.
.
.
.
.
Keenan tidak tau apa yang salah dengan nya maupun keluarganya, keluarganya selalu bersih dan tidak pernah terlibat dengan kasus apapun.
Keluarganya juga bukan orang yang akan menghakimi seseorang karena kekurangan, bahkan kedua orang tuanya sudah lama ingin bertemu Hoshi, sejak dirinya mengatakan jatuh cinta pada pemuda mungil itu.
Tapi entah kenapa Kavi sangat tidak menyukai nya? Terlebih Hoshi terlihat lebih menuruti Kavi dibanding Jion.
"Hah." Keenan menghela nafas panjang, pikirannya tidak bisa fokus pada pekerjaan atau pun kuliahnya, dia hanya ingin bertemu Ochi.
Biasanya saat Ochi muncul, dia akan membawakan boneka agar pemuda itu terus tersenyum ceria, tapi kemarin bahkan bonekanya di buang begitu saja oleh Ochi.
"Kenapa Kavi gak suka gue jadian sama Hoshi? Gak mungkin cuma perkara gue temen nya Jion kan? Atau sebenernya ada yang dia tau soal keluarga gue tapi gue gak tau."
"Ck, gue pusing! Tapi gue kangen sama Ochi."
Keenan mengusak rambutnya kesal, dia rindu tapi dia belum siap jika wajahnya kembali babak belur oleh Kavi.
"Yang penting ketemu Ochi dulu! Urusan dihajar lagi sama Kavi bisa diterima nanti."
*****
"Kavi itu jahat Jion, dia bisa aja nyelakain Hoshi nantinya!" Jion menggeleng saat Irvin lagi-lagi mengatakan jika Kavi jahat.
"Irvin, kalau Kavi memang mau nyelakain Hoshi, dia gak akan ngorbanin dirinya sendiri buat ngelindungi Hoshi sepuluh tahun lalu, apa lagi sampai dia amnesia." Irvin merengut, dia ingin marah tapi tidak ada yang membelanya.
"Kamu istirahat aja, jangan sampai Kavi denger omongan kamu yang kayak gini, kamu gak mau di cekik lagi kan?" Irvin menunduk dan memeluk perut Riku sebagai jawabannya.
"Dia serem Riku, kenapa kalian biarin dia deket sama Hoshi, kalau Hoshi kenapa-kenapa gimana?" Riku menggeleng sambil mengelus pundak pacarnya itu.
"Itu gak mungkin, kak Kavi itu sayang sama Hoshi, justru Hoshi bakal aman kalau ada sama kak Kavi."
Disisi lain, Keenan baru saja keluar dari kamarnya, dia akan pergi ke mansion Gaillard.
"Mau kemana bang?" Keenan tersenyum saat melihat adik nya bertanya, karena tumben sekali adiknya itu ada di rumah.
"Mau ke rumah Jion, mau ngapel, kenapa?" Keenan melihat sang adik menggeleng.
"Ngapain juga ikut ke sana, lagian abang nih gak kapok aja habis di hajar sama bang Jion kan?" Keenan menggeleng.
"Sok tau banget kamu ini Liam, Jion gak pernah ngehajar abang kok." Liam, adik Keenan itu mengernyit.
"Loh katanya kemarin abang di hajar kakak nya Hoshi, gimana sih?" Keenan tertawa.
"Kan kakak nya Hoshi, bukan abang nya Hoshi." Liam semakin bingung.
"Memang sejak kapan Hoshi punya kakak selain bang Jion?" Liam bergumam pelan, meskipun sangat pelan tapi Keenan masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Kamu ngomong apa dek?" Liam segera menggeleng.
"Gak, sana berangkat deh, aku doain abang gak dihajar lagi deh sama kakaknya Hoshi yang aku gak tau namanya." Keenan tertawa.
"Abang pasti di hajar lagi sih, secara Kavi gak setuju abang jadian sama adeknya." Liam terdiam dan terpaku saat Keenan menyebut nama Kavi.
"Kavi? O-oh nama kakak nya Hoshi itu Kavi." Keenan mengangguk dan tersenyum.
"Kalau gitu abang pergi dulu." Liam hanya mengangguk, namun tangannya terkepal erat.
"Gimana ini? Kenapa dia ada di sini? Jadi kakaknya Hoshi lagi?!"
*****
"Mau apa lo?" Kavi langsung memasang wajah dingin saat melihat Keenan.
"Gue mau ketemu Ochi Kav." Kavi tertawa sinis.
