.
.
.
.
.
Kavi menatap bingung pada seorang anak kecil yang tengah berlari dan dengan cepat bersembunyi di belakang tubuhnya, Kavi awalnya ingin menghindar, namun melihat beberapa anak yang sepertinya mengejar anak itu Kavi memutuskan untuk membiarkan anak itu bersembunyi, bahkan menutupi tubuh mungil anak itu dengan tas sekolahnya.
Kavi baru menoleh ke belakang saat tidak lagi melihat anak-anak yang mengejar itu, Kavi juga baru langsung menyingkirkan tasnya.
"Mereka udah gak ada, kamu bisa keluar." Anak itu akhirnya keluar, menatap lolos pada Kavi yang hanya duduk diam.
"Terima kasih ya kakak baik." Kavi hanya mengangguk.
"Kamu dinakalin sama mereka atau kamu yang nakalin mereka?" Anak itu menggeleng dengan cepat.
"Hoshi ndak pernah nakal! Mereka... Mereka temen abang, tapi jahat sama Hoshi." Kavi menatap bingung pada anak itu.
"Nama kamu Hoshi?" Anak itu mengangguk.
"Terus kenapa kamu gak bilang ke abang kamu?" Hoshi menunduk dalam saat Kavi menanyakan hal itu.
"Hoshi mau cerita ke abang, tapi mereka ancam Hoshi, katanya kalau Hoshi bilang mereka akan pukul abang." Kavi menghela nafas panjang.
"Kamu kelas berapa?" Hoshi menunjukan ketiga jarinya pada Kavi.
"Kelas tiga apa?"
"Kelas tiga A, kelasnya di lantai dua ujung kiri." Kavi mengangguk paham, karena kelasnya bersebelahan berada di lantai yang sama.
"Mereka selalu cari kamu setiap istirahat?" Hoshi menggeleng.
"Mereka ndak pernah cari Hoshi kalau istirahat soalnya ada abang sama mereka, mereka baru cari Hoshi kalau abang ndak ada." Kavi menatap lekat pada Hoshi, dia merasa mengenal Hoshi, bahkan Kavi merasa nyaman mengobrol dengan anak itu.
"Abang kamu kelas berapa? Siapa namanya?" Hoshi terlihat berpikir sejenak.
"Nama nya abang Jion, kelas enam A, itu kalau Hoshi ndak salah ya." Lagi-lagi Kavi mengangguk.
"Abang kamu kalau istirahat nyamperin kamu gak?" Kali ini Hoshi menggeleng.
"Jarang, sejak berteman dengan mereka abang jarang cari Hoshi di sekolah." Kavi menghela nafas panjang.
"Kalau gitu mulai besok, setiap istirahat datang ke kelas ku. Nama ku Kavi, kelas enam A+, tau kan dimana kelasnya?" Hoshi membuka mulutnya, terkejut saat mengetahui jika yang dia ajak berbicara sejak tadi adalah anak yang sering di puji guru dan di bicarakan teman-teman sang kakak.
"Tau gak?" Hoshi langsung mengangguk.
"Tau, itu kelasnya di lantai dua kiri, sebelah toilet, deket kelas Hoshi." Kavi mengangguk dan mengacak rambut Hoshi. Kavi terlihat dekat dengan sosok Hoshi yang baru saja dia temui, mungkin faktor jika dia mempunyai adik juga berperan penting disini.
"Kakak baik, terima kasih ya, besok Hoshi bawain roti deh!" Kavi hanya menggeleng saat anak kecil itu berlalu dan segera menghampiri seorang pria paruh baya. Bisa Kavi tebak jika itu adalah sopir pribadi Hoshi, terlihat dari seragam nya.
"Anak itu lucu, tapi kenapa rasanya familiar ya?"
*****
"Hoshi!!" Kavi segera berlari mengejar mobil yang baru saja membawa bocah kecil itu pergi.
"Aduh gimana nih?" Kavi tampak panik, namun dengan cepat tangannya mengetik sesuatu, meminta orang-orang kakek nya untuk mencari Hoshi.
Kavi melakukan itu bukan tanpa alasan, tapi karena jelas sekali jika Hoshi memberontak dan orang di dalam mobil itu berbeda dengan orang yang biasa menjemput Hoshi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Hoshi
FanfictionKavi Aland Daran, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun harus meregang nyawa karena kecelakaan saat sedang melakukan balap liar. Namun bukannya beristirahat dengan tenang, Kavi justru terbangun di tubuh seorang remaja berusia tujuh belas tahun...
