.
.
.
.
.
Ochi sama sekali tidak mau jauh dari Kavi, hal itu membuat Irvin sedikit tidak suka. Dulu sebelum Ochi dekat dengan yang lain selalu dirinya yang akan di cari untuk diajak bermain, tapi kini justru dirinya yang terasing.
Ochi sama sekali tidak mau bermain bersama nya, lebih memilih Nyzan atau Nadhif, tapi hal itu tidak begitu membuat Irvin iri. Yang membuat ya iri adalah kedatangan Kavi, orang baru yang mencuri semua perhatian Ochi dari yang lain.
Irvin ingin bermain bersama Ochi, atau paling tidak menemani pemuda mungil itu menghabiskan waktu dengan boneka-boneka nya, tapi jangankan menghabiskan waktu, mendekat saja Irvin tidak bisa.
"Kenapa?" Riku menepuk pundak Irvin pelan, terutama saat mengetahui jika pacarnya itu tengah menatap ke arah Ochi yang sedang duduk di pangkuan Kavi.
"Ochi makin deket aja sama Kavi, tapi sama aku makin jauh." Riku menghela nafas, sudah sering Irvin menanyakan hal yang sama padanya.
"Ochi lagi kangen sama kak Kavi beb, biarin aja." Irvin mendengus.
"Kenapa sih? Padahal Kavi sering bikin Ochi sakit kayak gini, tapi kalian maklum aja." Riku hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Udah beb, sini kamu temenin aku makan, biarin Ochi sama kak Kavi dulu."
*****
"Ochi sini main sama Sakil yuk." Ochi yang sedang duduk manis di sofa dengan boneka beruang kesayangannya langsung menggeleng.
"Ndak mau... Ochi tunggu kakak baik." Irvin langsung merengut.
"Ochi, dia itu gak baik, gak ada kakak baik yang bikin Ochi sakit." Ochi menatap marah pada Irvin, dia tidak suka jika ada yang mengatakan hal buruk tentang kakak baiknya.
"Kakak baik itu baik! Sakil nakal!!"
Pluk
Irvin terkejut saat Ochi melemparkan dengan boneka, terlebih langsung menenai kepalanya. Bertepatan dengan itu Kavi yang baru saja kembali dari kamar mandi hanya menatap bingung.
"Lo pasti udah ngajarin Ochi jadi kurang ajar kan?!" Irvin melampiaskan rasa kesalnya pada Kavi yang hanya menatapnya malas.
"Sejak sama lo Ochi jadi kurang ajar, kasar dan sering sakit, harusnya lo gak pernah datang kesini Kavi!" Kavi hanya mengangguk acuh, mengabaikan ucapan Irvin dan mendekat pada Ochi.
"Ochi, ayo makan dulu, habis itu bobok." Ochi yang mendengar suara Kavi langsung mengangguk.
"Mau mam sama kakak baik!" Kavi hanya mengangguk.
"Iya, ayo, bonekanya mau dibawa atau ditingal sini?" Ochi menatap kearah kiku kiku yang ada di tangannya.
"Bawa! Kiku kiku nanti sedih kalau tinggal tinggal." Kavi tersenyum dan mengangguk.
"Ya udah Ochi ke ruang makan dulu, ada Ijan disana, kakak mau beresin ini dulu." Ochi yang mendengar mana Nyzan di sebut langsung bergegas pergi ke ruang makan, meninggalkan Kavi yang membereskan buku gambar dan crayon nya.
"Lo gak perlu pura-pura baik di depan Ochi, nyatanya lo cuma bisa bikin Ochi sakit."
"Ck, kakak baik apa nya, dimata gue lo gak ada baik-baiknya." Kavi melirik sekilas pada Irvin yang terus mengoceh, lalu meninggalkannya sendirian, namun sebelum itu Kavi mengucapkan sesuatu.
"Lo harusnya tau dimana tempat lo, jangan ganggu gue atau lo bakal lihat sejahat apa gue."
*****
"Makan dulu Kav, kamu belum makan dari tadi, cuma nemenin Ochi aja." Kavi hanya berdehem saat Jion menegurnya dan memintanya makan.
"Ochi barusan tidur, jangan ada yang masuk ke kamarnya biar dia gak kebangun." Jion mengangguk, begitu juga Nyzan dan Nadhif.
"Iya tenang, sini makan dulu, mau ikan gak?" Kavi langsung menggeleng.
"Gak makasih, gue makan telur aja." Nyzan yang melihat Kavi menolak makan ikan langsung mencibir.
"Lo gak bisa makan ikan ya? Apa takut kena duri nya?" Kavi mengedikan bahunya dan mengambil telur mata sapi yang tadi digoreng kan oleh Nadhif.
"Ngeri nelen durinya, udah pernah soalnya."
"Udah Zan, biarin Kavi makan dulu, sana kamu kedepan aja." Nyzan tertawa pelan namun tetap menuruti Nadhif.
"Makan yang banyak ya Kavi, pipi lo tirus sekarang." Kavi ingin melempar Nyzan dengan sendok tapi dia sadar jika tidak ada Nyzan maka dia tidak akan dapat kabar soal Ochi.
"Jangan sampe gue batalin pesenan lo ya Zan." Nyzan langsung mendelik tidak terima.
"Jangan berani-berani ya Kavi!! Lo udah janji mau kasih gue kacang goyang!!" Kavi tersenyum tipis saat Nyzan memekik.
"Ya makanya jangan ganggu gue dulu, sana kedepan, Leo lagi otw kesini tuh." Nyzan langsung sumringah.
Interaksi Nyzan dan Kavi jelas membuat Jion, Nadhif, Riku dan Irvin bingung. Karena mereka tidak tau jika Nyzan sedekat itu dengan Kavi.
Kavi melanjutkan makan nya setelah Nyzan pergi, dia tidak suka diajak bicara saat makan, itulah kenapa dia mengusir halus Nyzan.
Selain Kavi tidak akan makan sebelum jam makan, Kavi juga tidak suka di ganggu saat makan. Tapi sepertinya Irvin tidak paham soal itu, rasa iri nya membuat dia terus saja mengucapkan hal ketus pada Kavi.
"Lo bisa ya makan tenang setelah lo bikin adek lo sakit?"
"Denger ya Kavi, gue gak peduli lo siapa, dan apa kedudukan lo di keluarga ini, tapi gue gak suka kalau lo bikin Ochi sakit."
"Lo bertindak sesuka lo, pergi tanpa pamit, bikin semua orang khawatir. Terus balik tanpa rasa bersalah, lagian sebenernya lo beneran saudara kembar Jion bukan sih? Kok rasanya lo gak ada peka-peka nya sama dia, beda sama Nadhif sama Nyzan." Irvin terus berbicara tanpa tau jika Kavi sudah menghentikan makan nya dan mengepalkan kedua tangannya.
"Hidup Jion sama Ochi sebelumnya tenang-tenang tanpa lo, tapi setelah lo ada hidup mereka penuh masalah."
Brak
Pyar
Sret
"Ugh." Irvin terkejut saat tiba-tiba lehernya di cekik kencang oleh Kavi.
Ekspresi wajah Kavi menakutkan menurut Irvin, tidak ada wajah tenang dan acuh yang selama ini Kavi tunjukan pada mereka.
Suara bantingan piring membuat Jion, Nadhif, Nyzan dan Riku yang ada di ruang keluarga segera pergi ke ruang makan. Mereka terkejut saat melihat Irvin sedang berusaha melepaskan cekikan Kavi.
"Kavi!"
"Kavi lepasin Irvin!" Jion mencoba mendekat, namun baru beberapa langkah pemuda itu terpaku saat melihat kemarahan di netra hitam kembarannya.
"Kak Kavi tolong lepasin Irvin kak." Riku berucap pelan, karena dia tau Kavi bukan orang yang bisa dia lawan begitu saja.
Kavi mendengus saat melihat permohonan Riku, Kavi dengan mudah melemparkan tubuh kecil Irvin ke arah kaki Riku.
"Kalau lo masih pingin liat pacar lo itu waras, suruh dia jaga mulut nya. Gue bukan orang baik, gue cuma baik sama orang yang menurut gue pantes, dan dia gak masuk dalam hitungan, jadi minta dia jaga mulutnya." Riku langsung membantu Irvin yang kesulitan mengambil nafas.
"Kalau sekali lagi dia ngucap omong kosong, gue bakal buat dia kayak boneka cewek gue itu!" Riku hanya mengangguk.
"Nyzan ikut gue ke kamar Ochi." Nyzan merengut tapi tetap mengikuti langkah Kavi ke lantai dua.
"Kita bahas ini nanti Rik, bawa Irvin ke kamar lo dulu aja, tenangin dia." Riku mengangguk dan segera mengangkat Irvin yang menangis ke kamarnya.
"Aku baru kali ini liat Kavi marah, serem banget." Jion mengelus lembut lengan Nadhif.
"Kavi gak akan marah kalau gak di usik, kayaknya Irvin ngusik zona nyamannya Kavi, makanya anak itu sampai marah."
*****
Tbc
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Hoshi
FanfictionKavi Aland Daran, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun harus meregang nyawa karena kecelakaan saat sedang melakukan balap liar. Namun bukannya beristirahat dengan tenang, Kavi justru terbangun di tubuh seorang remaja berusia tujuh belas tahun...
