.
.
.
.
.
Jion dan Nadhif kembali lebih dulu ke jakarta setelah mendengar kabar jika Hoshi tiba-tiba saja pingsan, bahkan Riku menyampaikan jika trauma Hoshi kambuh meskipun pemuda itu tidak menunjukan gejala apapun.
Endaru dan Hana memang tinggal lebih lama di manado, bukan mereka sudah tidak peduli pada Hoshi, namun mereka melakukan itu agar Hoshi tidak mencurigai apapun.
Jion menggenggam erat tangan Hoshi yang terasa dingin, entah apa yang membuat adiknya seperti ini. Menurut cerita Nyzan, Nafian serta Riku, mereka hanya mengajak Hoshi ke sirkuit, bahkan Riku memastikan tidak ada ancaman untuk Hoshi.
"Rel, istirahat dulu gih." Jion hanya mengangguk saat Nadhif mengatakan hal itu.
"Di bawah ada Irvin sama bang Keenan, biarin Hoshi istirahat dulu." Jion menatap lekat pada Nadhif.
"Gue harus apa ya Dhif? Gue bingung mau nyampein hal itu ke Hoshi kayak gimana." Nadhif terdiam, memang yang menjadi pikiran Jion adalah tentang bagaimana cara nya memberitahu Hoshi tentang Kavi.
"Obrolin sama Riku sama yang lain dulu yuk, siapa tau mereka bisa kasih saran." Jion akhirnya mengangguk.
Pemuda tinggi itu bangkit dan perlahan meninggalkan kamar Hoshi, tentu saja setelah memastikan Hoshi nyaman di bawah selimutnya.
"Dhif, gue boleh peluk lo sebentar?" Nadhif yang berjalan di depan Jion menoleh dan mengangguk.
"Sini."
Grep
"Semua pasti baik-baik aja Rel, gue tau lo kehilangan dan Hoshi pasti juga bakal ngerasain hal itu, tapi lo harus inget pesan Rico kemarin."
"Lo harus cari sahabat Kavi yang namanya Leo, dia ada di jakarta sekarang, dan dia adalah saksi kunci kecelakaan Kavi. Rico minta kalian buat kasih keadilan buat Kavi, karena itu lo harus kuat. Kita semua pasti bantuin lo buat nemuin dia." Jion tersenyum saat Nadhif mengatakan hal itu.
"Thanks ya Dhif, gue gak tau gimana emosi gue kalau lo gak ikut ke manado kemarin, pasti gue udah ngebakar keluarga bajingan itu."
*****
"Abang?" Jion tersenyum saat Hoshi membuka matanya, pemuda mungil itu baru saja sadar menjelang malam.
"Iya dek, apa yang kamu rasain?" Hoshi mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menggeleng pelan.
"Kepala ku sakit dikit." Jion mendekati sang adik setelah Hoshi mengatakan itu.
"Capek ya? Kok bisa pingsan sih?" Hoshi menyentuh tangan Jion yang mengelus kepalanya.
"Gak tau, tiba-tiba aja lemes. Abang kenapa udah disini? Katanya satu minggu disana?"
"Udah di beresin sama sekertaris opah, jadi abang langsung pulang waktu Riku bilang kamu pingsan." Hoshi merengut saat mendengar jika Riku melaporkannya.
"Kamu capek ya dek? Habis nyoba sirkuit?" Hoshi mengangguk.
"Aku gak capek bang, tapi emang dari tadi pagi perasaan ku gak enak, pingin nangis tapi gak bisa nangis, sampai sesek." Jion menggigit pipi bagian dalamnya saat mendengar Hoshi mengatakan itu.
"Makan dulu yuk, di bawah ada yang lain juga." Hoshi mengangguk kecil.
"Abang tau aja aku laper, boleh minta telur setengah mateng gak?" Jion tertawa kecil dan mengangguk.
"Boleh, asal tetep makan sayur. Ayo!" Jion menatap bingung pada Hoshi yang hanya diam di kasurnya.
"Kenapa dek?" Hoshi menatap melas pada Jion.
"Kaki ku masih lemes bang, aku makan disini aja ya?" Jion menggeleng pelan.
"Sini naik, kita makan di bawah." Hoshi menatap punggung Jion ragu, namun tetap membawa tubuhnya menempel pada punggung Jion.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Hoshi
Fiksi PenggemarKavi Aland Daran, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun harus meregang nyawa karena kecelakaan saat sedang melakukan balap liar. Namun bukannya beristirahat dengan tenang, Kavi justru terbangun di tubuh seorang remaja berusia tujuh belas tahun...
