.
.
.
.
.
Kavi menatap lekat pada Leo dan Rico saat kedua sahabatnya itu menunjukan beberapa lembar kertas juga foto pada nya, kertas yang mampu membuat Kavi mengepalkan tangannya erat.
Kavi sudah berjanji akan membalas semuanya, semua yang sudah membuat mental adiknya seperti sekarang ini. Kavi tidak pernah peduli jika dirinya terluka, tapi mengingat kehidupan Hoshi yang tidak bisa berjalan normal dia tidak terima, terutama saat dia merasakan sendiri bagaimana perasaan takut mendominasi tubuh Hoshi ketika trauma itu kembali datang.
"Dua orang yang kita kejar ada di jakarta Kav, mereka adalah orang yang secara langsung di bebaskan sama om Hatta tanpa sepengetahuan opa Hen, keluarga mereka memberikan uang pada om Hatta agar tidak menyebut nama mereka, itu lah yang membuat mereka bebas berkeliaran." Kavi menatap lekat pada kertas berisi data diri kedua orang yang menjadi pelaku utama dari kejadian sepuluh tahun lalu.
"Dia, bisa kita bereskan dengan mudah, karena kondisi keluarganya yang jatuh membuat dia tidak bisa menggunakan uang seperti dulu." Rico menunjuk salah satu dari dua kertas itu di hadapan Kavi.
"Tapi kalau yang ini, lo pasti tau alasannya." Kavi mengangguk kecil.
"Bereskan bajingan kecil ini, bawa dia ke mansion Gaillard, aku akan jadikan dia boneka. Untuk dia, aku sendiri yang akan mengurusnya, kalian bantu opa di perusahaan saja." Leo dan Rico mengangguk, Kavi sudah memberi keputusan jadi mereka bisa bebas bertindak.
"Kali ini lo gak bakal bisa lari dari gue, ternyata nama lo gak ngebuat lo jadi baik, padahal nama lo artinya pelindung."
*****
"Kamu dari mana Ken?" Keenan tersenyum pada sang ibu saat wanita cantik itu bertanya.
"Dari rumah Jion, ketemu Hoshi." Wanita itu tersenyum.
"Kamu gak di hajar lagi sama kakak nya?" Keenan menggeleng.
"Kavi lagi keluar ma, dan Jion kasih ijin buat ketemu sama Hoshi selama Hoshi gak nolak." Keenan memutuskan duduk di samping sang ibu.
"Ma, keluarga kita bersih kan?" Elina, ibu Jion hanya mengangguk kecil.
"Keluarga Jerrol selalu bersih Keen, kita gak pernah bermain curang." Keenan menghela nafas panjang mendengar itu.
"Kavi minta jaminan kalau aku mau restu dia ma, dia minta jaminan buat Hoshi selalu aman dan nyaman tanpa tersakiti disini." Elina tersenyum tipis.
"Ya kamu tinggal bilang kalau keluarga kina nerima Hoshi dengan baik Keen, mama, papa, keluarga kakak kamu atau pun adek kamu pasti nerima dia. Gak perlu pikirin keluarga yang lain, karena itu akan jadi urusan kita." Keenan mengangguk dan tersenyum tipis.
"Nanti Keenan bilang ke Kavi deh ma, doain Keenan ya biar bisa bawa Hoshi kesini." Elina mengangguk kecil.
"Mama pasti selalu doain kamu Keen."
*****
"Lepasin gue sialan!"
"Kalian siapa sebenernya?!"
"Woi lepasin gue!"
"Bangsat lepasin gue!!"
Teriakan seorang pemuda menyambut kedatangan Kavi ke ruang bawah tanah mansion Gaillard, semalam Leo dan Rico membawa pemuda itu kesana sesuai dengan kemauan Kavi.
Kavi tersenyum remeh, teriakan pemuda itu mengingatkan Kavi tentang angkuhnya dia sepuluh tahun lalu, tapi sekarang Kavi akan pastikan tidak ada yang bisa lolos begitu saja.
Cklek
Pemuda yang sejak tadi berteriak pada orang-orang suruhan Endaru yang sudah di beri perintah untuk menuruti Kavi itu terdiam seketika.
Dia mengenali pemuda yang baru saja masuk, pemuda tinggi dan tampan yang menjadi lawan balapannya beberapa bulan lalu.
"Suara teriakan lo ganggu banget." Pemuda itu terdiam sejenak.
"L-lo?!" Kavi menatap lekat pada pemuda itu, melihat seberapa hancur wajah pemuda itu karena pukulan Leo dan Rico.
"Kenapa? Lo kaget liat gue disini?"
"Kenapa lo bawa gue kesini? Lepasin gue, salah apa gue sama lo?!" Kavi tertawa rendah mendengar ucapan pemuda itu.
"Tuan muda, perlu saya tutup mulut nya?" Kavi menggeleng sebagai jawaban.
"Biarkan dia membuka mulut sesukanya, sebelum dia tidak bisa membukanya." Pemuda itu terkejut mendengar ucapan Kavi.
"Lo yakin gak kenal gue?" Kavi bertanya sembari duduk di hadapan pemuda itu. Untung nya orang-orang sang ayah selalu gerak cepat jika menyangkut Kavi.
"Gue gak kenal lo sialan! Kita cuma pernah ketemu sekali waktu balapan!" Kavi kembali tertawa.
"Liat wajah gue baik-baik, yakin lo gak inget gue Riki Sapta?" Pemuda itu terkejut saat Kavi tau namanya.
"S-siapa lo?" Kavi senang saat melihat ekspresi gusar pemuda di hadapannya itu.
"Tuan muda." Kavi menoleh saat mendengar panggilan dari orang suruhan nya yang baru saja masuk.
"Ada apa?" Orang itu membisikan sesuatu pada Kavi, hal itu membuat Kavi bangkit dari duduknya.
"Lo beruntung hari ini Riki, tapi gue bakal balik lagi nanti, dan lo harus inget nama gue saat itu." Kavi berucap datar.
"Gue adalah orang yang menuntut balas atas apa yang udah lo dan temen-temen lo lakukan sepuluh tahun lalu."
*****
"Kavi." Kavi menoleh saat Jion memanggilnya.
"Ada apa?" Jion tersenyum dan meminta Kavi duduk di sampingnya, sedangkan mereka ada di kamar Ochi saat ini, menemani adik kecilnya itu tidur.
"Kamu beneran gak mau kasih tau aku kenapa kamu gak mau Hoshi sama Keenan." Kavi menaikan sebelah alisnya.
"Kamu pernah ketemu semua keluarga Keenan gak?" Jion mengangguk.
"Semuanya? Tanpa terkecuali?" Jion tampak berpikir sejenak sebelum kembali mengangguk.
Namun hanya sekian detik hingga dia mengingat sesuatu tentang keluarga Keenan.
"Oh aku gak pernah ketemu sama adek nya Keenan, dia punya adik seusia Hoshi, tapi sejak dulu aku belum pernah ketemu, katanya dia sekolah di asrama." Kavi tersenyum miring.
"Kalau kamu mau tau alasan ku, coba temui adeknya Keenan." Setelah mengatakan itu Kavi keluar dari kamar Ochi dan segera masuk ke kamarnya sendiri.
"Ada apa sama adeknya Keenan? Seingat gue dia juga gak pernah terlibat masalah."
Sedang disisi lain, tampak seorang pemuda yang tengah menghubungi seseorang.
"Gimana sekarang? Kenapa om Hatta gak bisa di hubungi?!"
"Lo belum tau ya? Om Hatta di tangkap polisi karena kasus kdrt terhadap anak, penculikan, dan juga tentang suap kejadian sepuluh taun lalu."
"Terus gue harus gimana? Kenapa anak itu bisa di jakarta? Padahal gue seneng waktu denger kabar kalau dia mati!"
"Dia gak bisa kamu sentuh seenaknya sekarang, dia lebih dari keluarga lo."
Pemuda yang tengah menelfon itu mengepalkan tangannya erat.
"Bantuin gue sialan! Gue denger Riku baru aja hilang, dia gak ada di kostan nya dan gak pernah datang ke kampus."
"Gue gak mau ambil resiko, tapi sorry gue gak mau lagi terlibat sama masalah lo, lawan lo sekarang bukan orang sembarangan, jangan cari masalah sama mereka Liam."
Panggilan terputus begitu saja, dan itu membuat pemuda bersurai hitam itu menggeram marah.
"SIALAN!!"
*****
Tbc
*****
Up terakhir buat malam ini ya...
Lanjut lagi besok...
Malam tahun baru, sekalian penutup buat book Little Hoshi...
Besok up sampai end pokoknya...
Selamat membaca dan semoga suka
See ya
–Moon–
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Hoshi
Fiksi PenggemarKavi Aland Daran, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun harus meregang nyawa karena kecelakaan saat sedang melakukan balap liar. Namun bukannya beristirahat dengan tenang, Kavi justru terbangun di tubuh seorang remaja berusia tujuh belas tahun...
