78. Perasaan Hoshi

602 76 2
                                        


.
.
.
.
.
Suasana mansion keluarga Gaillard tampak mencekam, bagaimana tidak Jion mengamuk setelah tidak menemukan kedua adiknya dirumah, begitu juga Riku.

Hana dan Endaru yang mendengar kabar itu langsung pulang dan meninggalkan pekerjaan mereka.

Awalnya Jion mengira jika Hoshi sedang diajak keluar oleh Kavi, namun Leo mengatakan jika Kavi tidak mengajak Hoshi saat ke apartemennya tadi sore.

Memang Kavi sempat pulang setelah makan siang karena Hoshi mencarinya, namun saat sore pemuda itu kembali sendirian, tanpa Hoshi.

Jion, Riku dan Endaru sudah mencoba menghubungi ponsel Kavi, namun ternyata ponsel itu berada di kamarnya, tergeletak di bawah bantal. Sedangkan untuk Hoshi, jangan ditanya, pemuda mungil itu lebih sering melupakan ponselnya.

"Hoshi sama Kavi dimana?"

"Mereka baik-baik aja kan?"

"Mereka pasti pergi berdua kan? Gak akan ada hal buruk kan?"

Endaru yang mendengar rancauan Jion segera memeluk tubuh putra sulung nya itu, Jion selalu takut jika tidak menemukan adiknya di lingkup nya, dia akan panik berlebihan.

"Kavi sama Hoshi pasti baik-baik aja, mereka pasti baik. Gak akan ada yang berani macem-macem sama mereka, kamu harus tenang Ji, kalau kamu panik kamu gak akan bisa cari mereka." Jion rasanya ingin menangis, mendapati kedua adiknya hilang mengingatkan Jion tentang hilang nya mereka sepuluh tahun lalu.

"Gimana Jion bisa tenang pa?! Adek-adek Jion gak ada di rumah bahkan gak ada yang bawa hape, kalau mereka kenapa-kenapa gimana? Kavi belum sembuh total, dia bahkan masih sering kehilangan kontrol tubuhnya, sedangkan Hoshi gak pernah keluar sendirian pa!"

*****

Ditengah kebingungan keluarganya, Kavi dan Hoshi baru saja tiba di sebuah mansion mewah yang terletak di salah satu daerah di kota bandung.

Kavi menatap wajah wajah Hoshi yang terlihat senang, padahal dirinya sendiri justru merasa tidak tenang. Karena dia tau mansion ini adalah tempat tinggal kakek dan nenek mereka dari pihak Endaru, sang papa, dan Kavi belum pernah bertemu mereka.

"Kak Kavi ayo turun! Opa sama oma pasti seneng ketemu kakak!" Kavi menghela nafas panjang saat Hoshi mengatakan hal itu.

"Heh, kamu kira kakak ini gak punya takut ya?" Hoshi yang mendengar itu hanya mengangguk dengan wajah polosnya.

"Memang kak Kavi takut sama oma sama opa? Tapi kak Kavi berani kok habisin keluarga nya nenek sihir itu, kok sekarang takut." Kavi hanya bisa menghela nafas panjang.

"Hoshi, adek kak Kavi yang manis, mereka itu orang jahat, jadi kak Kavi gak akan takut, apa lagi mereka udah berani nyakitin kamu, tapi ini oma sama opa yang bahkan kak Kavi belum pernah ketemu." Hoshi merengut, namun sebenarnya dia cukup tersipu saat Kavi menyebutnya manis.

"Kakak gak perlu khawatir, oma sama opa gak jahat kok, mereka juga cari kak Kavi loh selama ini, bahkan lebih giat dibanding papa sama mama." Kavi baru saja ingin menjawab saat kaca jendela mobilnya di ketuk dari luar.

Tok

Tok

Tok

Kavi dan Hoshi langsung menoleh, Kavi tidak punya pilihan selain turun dari mobil, apa lagi saat mengetahui jika mobilnya sudah di kelilingi bodyguard sang opa.

"Boleh kami tau ada keperluan apa anda kemari?" Kavi sudah lama tidak merasakan rasa takut seperti ini, terakhir kali mungkin sepuluh tahun lalu.

"Mau ketemu opa sama oma." Bukan Kavi yang menjawab namun Hoshi yang sudah menatap sebal pada para bodyguard itu.

Little HoshiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang