.
.
.
.
.
Hoshi tidak menggeser sedikitpun tubuhnya dari sisi Nyzan, bahkan Hoshi terlihat lebih banyak menunduk dan memainkan jari nya.
Nyzan beberapa kali menusuk pipi Hoshi dengan jari telunjuknya dan itu membuat Hoshi menoleh pada Nyzan yang hanya tersenyum tanpa merasa bersalah.
Nafian yang memperhatikan tingkah Nyzan pada Hoshi hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Jangan di ganggu terus Zan, nanti kalau Hoshi ngambek dia gak mau sama lo." Nyzan hanya bisa mengangguk kecil, namun tetap menepuk pipi Hoshi.
"Hoshi, kenapa roti bakarnya gak dimakan?" Hoshi menggeleng.
"Banyak orang, kenapa mereka ngeliat kesini terus?" Nafian yang mendengar jawaban Hoshi langsung menatap sekeliling, memang benar banyak orang yang menatap ke arah meja mereka.
"Gak usah perhatiin mereka, mereka pasti cuma penasaran sama kamu." Hoshi kembali menunduk, namun kali ini Nyzan kembali membuat kepala Hoshi menegak.
"Katanya kamu mau belajar adaptasi biar bisa kuliah disini, jadi abaikan aja mereka, anggap mereka patung." Hoshi tanpa sadar mengerucutkan bibirnya saat mendengar ucapan Nyzan.
"Kak Zan gak tau aja kalau mereka serem." Nyzan terkejut mendengar panggilan Hoshi padanya, namun tetap menerima.
"Nafian, Nyzan tumben cuma berdua, Jion mana?" Baik Nafian dan Nyzan menoleh secara serempak pada seorang gadis yang baru saja menghampiri meja mereka.
"Jion masih ada kelas, gak bosen lo nyariin Jion mulu?" Gadis itu menggeleng, hingga netranya menatap Hoshi yang tenang dalam rangkulan Nyzan.
"Oh, siapa ini? Manis juga, boleh buat gue gak? Lumayan buat cadangan kalau Jion masih aja cuek." Hoshi langsung menegang saat mendengar gadis itu menyebut dia manis.
"Mulut lo di jaga, gak semua orang nyaman sama omongan gak bermutu lo!" Nyzan menatap tajam gadis itu saat merasakan badan Hoshi menegang.
"Apa sih? Gue kan muji dia kenapa lo yang sewot, gue bilangin Jion tau rasa lo!" Nyzan berdecak kesal.
"Kayak Jion pernah dengerin aduan lo aja." Gadis itu merengut, namun jika Nafian boleh jujur masih jauh lebih imut Hoshi.
"Mending lo pergi deh, lo ganggu kita!" Gadis itu menggeleng dan akan duduk di sebelah Hoshi sebelum tangannya di tarik dengan kasar oleh Nadhif yang baru saja datang.
"Minggir, lo gak diterima di meja ini." Gadis itu mendelik kesal saat Nadhif seenak jidat duduk di sebelah Hoshi yang kini menatap polos padanya.
"Hai Hoshi, dia gak gangguin kamu kan?" Hoshi menggeleng, Nadhif yang melihat itu langsung menangkup pipi Hoshi dan mengunyelnya pelan.
"Ah kak Nadhif!" Nadhif tertawa pelan saat Hoshi merengut.
"Lah ngapain lo duduk sini? Lo gak denger omongan Nadhif tadi?" Gadis itu tidak menghiraukan ucapan Nafian dan tetap duduk di sebelah pemuda itu, gadis itu menatap Hoshi lekat.
"Lo anak baru di circle mereka ya?" Hoshi tidak menghiraukan pertanyaan gadis itu dan lebih fokus menawarkan roti bakar miliknya pada Nadhif.
"Heh! Gue nanya ke lo sialan!" Nadhif menutup telinga Hoshi saat mendengar umpatan gadis itu.
"Udah gue bilang jaga mulut lo! Kalau sampai Jion tau lo ngumpatin anak di sebelah gue ini, gue yakin lo pasti habis Ratna." Gadis bernama Ratna itu mencibir ucapan Nyzan.
"Memang dia siapa? Dia itu gak penting buat Jion, secara gue ini cewek yang di suka sama Jion, Jion pasti belain gue." Alis Hoshi menaut saat mendengar ucapan narsis Ratna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Hoshi
FanfictionKavi Aland Daran, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun harus meregang nyawa karena kecelakaan saat sedang melakukan balap liar. Namun bukannya beristirahat dengan tenang, Kavi justru terbangun di tubuh seorang remaja berusia tujuh belas tahun...
