.
.
.
.
.
Hoshi menatap lekat pada Nadhif yang sejak tadi hanya tertawa pelan, padahal dia bertanya pacaran itu harus seperti apa? Karena dia benar-benar tidak tau.
"Kak Nadhif kenapa malah ketawa?" Nadhif akhirnya berdehem dan menghentikan tawanya.
"Maaf ya Hoshi." Hoshi hanya mengangguk.
"Kamu gak perlu ngapa-ngapain kalau pacaran, cukup jadi diri kamu sendiri aja. Sama kayak kamu yang biasa waktu diajak jalan sama bang Keenan." Hoshi mengernyit.
"Biasa aja? Aku gak harus ngapa-ngapain?" Nadhif mengangguk.
"Iya, kamu gak perlu ngapa-ngapain, cukup jadi diri sendiri aja." Hoshi akhirnya mengangguk paham.
"Aku gak perlu peluk-peluk bang Keenan? Kayak yang biasa kak Zan sama kak Fian lakuin?" Nadhif sedikit terkejut namun segera menggeleng.
"Gak perlu, jangan niru mereka ya, nanti kamu di marahin bang Jion." Hoshi yang mendengar hal itu langsung mengangguk patuh.
"Aku gak mau dimarahin abang, nanti aku sendirian." Nadhif segera mendekati dan mengelus kepala Hoshi.
"Kalau kamu gak niru Nyzan sama Nafian, bang Jion pasti gak akan marah." Lagi-lagi Hoshi mengangguk.
"Kak Nadhif." Nadhif langsung menatap ke arah Hoshi saat mendengar panggilan pemuda mungil itu.
"Kenapa?"
"Aku laper." Hoshi tersenyum canggung setelah mengatakan hal itu.
"Mau makan apa? Kakak masakin ya?" Hoshi mengangguk, karena memang saat ini bi Indah sedang cuti.
"Mau telur mata sapi." Nadhif tersenyum dan mengangguk.
"Ya udah kakak buatin, mau tunggu sini atau ikut?" Hoshi langsung bangkit dan mengekor Nadhif yang sudah pergi ke dapur.
"Ikut, mau makan disana aja."
*****
"Lo kenapa sih Ji?" Keenan menatap bingung Jion yang sejak tadi terlihat gelisah.
"Perasaan gue gak enak, Hoshi sama Nadhif baik-baik aja kan?" Jion dengan cepat mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Nadhif, tidak ada satu menit Nadhif sudah membalas dengan mengirimkan foto Hoshi yang sedang makan.
"Hoshi sama Nadhif baik-baik aja tapi kenapa gue gak tenang ya?" Jion mengusak rambutnya hingga kasar.
"Udah tenang aja, ambil nafas dulu, minum." Jion menuruti Keenan yang sudah menyodorkan segelas minuman padanya.
"Hoshi aman, Nadhif juga masih ada disana, lo gak perlu khawatir. Habis ini lo pulang aja, tugas kita gampang, nanti di lanjut kalau lo udah tenang." Keenan tersenyum sambil mengatakan hal itu pada Jion.
"Thanks bang Keen, gue balik dulu habis ini, gue beneran gak bisa tenang." Keenan mengangguk dan membiarkan Jion membereskan barang-barang nya.
"Kalau udah tenang, hubungin gue, nanti gue kesana." Jion mengangguk.
"Jangan lupa bawain pacar lo boneka baru, biar lo gak di usir." Keenan tertawa saat mendengar ucapan Jion.
Ya, dia sudah tau jika Hoshi memberinya syarat untuk membawa boneka setiap kali main, tidak perlu besar asal ada. Tapi bagi Keenan membawa boneka besar dan setiap hari pun tidak akan menjadi masalah untuknya, asal Hoshi senang.
"Gue balik dulu bang."
*****
Seorang pemuda melangkahkan kakinya keluar dari bandara, rambutnya yang semula berwarna biru kini sudah kembali hitam, dan juga audah di potong sedikit pendek.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Hoshi
FanfictionKavi Aland Daran, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun harus meregang nyawa karena kecelakaan saat sedang melakukan balap liar. Namun bukannya beristirahat dengan tenang, Kavi justru terbangun di tubuh seorang remaja berusia tujuh belas tahun...
