.
.
.
.
.
Nadhif terlihat bingung saat Hoshi memaksa ingin keluar, hal itu terjadi setelah Hoshi mendengar bentakan Kavi pada Jion.
"Hoshi sini dulu sama kak Nadhif ya, nanti kak Kavi nya kesini." Hoshi menggeleng.
"Mau kak Kavi, nanti kak Kavi pergi lagi." Hoshi kembali menggeleng dan mencoba melepaskan pelukan Nadhif
"Hoshi, nanti kak Kavi pasti kesini, nanti kalau kamu keluar dimarahin sama kak Kavi gimana?" Mendengar itu Hoshi langsung terdiam.
"Gak mau, tapi aku kangen kak Kavi!"
Cklek
Jion membuka pintu kamar Hoshi dengan kunci cadangan, dan melihat bagaimana adiknya itu berada di pelukan Nadhif.
"Dek, kenapa bangun? Mimpi buruk?" Hoshi langsung menatap Jion lekat.
"Mau kak Kavi abang, mana kak Kavi?" Jion terdiam sejenak dan menggeleng.
"Gak ada kak Kavi dek, kak Kavi belum pulang." Nadhif yang mendengar penjelasan Jion tampak terkejut karena kekasihnya itu berbohong pada Hoshi.
"Bohong! Tadi aku denger suara kak Kavi! Abang bohong!" Jion memejamkan matanya sejenak sebelum mendekati Hoshi.
"Dek..." Hoshi menggeleng.
"Kak Kavi marah, kak Kavi marah kan bang?" Jion tidak tau harus menjawab apa sekarang, karena Kavi memang marah padanya.
"Kak Kavi gak mau aku pacaran sama bang Keenan, kak Kavi pasti marah sama aku, aku mau kak Kavi abang!"
Grep
Jion menggantikan Nadhif memeluk Hoshi yang mulai menangis.
"Kak Kavi gak marah sama kamu dek, kak Kavi marah nya sama abang, jangan nangis ya, nanti kita ketemu kak Kavi." Hoshi menggeleng.
"Gara-gara aku, kak Kavi marah gara-gara aku, mau kak Kavi abang." Jion hanya mengangguk.
"Iya nanti kak Kavi kesini, biarin kak Kavi tenangin dirinya dulu ya. Kak Kavi gak pernah marah sama kamu." Hoshi menatap Jion yang tengah memeluknya.
"Loh Hoshi kenapa nangis?" Riku segera mendekat bingung saat melihat Hoshi menangis di pelukan Jion.
"Riku, kak Kavi marah sama aku." Riku terkejut mendengar aduan Hoshi, pemuda itu menatap ke arah Jion dan Nadhif bergantian.
"Sini deh sama aku, nanti kita telfon kak Kavi ya, tapi sekarang kak Kavi masih ke kantor, kan sekarang kak Kavi kerja." Hoshi mengerjap polos mendengar ucapan lembut Riku.
"Beneran?" Riku mengangguk.
"Sini, kita ke halaman belakang aja ayo, ada Sakil juga, dia bawa puding susu buat kamu." Hoshi langsung mengangguk dan menerima uluran tangan Riku.
Jion dan Nadhif yang melihat itu tentu senang, paling tidak Hoshi bisa tenang sebelum mereka membawa Kavi pulang.
"Kamu gak boleh minta puding nya ya, buat aku semua!"
*****
"Kenapa kamu harus bohong ke Hoshi sih Rel?" Jion mengusap wajahnya sebelum menatap wajah manis Nadhif.
"Hoshi bangun gak lama sejak kalian ngobrol, dia denger gimana Kavi marah sama kamu karena kasih ijin pacaran." Jion tersenyum sendu.
"Kavi marah karena khawatir, aku tau dia gak bener-bener marah soal Hoshi yang pacaran sama Keenan, tapi dia marah soal gimana nanti perlakuan keluarga Keenan sama Hoshi." Nadhif mengernyit.
"Tapi kenapa harus marah? Kita semua tau gimana keluarga nya Keenan, mereka gak akan memperlakukan Hoshi dengan buruk." Jion mengangguk.
"Kita semua tau, tapi Kavi gak Dhif. Trauma Kavi dan Hoshi sama, mereka sama-sama takut di tinggalkan oleh satu sama lain nya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Hoshi
FanfictionKavi Aland Daran, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun harus meregang nyawa karena kecelakaan saat sedang melakukan balap liar. Namun bukannya beristirahat dengan tenang, Kavi justru terbangun di tubuh seorang remaja berusia tujuh belas tahun...
