. Dapatkah kembali bersemi? Hujan... sampaikanlah Isi Hatiku padanya.