"Kayaknya pukulan gue kurang buat lo? Mau lagi? Atau lo mau gue buat kalah lagi di sirkuit?" Keenan tersenyum tipis.
"Gue gak masalah kalau lo hajar lagi Kav, tapi please ijinin gue ketemu sama Ochi." Kavi menggeleng.
"Sebelum lo bisa kasih jaminan lo ke gue, jangan harap lo bisa ketemu Ochi." Setelah mengatakan itu Kavi beranjak pergi.
Entah kenapa hari ini emosinya benar-benar diuji, baik itu oleh Irvin maupun Keenan. Kavi menahan semua emosinya karena tidak ingin Ochi melihatnya marah.
"Gak ada yang boleh nyakitin adek gue, apapun yang terjadi."
Kavi tidak pernah menyangka akan kembali mengalami hal seperti ini, kali ini dia akan benar-benar melindungi Hoshi.
Drrt
Drrt
Drrt
Kavi segera mengambil ponselnya, membaca pesan yang dikirim kan Rico, pemuda tinggi itu segera mengambil kunci motornya juga dompetnya.
"Ochi." Ochi yang sedang bermain bersama Nyzan langsung mendongak, pemuda manis itu tersenyum dan melambai pada Kavi.
"Kakak baik ayo main!!" Kavi tersenyum.dan duduk di sebelah Kavi, tangannya mengelus lembut kepala Ochi.
"Kakak harus ke kantor sebentar ya, boleh kakak pergi?" Ochi langsung memasang wajah melas.
"Lama? Nanti kakak baik ndak pulang lagi?" Kavi tersenyum.
"Sebentar kok, nanti jam lima kakak pasti udah pulang." Ochi menatap Nyzan yang mengangguk.
"Janji sebentar ya??" Ochi menyodorkan jati kelingking nya pada Kavi.
"Kakak janji, nanti kalau jam lima kakak belum pulang, suruh Ijan telpon kakak, okey?" Ochi mengangguk.
"Okey kakak baik, tapi kiss kiss dulu." Ochi segera mencium pipi Kavi kanan kiri.
"Dadah kakak baik, cepat cepat pulang ya..."
*****
"Ochi mau ketemu bang Keenan gak?" Ochi yang sibuk bermain langsung terdiam, tapi setelah itu menggeleng.
"Ndak mau nanti kakak baik marah Ijan." Nyzan tersenyum.
"Kakak baik gak akan marah, nih lihat kakak baik bolehin Ochi ketemu sama abang Keenan." Ochi mengerjap saat Nyzan menunjukan chat dari Kavi yang mengatakan jika Ochi boleh bertemu dengan Keenan, namun tetap harus diawasi.
"Boleh? Tapi Ijan jangan pergi, Ochi takut kakak baik marah marah Ochi." Nyzan tersenyum dan mengangguk.
"Turun kebawah yuk, sekalian ada kak Nadhif juga." Ochi mengangguk antusias.
"Mauuu.... Ijan, ayo turun..." Nyzan segera mengajak Ochi turun ke lantai bawah, dan memastikan jika Keenan belum pergi.
"Ochii, sini lihat siapa yang dateng. Ada bang Keenan nih, sini dulu." Ochi mendekat saat Irvin memanggilnya.
"Abang Jiji." Jion tersenyum dan membuka tangannya.
Grep
"Abang, nanti kakak baik marah marah... Ada abang Kinkin." Jion menggeleng.
"Kakak baik gak akan marah, itu abang Keenan bawa boneka buat Ochi." Ochi menggeleng.
"Ndak mau, takut." Keenan tetap tersenyum saat mendengar gumaman Ochi.
"Ini, kakak baik nya Ochi gak akan marah kok, abang Kinkin udah bilang ke kakak baik tadi." Setelah Keenan mengatakan itu barulah Ochi mau menerima boneka bebek pemberiannya.
"Ochi maaf abang... Ochi ndak mau kakak baik marah marah Ochi." Keenan mengangguk.
"Iya abang ngerti, Ochi gak perlu minta maaf, biar abang yang buktiin ke kakak baik kalau abang gak jahat ya?" Ochi mengangguk sambil memeluk boneka bebek baru nya.
"Tunggu abang Chi, abang akan terus berjuang buat dapat restu dari kakak kamu itu."
*****
Tbc
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Hoshi
FanfictionKavi Aland Daran, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun harus meregang nyawa karena kecelakaan saat sedang melakukan balap liar. Namun bukannya beristirahat dengan tenang, Kavi justru terbangun di tubuh seorang remaja berusia tujuh belas tahun...
