15. Seperti bukan Hoshi

905 101 11
                                        


.
.
.
.
.
Hoshi tertidur saat sampai di rumah, Jion tidak akan pernah tega membangunkan adik kesayangannya itu. Terutama saat melihat bagaimana sang adik terlihat pucat saat ini, Jion akan memberi pelajaran pada orang yang sudah membuat trauma Hoshi kambuh.

Jion mengucapkan terima kasih saat Irvin yang sudah sampai lebih dulu membukakan pintu untuknya, hingga memudahkan Jion menggendong Hoshi.

Jion memastikan Hoshi nyaman di ranjang nya sebelum menemui sahabat-sahabat mya, dia ingin mendengar secara langsung dari mulut sahabat nya.

"Apa yang terjadi?" Nadhif yang mendengar nada bicara Jion berbeda tau, jika sahabat nya itu tengah marah.

"Ratna yang mengatakannya, apa yang di rancaukan Hoshi tadi adalah apa yang sudah di katakan Ratna padanya." Jion mengepalkan tangannya, dia marah dan kesal.

"Cewek sialan, dia gak tau siapa yang dia hadapi setelah ini."

Sret

"Jangan gegabah, turunin emosi nya, sekarang fokus ke Hoshi dulu aja. Urusan Ratna bisa kita urus besok kalau kita di kampus." Jion menghela nafas panjang dan mengangguk.

"Gue udah cukup lega waktu gue baca pesan dari Fian kalau Hoshi baik-baik saja, bahkan makan roti bakar, tapi sekarang malah gini lagi." Irvin menepuk pundak Jion beberapa kali, begitu juga Nafian. Keduanya mencoba menenangkan dan meminta Jion sabar.

"Itulah kenapa sekarang kita ada disini, kita bakal pastiin Hoshi aman."

"Gue takut trauma Hoshi kambuh lebih parah dari ini, adek gue itu baru mau keluar kamar saat sedang kondisi normal kayak gini, gue gak mau dia ngurung dirinya di kamar lagi." Nadhif yang mendengar itu langsung memeluk Jion.

"Hoshi akan baik-baik aja, dia gak akan ngurung diri di kamar lagi, kita yang akan pastiin Hoshi gak lagi takut ketemu orang baru."

*****

"Dasar sialan!"

"Sudah papa bilang jaga Bian, kenapa kamu tidak bisa diandalkan sedikit saja?!"

"Tidak bisakah kamu mengalah pada Bian? Kamu bisa cari orang lain untuk kamu pacari Kavi!"

Plak

Plak

Plak

"Kenapa Bian bisa sakit? Kamu apapun adik kamu Kavi?"

"Sialan! Kenapa tidak kamu saja yang kecelakaan Kavi?! Mama sama papa bahkan lebih senang jika kamu yang berjuang didalam sana ketimbang adik kamu!"

"Kamu harus tinggal kelas untuk menjaga Bian, papa sudah bahas ini dengan kepala sekolah kamu, jadi kamu tidak bisa menolak."

"Kenapa kamu biarin Bian berantem sama temennya sialan!"

"Jadi anak yang sedikit berguna Kavi! Jangan bisa nya hanya merepotkan keluarga saja!"

Kedua mata itu terbuka dengan cepat, menampilkan netra hitam yang terlihat bergetar.

Hoshi menatap langit-langit kamarnya, langit berhiaskan lukisan awan juga beberapa stiker bintang disana. Hal itu meyakinkan Hoshi jika apa yang dia lihat tadi adalah mimpi.

Mimpi yang sangat tidak pernah dia harapkan akan terjadi, mimpi tentang kehidupan lama nya sebagai Kavi.

Hoshi mencengkeram selimutnya, kehidupannya sebagai Kavi sangat bertolak belakang dengan kehidupan Hoshi.

Kavi tidak pernah di pandang dan di anggap, namun Hoshi sebaliknya. Pemuda mungil itu bahkan menjadi poros perhatian keluarganya.

Hoshi beranjak dari ranjang nya, tujuannya sekarang adalah balkon kamarnya, tidak peduli jika mungkin Jion akan memarahinya. Hoshi hanya perlu menenangkan hatinya, dan selama menjadi Kavi melihat langit luar adalah cara yang paling ampuh.

Little HoshiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang