.
.
.
.
.
Ada banyak hal yang menjadi pemikiran untuk Kavi saat ini, siapa sebenarnya Hoshi? Dan kenapa dia bisa berpindah pada raga si mungil nan manis ini.
Selama satu minggu Kavi ada di raga Hoshi, yang didapatkan Kavi adalah perhatian dan kasih sayang yang berlimpah, tidak ada tanda-tanda jika Hoshi menerima kekerasan dari keluarganya atau pun diabaikan.
Jiwa asli Hoshi mengatakan jika Kavi harus menggantikan dirinya, menjalankan kehidupan Hoshi sebagai kesempatan kedua. Jika boleh jujur Kavi senang, dia bahagia mendapat kesempatan kedua untuk hidup di keluarga uang menyayanginya, namun Kavi juga merasa bersalah karena seolah dia merengut kehidupan Hoshi.
"Hah." Hoshi menghela nafas panjang, dia benar-benar berusaha terlihat biasa saja agar tidak ada yang mencurigainya.
"Hoshi... Hoshi Gaillard."
"Keluarga Gaillard bukan kah keluarga kaya raya yang memiliki berbagai usaha di luar negeri?" Hoshi memejamkan matanya, mencoba mengingat tentang keluarga Gaillard yang sering dia dengar di berita dulu.
"Tapi apa benar Hoshi adalah bungsu keluarga Gaillard? Tapi bukankah selama ini keluarga Gaillard hanya memiliki seorang pewaris?"
"Jika memang keluarga Gaillard memiliki dua putra, kenapa Hoshi disembunyikan? Sebenarnya apa yang terjadi di keluarga ini?"
*****
"Hoshi?" Hoshi yang sedang duduk di gazebo belakang langsung menoleh saatendengar suara berat milik sang kakak.
"Iya?" Jion bergegas mendekati Hoshi yang tampak tidak terganggu saat ada beberapa pekerja kebun mereka yang mondar mandir sedari tadi.
"Kamu gak apa? Kenapa keluar kesini gak bilang abang?" Hoshi mengernyit, memang apa yang salah dengan turun dan pergi ke halaman belakang.
"Gak boleh ya?" Jion langsung tersenyum dan menggeleng.
"Boleh, kamu boleh pergi kemana pun di mansion ini dek, abang seneng kalau kamu mau keluar dari kamar." Alis Hoshi semakin bertaut.
"Memang selama ini aku gak pernah keluar kamar?" Ucapan pelan Hoshi justru membuat Jion khawatir.
"Dek, kamu gak inget?"
"Inget apa?" Jion memasang wajah khawatir.
"Sebentar abang harus panggil dokter Mark!"
Sret
Hoshi menahan tangan Jion yang akan beranjak, pemuda mungil itu menatap bingung pada pemuda tinggi yang merupakan sang kakak.
"Ngapain manggil dokter Mark?" Jion menghela nafas dan menatap lekat pada wajah manis sang adik.
"Hoshi, kamu bahkan gak inget apa yang selama ini kamu lalui dek, kayaknya ini efek benturan pas kamu jatuh dari tangga." Hoshi terdiam, bahkan saat Jion sudah berlalu dari hadapannya.
"Padahalkan bukan karena gak inget, tapi emang gak tau. Udah lah biarin aja."
*****
"Sepertinya memang akibat dari benturan yang dialami Hoshi sebelumnya, Hoshi sedikit melupakan memory nya. Kamu bisa membantunya ingat Jion, tapi ingat jangan dipaksa, karena itu justru akan membuat Hoshi semakin kesakitan." Jion mengangguk saat dokter Mark mengatakan hal itu.
"Baik dokter, oh jika bisa tolong sampaikan juga pada mama dan papa." Dokter Mark mengangguk.
"Iya kamu tenang saja, jaga adik mu, saya pamit dulu."
Jion menghela nafas panjang saat dokter Mark meninggalkan mansion, sebenarnya dia cukup senang dengan keadaan Hoshi saat ini, karena adik kesayangannya itu mau keluar kamar saat dalam kondisi normal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Hoshi
FanfictionKavi Aland Daran, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun harus meregang nyawa karena kecelakaan saat sedang melakukan balap liar. Namun bukannya beristirahat dengan tenang, Kavi justru terbangun di tubuh seorang remaja berusia tujuh belas tahun...
