44. Harapan yang patah

485 81 3
                                        


.
.
.
.
.
Hoshi tidak tau kenapa hari ini suasana hatinya sedang sedih, dia ingin menangis namun dia tidak bisa melakukannya.

Hoshi hanya bisa berdiam diri di kamar sejak dia bangun tidur, hingga membuat Riku bingung dan khawatir.

"Hoshi, mau sarapan apa?" Hoshi yang mendengar pertanyaan Riku hanya menggeleng.

"Lo gak mau sarapan?" Hoshi kembali menggeleng.

"Hei, dek, liat gue, ada apa? Kenapa gak mau sarapan?" Hoshi menggigit bibir bawahnya saat menatap wajah Riku.

"Gak tau, dari tadi pagi perasaan ku gak enak, aku sedih tapi gak tau karena apa, aku pingin nangis tiba-tiba tapi aku gak mungkin ngelakuin itu kan?" Riku menghela nafas panjang.

Grep

Tanpa banyak kata Riku memeluk tubuh Hoshi, mengusap lembut punggung sepupunya itu.

"Mau jalan-jalan gak? Naik motor, kita ajak Nafian sama Nyzan, gimana?" Hoshi menggigit bibir bawahnya sebelum mengangguk.

"Tapi aku gak tau daerah sini Riku." Riku tersenyum tipis.

"Gak usah khawatir, nanti lo bisa hafalin jalannya, nanti sekalian gue ajak ketempat yang seru." Alis Hoshi menukik saat mendengar Riku mengatakan itu.

"Kemana? Gak akan aneh-aneh kan?" Riku menggeleng.

"Gak akan, itu tempat aman, gue, Nyzan sama Nafian sering kesana, bahkan bang Keenan sama bang Jion juga." Mendengar hal itu akhirnya Hoshi mengangguk.

"Ya udah deh." Riku lega karena Hoshi tidak menolak nya.

"Tapi sarapan dulu, kamu mau sarapan apa biar aku bilangin ke bik Indah?" Hoshi terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menatap ke arah Riku.

"Mau ayam krispi aja, sama sayur kangkung, bisa gak?" Riku mengangguk.

"Bisa, sana kamu mandi dulu, aku tunggu di bawah ya."

*****

Jion menghela nafas kasar saat memantau sebuh rumah mewah dari dalam mobil yang dia sewa, di sebelahnya Nadhif tampak membaca beberapa lembar kertas yang kemarin di berikan oleh orang suruhan Jion.

"Dhif, ini bener rumah nya kan?" Nadhif menatap keluar jendela dan mencocokan lagi alamat dengan yang tertulis di kertas.

"Kita sama-sama gak ada yang tau daerah sini, sebentar biar gue tanya orang dulu." Jion sebenarnya ingin melarang, tapi Nadhif sudah terlanjur keluar dari mobil.

Pemuda manis itu bangkit dan berjalan ke arah toko yang tidak jauh dari tempat mereka, beruntung rumah itu tidak berada di dalam perumahan elit, jadi tidak sulit untuk Jion mengawasi rumah itu.

Jion tidak tau apa yang di tanyakan Nadhif pada penduduk sekitar, namun Jion jelas melihat perubahan ekspresi sahabatnya itu saat kembali ke mobil dengan tergesa.

"Jion, kita pergi aja, balik ke hotel." Jion mengernyit saat Nadhif mengatakan hal itu.

"Kenapa? Kita salah rumah?" Nadhif menggeleng.

"Gak, kamu gak salah, rumah itu emang rumah keluarga Aland, tapi mereka lagi gak ada di rumah, mereka lagi ada di rumah sakit karena katanya ayah dari pak Hatta aland sedang sakit." Jion menghela nafas pasrah, sepertinya mereka harus mencari info lagi besok.

"Okey kita balik ke hotel, tapi kenapa ekspresi lo gitu sih?" Nadhif menggeleng.

"Ada satu info lagi yang aku dapet, tapi nanti aja aku kasih tau di hotel, kamu lagi nyetir soalnya."

*****

"Jion, mereka tadi bilang kalau ayah nya pak Hatta sakit sejak cucu kesayangannya sekaligus pewaris utama di keluarga Aland meninggal." Jion tampak terkejut saat mendengar hal itu.

"Cucu kesayangannya?" Nadhif mengangguk kecil.

"Iya."

"Terus apa hubungannya sama kita Dhif?" Nadhif menghela nafas panjang saat Jion mengatakan hal itu.

"Keluarga Aland cuma punya dua pewaris, karena Hatta Aland adalah anak tunggal. Dan yang meninggal adalah anak pertama pak Hatta, Kavi."

Deg

Jion langsung menatap tidak percaya pada Nadhif, dia tidak mungkin salah dengar kan? Tidak mungkin adik yang dia cari selama ini sudah pergi.

"Lo bercanda ya Dhif?" Nadhif menggeleng.

"Mereka bilang kalau anak pertama pak Hatta meninggal karena kecelakaan, tiga bulan lalu. Sejak saat itu ayah pak Hatta jadi sering sakit-sakitan."

Bruk

Jion jatuh terduduk di atas ranjang, sungguh bukan hal ini yang ingin dia dengar, dia ingin mendengar bahwa saudara kembarnya hidup baik-baik saja.

"Narel?" Jion menggeleng, kedua tangannya mengepal erat.

"Gue harus apa Dhif? Apa yang harus gue bilang ke Hoshi kalau kayak gini?"

Grep

Nadhif memeluk Jion, membuat pemuda tinggi itu meluapkan tangisnya di perut sang sahabat. Jion ingin bertemu dengan saudaranya, tapi jika seperti ini dia harus bagaimana?

"Kasih tau papa lo Rel, setelah itu kita cari info lebih lengkap. Kalau semua itu memang benar, kita bisa cari tau dimana makam Kavi."

*****

Fakta yang di terima Jion benar-benar mematahkan harapan keluarga nya agar bisa berkumpul dengan lengkap, Jion sudah menghubungi Endaru, dan sang ayah mengatakan akan segera menyusul dengan penerbangan paling cepat saat itu juga.

Jion tidak bisa melakukan apapun saat ini, pikirannya kacau hanya karena mendengar jika Kavi sudah meninggal.

"Narel liat, aku dapat info soal kecelakaan lalu lintas tiga bulan lalu." Jion yang mendengar itu langsung mendekati Nadhif dan ikut membaca layar laptop sang sahabat.

"Kecelakaan lalu lintas di jalan kenangan, menewaskan satu orang pengendara motor dan satu lainnya luka parah. Penyebab kecelakaan itu di duga karena kedua korban sedang melakukan balap liar, di lihat dari kondisi kedua motor korban yang hampir tidak berbentuk, dipastikan mereka sedang melaju kencang saat mengalami kecelakaan." Jion mengepalkan tangannya, sepertinya dia harus mencari info lebih lanjut soal ini.

"Balap liar?"

"Tapi kenapa pewaris keluarga Aland ikut balap liar?" Jion segera menoleh saat mendengar gumaman Nadhif.

"Dhif, disini di sama sekali gak disebutin siapa korban yang meninggalkan? Apa ada kemungkinan kalau bukan Kavi yang meninggal?" Nadhif menatap Jion terkejut.

"Kalau bukan Kavi, terus siapa yang meninggal? Karena menurut tetangga nya tadi, keluarga aland melakukan pemakaman itu tiga bulan lalu." Jion menghela nafas, dia benar-benar bingung saat ini.

"Gue bingung Dhif, gue sama sekali gak bisa mikir sekarang." Nadhif mengelus punggung Jion lembut.

"Gue gak akan minta lo sabar Rel, gue tau kabar ini pasti berat buat lo. Tapi lo harus inget lo gak boleh jatuh, masih ada Hoshi yang nunggu lo di jakarta."

*****

Tbc

*****

Selamat pagi...
Selamat hari senin...
Hoshi up pagi-pagi nih...
Kavi ada di manado nih, siapa fau kabar selanjutnya?

Selamat membaca dan semoga suka

See ya

–Moon–

Little HoshiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang