26. Sebagian ingatan

590 79 4
                                        


.
.
.
.
.
Hoshi dalam mood buruk saat Jion membangunkannya untuk makan, entah karena ingatan nya atau karena dia masih kesal karena Keenan tadi.

Jion tau pasti tentang mood adik nya, namun dia tidak berkomentar apapun, karena dia tidak tau apa yang membuat Hoshi badmood.

"Mau makan?" Jion langsung bertanya saat melihat Hoshi turun ke lantai satu dan langsung duduk di sebelah nya.

"Belum laper, nanti aja makannya kalau laper." Jion mengernyit, karena sebelumnya Hoshi tidak pernah menolak saat sudah masuk jam makan.

"Dek, kamu baik-baik aja?" Hoshi hanya mengangguk acuh, namun Jion jelas tidak percaya.

"Lihat abang dulu." Hoshi terpaksa menatap ke arah Jion dengan tatapan sayu nya.

"Apa yang kamu rasain sekarang? Ada yang sakit?" Hoshi menggeleng.

"Gak ada, aku baik." Jion mengelus kepala Hoshi pelan, dan itu membuat Hoshi memejamkan matanya.

"Kalau ada yang sakit bilang ke abang dek, kamu gak pernah skip makan loh. Sekarang bahkan sudah lebih dari jam makan malam, makan dulu ya?" Hoshi kembali menggeleng.

"Aku beneran gak laper bang, aku gak pingin makan." Jion menghela nafas bingung.

"Kenapa dek? Bilang ke abang ya? Atau mau abang yang masakin?" Hoshi kembali menggeleng, namun kali ini matanya sudah berkaca-kaca. Entah kenapa Hoshi ingin menangis saat ini, perasaan yang muncul karena kekhawatiran Jion adalah milik Kavi, perasaan yang dulu selalu dia inginkan hadir saat mendapat perhatian dari orang tua nya.

"Hei kenapa nangis? Kamu kesel sama abang?" Hoshi kembali menggeleng, namun kali ini di iringi dengan isakan.

"Maaf... Maaf... Abang."

Grep

Jion dengan cepat memeluk tubuh mungil Hoshi, meskipun sebenarnya dia juga bingung kenapa adik nya tiba-tiba menangis.

"Ada apa dek? Kamu habis mimpi buruk ya? Atau mood kamu lagi berantakan karena habis ketemu dokter Luki?" Hoshi tidak memberi respon namun mengeratkan pelukannya pada tubuh Jion.

"Abang malu ya punya adik kayak aku?" Jion mendelik, siapa yang berani mengatakan pada Hoshi hal buruk seperti itu.

"Siapa yang bilang? Abang sama sekali gak pernah malu. Abang malah sayang banget sama kamu dek." Hoshi menggeleng pelan.

"Siapa yang bilang gitu ke kamu?" Jion mengernyit saat tidak mendapat jawaban dari Hoshi selain isakan.

"Sstt... Iya udah abang gak akan tanya lagi, nangis nya udah dong ya." Jion menepuk punggung Hoshi.

"Kalau masih nangis aja, motornya gak jadi abang beliin." Seketika tangisan Hoshi berhenti saat mendengar Jion mengatakan hal itu.

"Abang nakal!" Jion tertawa pelan dan kembali mendekap tubuh Hoshi.

"Makan dulu tapi ya? Mau abang buatin apa?" Hoshi mendongak sedikit dan menatap Jion.

"Telur mata sapi dua, sama bawang goreng." Jion tersenyum dan mengangguk.

"Oke kalau gitu abang gorengin dulu telur nya, kamu tunggu sini."

*****

"Tunggu sini sebentar, aku bakal pastiin mereka gak ada baru kamu bisa keluar, okey?" Seorang anak kecil berusia sembilan tahun mengangguk pada yang lebih tua.

"Kakak jangan lama-lama." Yang lebih tua tersenyum dan mengangguk.

"Gak lama, jangan keluar sampai kakak balik ya?" Yang lebih tua segera meninggalkan yang lebih muda setelah mendapat anggukan.

Little HoshiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang