75. Sedikit berubah

566 75 1
                                        


.
.
.
.
.
Hoshi terus tersenyum senang saat dokter Mark menginginkan nya pulang, meskipun dengan syarat bahwa dia harus beristirahat total di rumah.

Hoshi tentu menyanggupi nya, apapun syaratnya yang penting dia bisa pulang ke rumah.

"Yang mau pulang seneng banget sih?" Hoshi semakin tersenyum lebar saat melihat Kavi masuk ke kamar rawat nya.

"Seneng dong, soalnya aku mau pulang. Bosen disini kak." Kavi tersenyum dan mengangguk.

"Ya udah ayo, aku udah kabari Jion, jadi nanti dia pulang kuliah langsung pulang." Hoshi mengangguk.

"Kangen kiku-kiku." Kavi tertawa pelan.

"Kiku-kiku udah kakak buang." Hoshi yang mendengar hal itu langsung mendelik ke arah Kavi.

"Kakak bohong!!" Kavi semakin tertawa melihat wajah kesal sang adik.

"Iya-iya, kiku-kiku masih aman di lemarinya." Kali ini Kavi merangkul Hoshi yang tetap cemberut karena kesal.

Lagi pula memang sifat asli Kavi yang jahilnya gak ketulungan, selama Hoshi di rumah sakit daja entah sudah berapa kali Jion menjadi korban kejahilan Kavi.

"Kakak baik, aku kangen mama sama papa, kenapa mereka makin sibuk?" Kavi terdiam kali ini.

"Mereka lagi ada kerjaan yang gak bisa di tinggal dek, nanti pasti kalau udah stabil pasti mereka tiap hari ada di rumah." Hoshi menunduk, dia terlalu asing dengan keluarganya sekarang.

Keluarga yang dulu nya selalu berkumpul saat malam kini mulai hilang, kedua orang tua mereka semakin sibuk dengan pekerjaan di luar rumah, sedangkan Jion juga semakin sibuk dengan kuliah nya, hanya ada Kavi di sisi Hoshi saat ini.

"Kak Kavi gak akan ninggalin aku kan?" Kavi menggeleng.

"Gak akan, bahkan sekalipun nanti aku harus kembali kuliah, aku akan masuk bareng sama kamu, jadi jangan khawatir."

*****

Kavi hanya diam memperhatikan sang adik yang sedang asik dengan boneka nya di ruang keluarga, ya sejak bangun tidur sore tadi Ochi lah yang bangun.

Jika boleh jujur Kavi rasanya ingin sekali mencubit pipi Ochi setiap kali adik nya itu merengut, karena menurutnya hal itu sangat lucu.

"Ochi mau mam gak?" Ochi yang mendengar pertanyaan dari Kavi langsung menggeleng.

"Nanti tunggu abang." Kavi hanya mengangguk.

Beberapa bulan berada di raga Hoshi membuat Kavi tau harus bersikap seperti apa setiap kali Ochi muncul.

"Kakak baik, abang lama-lama?" Kavi kembali mengangguk.

"Dua jam lagi mungkin, mam dulu aja yuk sama kakak." Ochi merengut sebentar sebelum akhirnya mengangguk.

"Mau mam ayam!" Kavi tersenyum dan kembali mengangguk.

"Mau mam sini atau di meja makan?" Ochi terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab.

"Meja makan! Mam sama kakak!" Kavi mengangguk dan segera mengajak Ochi pergi ke ruang makan, dimana menu makan malam mereka sudah disediakan oleh bik Indah.

"Bik Indahhh... Ochi mau mam!!" Bik Indah yang mendengar hal itu hanya tertawa kecil, karena sudah biasa mendengar Ochi seperti itu.

"Iya den Ochi, sini semua nya sudah siap, den Ochi sama den Kavi tinggal makan." Kavi tersenyum tipis.

"Makasih bik." Bik Indah tersenyum, beliau cukup menyukai sikap sopan Kavi selama ini.

"Ochi mam yang banyak ya, mau kakak suapin atau mam sendiri?" Ochi menatap berbinar pada paha ayam yang ada di hadapannya.

"Mam sendiri, Ochi pinter!" Kavi mengangguk.

Pemuda tinggi itu membiarkan Ochi makan sendiri, sambil sesekali melihat jam di ponselnya. Sudah pukul tujuh tapi belum ada satu pun penghuni rumah yang pulang, dan Kavi tidak menyukai hal itu, terlebih Ochi sudah menunggu mereka.

Kavi tidak menyadari jika dia melamun karena kesal dengan keluarga nya, hingga Ochi menepuk tangan nya.

"Kakak baik kenapa? Sakit?" Kavi terkejut dan segera menggeleng.

"Kakak gak sakit, Ochi udah selesai mam?" Ochi mengangguk antusias.

"Ochi mau main sama sama kiku kiku." Kavi kembali mengiyakan.

"Kalau gitu Ochi ke ruang keluarga dulu ya, kakak mau beresin ini dulu." Ochi segera mengangguk dan langsung beranjak.

Melihat Ochi sudah pergi dari ruang makan Kavi segera mencoba menghubungi Jion, karena Kavi sudah cukup sebal dengan tingkah saudara kembar nya itu yang suka pulang telat.

Tut

Tut

Tut

Tut

Klik

"Halo? Ada apa Kav?"

"Pulang sekarang! Kalau dalam tiga puluh menit lo belum di rumah, Ochi bakal gue bawa pindah dari sini!"

Setelah mengatakan itu Kavi langsung mematikan panggilannya, biar saja Jion panik diseberang sana, agar cepat pulang.

"Bodo amat dia lagi jalan, dia gak tau apa dia di tungguin sama Ochi!"

*****

"Ndak mau sama mereka kakak baik!" Kavi melirik Ochi yang bersembunyi di belakang tubuhnya saat kedua orang tua mereka datang.

"Kenapa?"

"Mereka jahat sama Ochi! Mereka ndak mau Ochi ada." Hana dan Endaru menatap sendu pada Ochi yang baru kembali bangun setelah sekian lama.

"Ochi, gak kangen sama mama?" Ochi langsung menggeleng.

"Ndak! Mama sama sama papa jahat!" Hana ingin menangis saat mendengar ucapan Ochi.

"Ochi–"

"Ndak mau kakak baik!!" Kavi menghela nafas panjang.

"Ochi bobok aja ya? Kakak baik temenin." Ochi mengangguk.

"Jangan pergi." Kavi menggeleng.

"Gak pergi kok, ayo." Tanpa banyak kata Kavi mengangkat tubuh mungil Ochi kedalam gendongannya, mengabaikan kedua orang tua mereka.

"Ochi benci sama aku mas."

"Ochi gak mungkin benci, dia pasti lagi marah aja, nanti juga baik lagi."

Satu jam setelah Kavi membawa Ochi ke lantai dua, Hana dan Endaru kembali melihat Kavi turun ke lantai satu.

"Ochi udah tidur kak?" Kavi mengangguk.

"Sebenarnya apa yang udah mama sama papa lakuin ke Ochi? Kenapa dia bisa takut sama kalian?" Pertanyaan Kavi membuat Endaru dan Hana terdiam, mereka tidak mungkin mengatakan jika mereka memarahi Ochi karena si bungsu itu tantrum juga karena Ratna.

"Papa pernah hukum Ochi karena dia rewel, dia ngelarang Jion kuliah." Alis Kavi mengernyit.

"Hanya karena itu? Papa gak tanya dulu apa alasan Ochi ngelakuin itu?" Endaru menggeleng.

"Papa tau kalau itu salah papa, tapi maksud papa baik Kavi. Papa sama mama gak akan selalu ada sama Ochi, jadi papa mau Ochi bisa mandiri." Kavi menghela nafas panjang.

"Kavi gak tau gimana cara papa marahin Ochi gimana, tapi yang pasti jangan pernah lakuin itu lagi. Itu justru bikin Ochi takut sama kalian." Setelah mengatakan itu Kavi langsung beranjak, kembali naik ke lantai dua.

"Jangan terlalu sibuk, Ochi bilang dia merindukan kalian. Harta papa gak akan habis meskipun papa pulang di bawah jam lima sore, bukankah dulu juga seperti itu."

*****

Tbc

*****
Selamat sore
Little Hoshi up nih...
Ada yang kangen Ochi gak sih?
Udah lama Ochi gak nongol ya...
Ada yang punya saran gak?
Next chapter Ochi ngapain gitu?
Mumpung draft nya little hoshi habis dan mau aku tulis lagi...

Selamat membaca dan semoga suka

See ya

–Moon–

Little HoshiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang