94. Pembalasan

334 58 4
                                        


.
.
.
.
.
Kavi tau tidak akan mudah membalas semua rasa sakit yang dia dan Hoshi rasakan, karena bagaimana pun satu orang yang tersisa merupakan orang yang dekat dengan mereka.

Kavi menatap layar ponselnya yang baru saja menghitam setelah panggilannya dengan Leo diakhiri, sahabatnya itu baru saja memberikan informasi tentang orang terakhir yang dia incar.

"Dia nyoba buat cari pertolongan ya?" Kavi tersenyum miring, dia ingin sekali langsung menemui pemuda itu di rumah nya, namun hal itu bisa membuat dia lari.

"Gue bakal pastiin dia tau apa artinya kesakitan, dia harus membayar semua rasa trauma Hoshi." Kavi mengepalkan tangannya.

Sebulan di manado kemarin, Kavi mencari informasi dengan mendatangi satu persatu keluarga dari para pelaku, dan mereka semua seperti sepakat menyebut nama Liam dalam cerita mereka.

Mereka juga meminta maaf pada Kavi dan Hoshi karena termakan rayuan Liam saat itu, mereka memang masih kecil saat itu, sehingga mereka langsung menerima sebuah karangan cerita dari adik kelas yang selalu mengikuti mereka itu.

"Liam... Liam... Keluarga lo emang bersih, mereka gak pernah terlibat tindak kriminal, tapi ternyata anak bungsunya justru pelaku kriminal."

Tok

Tok

Tok

Kavi menoleh ke arah pintu kamarnya yang tertutup rapat, hal itu membuat Kavi berjalan untuk membuka pintu kamarnya.

Cklek

Kavi mengernyit saat melihat Nyzan berdiri di depan kamarnya.

"Gue mau ngomong sama lo Kav, gue masuk ya." Kavi hanya menghela nafas panjang saat Nyzan langsung menerobos masuk ke kamarnya.

"Apa yang mau lo omongin?" Kavi langsung bertanya setelah menutup pintu kamarnya.

"Lo gak suka sama bang Keenan ya?" Alis Kavi mengernyit.

"Suka dalam hal apa?" Nyzan merengut.

"Maksud gue lo gak suka sama bang Keenan, karena dia pacaran sama Hoshi." Nyzan melirihkan suaranya, dia sebenarnya juga ngeri saat harus bertanya langsung pada Kavi.

"Gue gak pernah ada masalah sama Keenan, karena gue tau kalau dia orang baik." Nyzan menatap bingung pada Kavi.

"Terus kenapa lo larang Hoshi pacaran sama bang Keenan?" Kavi mengedikan bahunya.

"Ada jaminan yang gue mau dari Keenan, dan itu menyangkut Hoshi. Gue gak akan biarin Hoshi deket sama keluarga Jerrol kalau bajingan itu masih hidup bebas disana."

*****

Liam menatap lekat sang kakak yang baru saja mengatakan jika besok dia ingin mengajak Hoshi ke rumah mereka, dia tersenyum namun hatinya memaki.

Liam sebenarnya tidak suka jika sang kakak dekat dengan Hoshi, dia tidak rela jika perhatian sang kakak akan teralih darinya.

"Liam kenapa?" Liam segera mengulas senyum dan menggeleng.

"Gak papa, oh iya ma, pa, Liam mau ijin keluar ya, mau nginep sekalian di tempat Riki." Elina mengangguk.

"Iya sudah, tapi jangan lupa besok pulang loh, besok abang mau bawa pacarnya kesini." Liam mengangguk kecil.

"Siap ma, kalau gitu Liam berangkat ya ma, pa."

Liam sengaja menggunakan nama Riki sebagai alasan, karena yang kedua orang tuanya ketahui jika Riki adalah sahabat Liam meskipun berbeda jurusan.

Liam keluar menggunakan motor, tanpa menyadari jika sedari dia keluar dari rumah sudah ada beberapa orang yang mengikutinya.

Liam baru menyadari hal itu saat motornya di pepet oleh mobil sedan hitam hingga membuatnya terpaksa berhenti.

Little HoshiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang