89. Penolakan Ochi

404 56 5
                                        


.
.
.
.
.
Suara tangisan pelan dari dalam kamar Hochi membuat Jion dan Riku kalang kabut, padahal sepuluh menit lalu, saat mereka mengecek Hoshi masih tertidur pulas.

Pagi ini Jion berencana menemui Leo saat mendapat kabar dari Nafian jika Kavi bersama Leo semalam, meskipun Nafian tidak mengatakan apa yang terjadi semalam saat mereka bertemu.

"Dek, kenapa?" Jion mendekat ke arah ranjang, sedangkan Riku berjalan ke arah lemari penyimpanan untuk mengambil boneka milik Ochi.

"Mau kakak baik! Abang.... Kakak baik mana??" Jion mencoba tersenyum dan mengelus kepala Ochi.

"Kakak baik belum pulang, nanti ya, pasti kantornya kakak baik lagi sibuk." Ochi menggeleng heboh, karena sejak kemarin hal yang sama sudah di ucapakan terus oleh Jion.

"Bohong... Bohong... Abang bohong... Mau kakak baik..."

"Kakak baik marah Ochi... Ochi maaf... Ochi nakal... Abang... Kakak baik marah..." Jion segera membawa Ochi kedalam gendongannya.

Sudah dua bulan Ochi tidak keluar, namun karena rasa bersalah Hoshi, akhirnya Ochi kembali bangun.

"Iya nanti biar abang jemput kakak baik ya, sekarang Ochi mandi dulu gimana? Ochi boleh main bebek." Ochi menghentikan tangisnya dan menatap ke arah Jion.

"Main bebek boleh?" Jion mengangguk.

"Iya boleh, gimana? Mau mandi?" Ochi mengangguk antusias, seperti melupakan keinginannya tadi.

"Mauuu... Rikuuu... Ochi mandi main bebek." Riku tersenyum dan mengangguk.

"Ya udah mandi sana, nanti abang buatin telur bulat sama sosis buat sarapan, okey?" Ochi kembali mengangguk.

"Abang Jiji, mau Ijan!!! Mau mam sama sama Ijan!!" Jion terpaksa mengangguk.

"Kayaknya lo harus cepet telpon Nyzan bang, sebelum Ochi mulai rewel lagi."

*****

"IJAAAANNNN...!!!" Ochi langsung memekik girang saat melihat Nyzan datang bersama Nadhif dan Nafian.

"Ochii, udah mam?" Ochi menggeleng.

"Belum... Ochi tunggu Ijan! Mau mam sama sama Ijan!!" Nyzan menoleh sebentar pada Jion yang mengangguk.

"Okey kalau gitu kita mam dulu, Ochi mau mam apa?" Nyzan menggandeng tangan Ochi dan mengajaknya ke dapur.

"Mam telur bulat! Abang sudah buat, tapi Ochi mau sayur Ijan." Nyzan mengangguk dan segera memindahkan sup sayur yang dia bawa dari rumah.

"Nah, ini tadi mama nya Ijan yang masak, buat makan Ochi sama Ijan disini. Mam sayur ini ya?" Ochi mengangguk patuh.

Sedangkan di ruang keluarga Nadhif dan Nafian menatap Jion juga Riku lekat.

"Kavi udah tau ya kalau Hoshi jadian sama Keenan?" Jion mengangguk.

"Jangan keras-keras, Ochi tau kalau Kavi udah balik, dari kemarin gue susah buat ngebujuk dia. Kavi sendiri gak bisa gue hubungi, meskipun tersambung." Nafian yang mendengar itu menghela nafas panjang.

"Bang Keenan semalem dihajar sama kak Kavi di sirkuit, gue gak tau gimana awalnya tapi yang gue denger kak Kavi gak akan kasih restu buat bang Keenan." Jion memejamkan matanya, padahal niatnya baik dengan mengijinkan Hoshi merasakan apa yang seharusnya anak seusianya rasakan, tapi kenapa jadi serumit ini.

"Nanti gue mau ketemu Leo, lo bilang semalem Kavi sama Leo kan? Gue harap dia mau pulang buat Ochi."

"Ya semoga, gue gak bisa kalau lihat Ochi nangis kayak tadi pagi bang." Jion mengangguk saat Riku mengatakan hal itu.

"Fian, lo disini aja ya selama gue sama Nadhif ke tempat Leo, tolong jagain Ochi, ada Riku sama Nyzan juga kan." Nafian mengangguk paham.

"Tenang aja, gue pasti jagain Ochi, kalian pergi aja, bawa pulang kak Kavi, karena kayaknya kita semua butuh penjelasan untuk itu."

*****

"Kavi gak ada di tempat gue, semalem setelah dari sirkuit dia bilang mau pulang."

Ucapan Leo terus terngiang di telinga Jion, karena lagi-lagi dia tidak bisa menemukan dimana adik nya itu.

"Gue harus cari lo kemana lagi Kav? Sorry kalau gue bikin lo marah kayak gini, bukan maksud gue kayak gini." Jion mengusap wajahnya, dia baru saja mengantarkan Nadhif ke kampus, karena memang Nadhif punya jadwal kuliah.

"Gue harus bilang apa ke Ochi kalau lo gak pulang lagi hari ini?" Jion memutuskan menunggu Nadhif di kampus, karena kekasihnya itu hanya ada kelas selama satu jam.

Sedang disisi lain, Kavi sedang berbaring di ranjang di kamar apartemen nya. Dia sengaja tidak pulang karena tidak mau kelepasan marah lagi pada Jion, terlebih pada Hoshi.

Kavi tau jika Jion dan Riku mencarinya, keduanya sudah mengirim banyak pesan ke nomornya, juga mencoba menghubunginya, meskipun berakhir dia abaikan, begitu juga Nyzan yang mengatakan jika Ochi bangun hari ini.

"Gue gak bisa pulang dalam keadaan masih emosi, tapi Jion emang bener-bener bikin gue emosi!"

"Kenapa dia gak cari tau dulu gimana keluarga Keenan, asal di bolehin aja! Sialan!"

"Gue akan pastiin kalau Hoshi gak akan mengulang traumanya, bajingan itu harus dapet balasannya dulu, gak peduli siapa yang harus bertanggung jawab soal itu." Kavi mengepalkan tangannya, bukan tanpa alasan dia melarang Hoshi bersama Keenan.

Ada alasan kuat yang membuat dia seperti itu, dan harusnya Jion tau itu. Tapi ternyata Jion justru santai melepas Hoshi ke tangan Keenan, dengan alasan jika Keenan dan keluarga adalah orang baik.

Keenan memang baik, tapi bagi Kavi tidak dengan keluarganya.

"Gue yakin mereka gak ada yang tau soal ini."

*****

"Ndak mau bang Kinkin... Jauh...jauh... Pergi..."

"Pergi... Pergi... No.. no... Kesini."

"Abang Kinkin jauh jauh... Ochi ndak mau sama sama abang Kinkin!"

Ochi menangis dan terus mengusir sosok Keenan yang datang ke mansion, pemuda mungil itu bahkan sudah bersembunyi di belakang tubuh Nyzan.

Ochi membuang boneka yang di berikan Keenan barusan, juga mengusir pemuda itu, hal itu tentu membuat yang lain terkejut. Karena bahkan sebelum ini Ochi tidak pernah mengusir Keenan.

"Ochi, abang Keenan nya mau ketemu kamu loh." Ochi menggeleng dan semakin menyembunyikan dirinya di belakang tubuh Nyzan saat Irvin mencoba membujuknya.

"Ochi ndak mau abang Kinkin! Ochi mau kakak baik!"

"Kakak baik marah Ochi nanti, Ochi ndak mau abang Kinkin."

"Riku... Riku... Riku... Ndak mau... No..." Riku yang tidak tega mendengar tangis Ochi segera mendekat dan menggendong sepupu mungilnya itu.

"Kenapa gak mau sama bang Keenan?" Ochi menggeleng sambil menyembunyikan wajahnya di leher Riku.

"Kakak baik marah marah... Ochi ndak mau kakak baik marah."

"Kakak baik ndak suka Ochi sama sama abang Kinkin. Kakak baik marah Ochi Riku." Riku menghela nafas panjang saat mendengar ucapan kacau Ochi.

"Iya iya kalau gitu Ochi ke kamar aja ya? Mau sama Ijan, Sakil atau Riku?" Ochi mengangguk namun masih sesenggukan.

"Ijan... Mau Ijan... Sakil nakal!" Irvin terkejut Ochi mengatakan hal itu, padahal dia berharap jika Ochi akan memilihnya.

"Iya sini sama Ijan, Riku biar disini ya?" Ochi mengangguk dan menyambut uluran tangan Nyzan.

"Salah gue apa? Kenapa Ochi makin gak mau sama gue?"

*****

Tbc

*****

Little HoshiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang