.
.
.
.
.
Dari banyak nya hal yang di takuti Hoshi, kenapa harus soal tentang orang-orang berpakaian hitam yang harus Hoshi hadapi sekarang.
Sebelumnya masih baik-baik saja, Hoshi masih santai karena cafe milik Irvin memang sedang sepi, Hoshi juga duduk tenang diantara Keenan dan Jion.
Namun tiba-tiba ada gerombolan anak yang menggunakan baju dan jaket warna hitam masuk ke cafe, Irvin dan Riku terlihat tersenyum saat beberapa diantara mereka menyapa, sepertinya memang keduanya nya mengenal orang-orang itu.
Namun yang susah adalah Hoshi, pemuda mungil itu langsung meremas tangan Jion dan Keenan bersamaan saat tau jika gerombolan itu mengambil meja di dekat mereka.
Hoshi gemetar, namun sebisa mungkin jiwa Kavi tidak ingin Hoshi kalah dengan ketakutannya.
"Dek, tenang, tarik nafas. Mereka gak jahat kok, mereka anak kampus abang, teman-teman nya Riku sama Irvin, mereka gak jahat." Jion berbisik lirih pada Hoshi yang terus saja menunduk.
"Tau... Aku tau, tapi badan ku gak bisa berhenti gemetar bang." Jion tersenyum tipis, terutama saat Keenan merangkul dan mengusap pelan bahu Hoshi.
"Lawan ya, bang Keenan tau kamu pasti bisa, nanti kalau kamu tahan sampai satu jam kedepan, abang keenan antar pulang naik motor." Hoshi langsung menatap ke arah Keenan yang baru saja membisikan hal itu padanya.
"Beneran? Bang Keenan gak bohong?" Keenan menggeleng.
"Tapi susah banget, ingatan itu gak mau hilang." Interaksi Hoshi dan Keenan jelas mendapat perhatian dari semua orang di meja mereka, bahkan beberapa orang dari meja sebelah juga menatap lekat pada Hoshi.
"Di coba dulu, nanti kalau bener-bener gak bisa langsung abang ajak pulang." Hoshi menghela nafas pelan saat Jion mengatakan itu sambil mengelus kepalanya.
"Gila, gue gak tau kalau circle nya Riku sama Irvin ada yang seimut itu?"
"Deketin boleh kali, manis banget sumpah."
*****
Hoshi sebenarnya tidak suka saat mendengar ucapan-ucapan orang-orang tentang dirinya, itulah kenapa dia kemudian memasang wajah datar.
Riku dan Irvin juga harus menahan tawanya saat melihat Hoshi terlihat kesal, Jion sendiri juga tau jika ini adalah konsekuensi jika mengajak Hoshi keluar, adik nya itu terlalu menggemaskan dan manis.
"Mau pulang!" Jion, Keenan dan Riku tersentak saat Hoshi mengatakan hal itu.
"Loh, sebentar dek." Jion mencoba menahan Hoshi yang akan berdiri.
"Loh, mau kemana? Disini dulu lah, nanti pulang nya bareng." Hoshi menatap Nyzan dan Nafian yang ikut menahannya, tanpa sadar tatapannya berubah menjadi tajam dan mampu membuat kedua nya terkejut.
"Mau anter pulang gak? Kalau gak aku pulang sendiri, aku pusing!" Keenan langsung mengangguk dan segera beranjak.
"Ya udah, ayo pulang." Keenan menatap Jion dan mengangguk.
"Gue anterin Hoshi balik dulu Ji, entar gue tungguin sampe lo balik." Jion terpaksa mengangguk, karena memang Keenan yang berjanji pada Hoshi akan membawa adiknya itu pulang menggunakan motor.
"Hoshi, gak boleh nakalin bang Keenan ya?" Hoshi hanya mengangguk acuh.
"Kalau nakal, gak usah di bolehin punya motor lah bang."
Plak
Riku langsung mengelus kepalanya saat tangan mungil Hoshi dengan enteng mendarat di belakang kepalanya.
"Aku kemusuhan sama Riku!"
Riku dan Jion tertawa pelan saat Hoshi meninggalkan mereka bersama Keenan, entah kenapa mereka lega melihat Hoshi tidak lagi takut dengan Keenan.
"Hoshi beneran minta motor ya?" Jion menatap Nadhif dan mengangguk.
"Ya, dan sepertinya gue harus kabulin itu dalam waktu dekat."
*****
"Mau bawa motor nya?" Hoshi menatap lekat pada Keenan yang tiba-tiba menawarkan untuk mengendarai motor milik pemuda tinggi itu.
"Boleh? Tapi gak deh, aku belum hafal jalan nya." Keenan tersenyum.
"Nanti kalau kamu bosen di rumah, bilang aja ke aku, nanti aku ajak ke tempat yang bagus." Hoshi melirik sekilas pada Keenan yang sudah mengenakan helm.
"Mager, ayo pulang bang. Aku pusing ketemu banyak orang dari tadi." Keenan langsung menuruti ucapan Hoshi untuk mengantar pemuda itu pulang.
"Tapi aku serius Hoshi, dan aku jamin kalau kamu gak akan nyesel." Hoshi hanya mendengus, dia kesal saat Keenan terlalu banyak bicara. Apakah pemuda itu tidak tau jika kepalanya sudah sangat sakit? Bahkan nafas Hoshi pun terdengar sedikit berat.
"Terserah, aku pulang sendiri." Keenan mendelik saat Hoshi melangkah meninggalkannya.
"Eh... Eh... Eh... Iya iya kita pulang sekarang."
Sret
Keenan menahan tangan Hoshi saat pemuda itu hampir saja menghentikan taxi yang sedang melintas di jalan depan minimarket tempat mereka berhenti.
"Jangan galak-galak dong, nanti manisnya hilang loh." Hoshi tidak memberi respon, namun tatapannya berubah tajam.
"Aku mau pulang, bukan mau dengerin gombalan bang Keenan!" Keenan menghela nafas dan segera mengangguk.
"Iya iya."
Keenan langsung mengantar Hoshi pulang, sebelum pemuda mungil itu semakin kesal padanya.
"Kita udah sampai Hoshi." Hoshi dengan cepat turun dan melepas helm yang dia kenakan.
Pemuda mungil itu langsung beranjak meninggalkan Keenan yang mematung setelah Hoshi menyerahkan helm nya, Hoshi bahkan tidak mengucapkan apapun pada Keenan.
"Hoshi?" Keenan segera mengejar Hoshi masuk kedalam mansion, namun terlambat karena Hoshi sudah berlari naik ke lantai dua dan masuk ke kamar nya.
"Itu anak kenapa? Perasaan tadi masih baik-baik aja."
*****
Hoshi mengepalkan tangannya erat saat menatap pantulan dirinya di cermin kamar nya, kepalanya terasa berdenyut sakit karena ingatan asli Hoshi yang tiba-tiba datang seperti susunan puzzle.
Ingatan-ingatan yang sebagian kecil sudah pernah Hoshi lihat dalam mimpi Ochi sebelum ini, sebuah tempat familiar, dengan suara-suara familiar yang membuat Hoshi kesakitan.
Hoshi rasa pernah melihat tempat-tempat itu dan mendengar suara-suara itu saat masih berada di raga Kavi, namun dia tidak bisa mengingat dengan jelas kapan dan dimana. Sepertinya karena sebagian ingatannya yang sempat hilang dulu, namun aneh nya kedua orang tuanya tidak berusaha membuat Kavi mengingat kembali ingatannya yang hilang.
"Sebenarnya apa yang mau kamu kasih lihat ke aku Hoshi?" Hoshi mengepalkan tangannya dan segera menuju ke ranjang nya, mungkin tidur bisa sedikit menghilangkan rasa sakit nya juga rasa takutnya.
"Ingatan kamu menyeramkan, kenapa kamu bisa bertahan dengan memendam ingatan seperti ini?" Hoshi bergumam pelan sambil memejamkan matanya erat, tubuhnya gemetar setiap kali melihat gambaran pria-pria besar menakutkan.
"Hoshi, tolong berhenti sebentar, ini menyakitkan!" Hoshi mengepalkan tangannya dan menekan kepalanya.
Jika tau ingatan Hoshi akan membuat nya kesakitan maka dia tidak akan meminta di berikan secara langsung, namun semua sudah terlambat.
Rasanya ingatan Hoshi kali ini tumpang tindih dengan ingatan milik Kavi sendiri, bahkan Hoshi sekarang tidak bisa langi membedakan mana ingatan Kavi mana ingatan Hoshi, rasanya semua menyatu menjadi satu.
"Tolong Hoshi.... Biarkan aku istirahat sebentar."
*****
Tbc
*****
Hoshi double up ya...
Mau lanjut?
Selamat membaca dan semoga suka
See ya
–Moon–
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Hoshi
FanfictionKavi Aland Daran, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun harus meregang nyawa karena kecelakaan saat sedang melakukan balap liar. Namun bukannya beristirahat dengan tenang, Kavi justru terbangun di tubuh seorang remaja berusia tujuh belas tahun...
