.
.
.
.
.
Kavi mengelus kepala Ochi yang masih betah terlelap, semalam adik ya itu rewel dan tidak mau dia tinggal, bahkan Ochi terus mendekap tangannya, dan itu terlihat sangat lucu bagi Kavi.
Kavi menatap jam di meja nakas, sudah hampir pukul tujuh pagi, mau tidak mau Kavi harus membangunkan Ochi.
"Adek, bangun yuk, udah pagi." Kavi menepuk pipi Ochi beberapa kali.
"Ochi, adek kakak, bangun yuk, katanya mau sarapan sama kakak." Kavi tersenyum saat sang adik mengerjapkan matanya.
"Kak Kavi, masih ngantuk." Kavi tersenyum, Ochi ternyata kembali tertidur setelah emosi Hoshi dan kerinduannya tersalurkan.
"Ayo bangun dek, mandi terus sarapan, katanya nanti siang mau ke rumah Keenan." Hoshi langsung mengerjap, mengingat jika kemarin Keenan memang mengajak Ochi main ke rumah nya, dan tentu saja dengan persetujuan Jion juga syarat bahwa semua sahabat Keenan harus ikut.
"Kak Kavi gak marah?" Kavi menaikan sebelah alisnya.
"Kenapa harus marah? Kamu gak sendirian disana." Hoshi menunduk.
"Aku mau putus aja ya sama bang Keenan, kak Kavi gak setuju kan?" Kavi tersenyum dan kembali mengelus kepala Hoshi.
"Gak perlu putus, kakak tau Keenan orang baik, lagi pula kakak udah dapat jaminan nya." Hoshi menatap bingung pada sang kakak.
"Jaminan apa?" Kavi hanya tersenyum.
"Jaminan biar kamu gak terluka, udah sana mandi, kakak tunggu di bawah." Kavi beranjak meninggalkan Hoshi yang masih mengerjap bingung.
"Memang bang Keenan bakal nyakitin aku?"
*****
"Wah ini Hoshi ya? Manis sekali." Hoshi hanya bisa tersenyum saat ibu dari Keenan menyambut kedatangan mereka.
Keenan sendiri hanya tersenyum saat melihat bagaimana sang ibu menjadi excited saat berhadapan dengan Kavi.
"Ternyata Keenan gak salah pilih, Hoshi mau jadi menantu tante?" Hoshi mengerjap, dia bingung harus membalas seperti apa saat tiba-tiba di tanya seperti itu.
"Ma, jangan tanya macem-macem dulu, lihat Hoshi bingung itu." Elina tertawa kecil dan langsung meminta sahabat-sahabat putra keduanya itu untuk masuk.
"Keen, adek lo mana?" Keenan menoleh saat Irvin bertanya.
"Liam? Belum pulang, dia kemarin nginep di rumah temennya." Irvin mengangguk, meskipun sejujurnya dia juga pingin ketemu adik bungsu Keenan.
"Hoshi, mau puding? Tadi mama nya abang bikin puding mangga, mau?" Hoshi menatap sekilas pada Jion sebelum mengangguk.
"Mau, tapi maaf kalau aku ngerepotin bang Keenan." Keenan tertawa dan menggeleng.
"Gak ngerepotin kok, tunggu sebentar ya."
Saat Keenan pergi ke dapur untuk mengambil puding dan minum untuk sahabat nya, Hoshi justru menatap sekeliling ruang keluarga mansion keluarga Jerrol.
Banyak sekali foto keluarga Keenan disana, hampir mirip dengan mansion Gaillard tapi mansion ini terlihat lebih sepi.
Hingga netra hitam Hoshi terpaku pada foto keluarga yang ada di sana.
"Bang Keenan punya adik?" Hoshi menatap sang abang yang mengangguk.
"Iya, laki-laki seusia kamu, mau teman sama dia?" Hoshi langsung menggeleng.
Deg.
Deg.
Deg.
Jantung Hoshi berdebar kencang saat menyadari jika dia mengenal adik Keenan hanya dari wajah nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Hoshi
Fiksi PenggemarKavi Aland Daran, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun harus meregang nyawa karena kecelakaan saat sedang melakukan balap liar. Namun bukannya beristirahat dengan tenang, Kavi justru terbangun di tubuh seorang remaja berusia tujuh belas tahun...
