.
.
.
.
.
Hoshi memeluk erat lengan Jion saat mereka tiba di rumah, mereka baru saja kembali setelah mengantar kedua orang tua mereka ke bandara.
Jion terlihat senang dengan tingkah Hoshi, karena beberapa hari terakhir Hoshi hanya diam di kamar nya dan tidak mau bermanja padanya maupun Riku.
"Gak ngantuk?" Hoshi menggeleng.
"Kan tadi udah tidur di mobil, abang ngantuk ya?" Jion tersenyum dan menggeleng.
"Gimana tadi jalan-jalan nya sama bang Keenan?" Hoshi mengerjap saat Jion menanyakan hal itu, wajahnya bahkan bersemu merah saat kembali mengingat jika Keenan menyatakan cinta nya.
"Abang, cinta itu seperti apa?" Jion mengernyit.
"Kenapa nanya gitu?"
"Bang Keenan tadi bilang kalau cinta aku." Jion terkejut tentu saja, namun segera tersenyum mengingat bagaimana seriusnya Keenan mengejar sang adik.
"Cinta itu menerima pasangan apa ada nya, suka atau duka, sehat atau sakit, dan cinta itu gak butuh alasan." Hoshi menghela nafas panjang.
"Gak ngerti." Jion memeluk tubuh mungil Hoshi sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Gini ya dek, kamu kesel gak waktu lihat Keenan ketemu cewek yang kemarin itu?" Hoshi langsung merubah ekspresinya menjadi masam.
"Perempuan yang dateng ke sini itu?" Jion mengangguk.
"Iya."
"Gak suka, aku gak suka." Jion tersenyum tipis.
"Kangen gak kalau gak ketemu bang Keenan?" Hoshi terdiam sejenak sebelum mengangguk.
"Kangen."
"Beda kan rasa kangennya? Rasa kangen kamu ke bang Keenan beda sama rasa kangen kamu ke Nyzan atau ke Nadhif kan?" Hoshi kali ini mengangguk.
"Iya, aku pernah pingin marah cuma karena bang Keenan batal datang ke sini."
"Nah itu, yang kamu rasain itu cinta dek, kamu cemburu liat Keenan sama orang lain, kangen kalau gak ketemu." Hoshi terkejut, namun segera menatap ke arah Jion.
"Jadi aku cinta sama bang Keenan?" Jion mengangguk.
"Mungkin sekarang belum terlihat jelas, tapi nanti seiring berjalannya waktu, kamu pasti ngerasain sendiri tanpa harus bertanya." Hoshi terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali menatap Jion.
"Jadi boleh aku jawab pertanyaan bang Keenan buat jadi pacar nya?" Jion mengangguk mantap.
"Boleh."
*****
"Kenapa gak bisa di hubungi?" Hoshi menghela nafas panjang saat lagi-lagi Kavi tidak bisa dia hubungi.
Sudah hampir dua bulan sejak Kavi pamit ke manado, tapi sebulan terakhir Kavi tidak bisa di hubungi.
Hoshi takut, pemuda mungil itu takut jika kakak baiknya akan memilih menetap disana, dan meninggalkannya disini.
"Gak, kak Kavi udah janji bakal pulang."
"Kakak baik gak akan ninggalin aku lagi."
Hoshi hanya bisa bergumam sendiri, karna jika dia bercerita pada Jion atau Riku, mereka akan semakin khawatir.
"Kak Kavi cepet pulang, aku kangen."
Di luar kamar Jion sebenarnya mendengar semua gumaman Hoshi, namun dia tidak bisa berbuat banyak. Karena memang Kavi belum menghubunginya kembali setelah sempat bisa di hubungi dua minggu lalu.
"Bang, ngapain?" Jion sedikit terkejut saat Riku menepuk pundaknya.
"Hoshi lagi-lagi bilang kangen Kavi Rik." Riku ikut menatap pintu kamar Hoshi yang tertutup.
"Ya pasti dia kangen bang, dua bulan ini kak Kavi gak ngabarin Hoshi." Jion mengangguk setuju.
"Hoshi di tembak sama Keenan." Riku mendelik saat mendengar ucapan Jion.
"Hoshi di tembak? Sama bang Keenan?" Jion mengangguk.
"Iya." Riku menatap lekat Jion yang terlihat santai.
"Terus lo bolehin bang?" Jion mengangguk dan itu membuat Riku melongo.
"Bang, lo serius? Lo bolehin Hoshi pacaran sama bang Keenan?" Jion menghela nafas panjang.
"Apa salahnya sih Rik? Kita sama-sama tau kalau Keenan serius dan gak pernah main-main."
"Iya bang Keenan nya, keluarga nya gimana? Kalau Hoshi di hina sama mereka gimana?" Jion berdecak pelan.
"Kalau mereka berani ngehina Hoshi, ya tinggal habisi. Lo kira Keenan gk nyiapin semuanya? Bahkan sebelum dia nembak Hoshi, Keenan udah bilang ke gue kalau dia bakal habisin siapa pun yang berani nyakitin Hoshi secara batin atau fisik, bahkan kalau itu keluarganya sendiri."
*****
"Bang Keenan, aku nerima abang jadi pacar ku." Keenan mengerjap saat mendengar ucapan Hoshi, padahal dia baru saja duduk di sofa ruang keluarga mansion Gaillard.
"Kamu nerima aku?" Hoshi mengangguk polos.
"Kata bang Jion aku gak apa terima abang, tapi bang Keenan gak boleh nakalin aku ya." Keenan tersenyum tulus dan mengangguk.
"Makasih Hoshi, aku akan jaga kamu mulai sekarang, kalau ada apa-apa kamu bisa langsung hubungin aku, okey?" Hoshi mengangguk pelan.
"Tapi bang Keenan, aku gak tau pacaran itu gimana, apa perlu aku belajar dari kak Zan?" Keenan langsung menggeleng.
"Jangan belajar sama Nyzan ya, kamu belajar sama Nadhif atau Sakil aja ya." Hoshi kembali mengangguk.
"Okey, nanti aku belajar sama kak Nadhif."
Keenan mengucap syukur dalam hati, karena mendengar jawaban memuaskan dari pujaan hatinya. Ya meskipun setelah ini dia harus menyiapkan diri untuk berhadapan dengan Kavi setelah pemuda itu pulang.
Meskipun sejujurnya Keenan belum siap jika Kavi tau soal dia yang memacari adik bungsunya.
"Bang Keenan, kenapa ngelamun?" Keenan tersadar saat mendengar suara lembut Hoshi.
"Aku gak ngelamun, cuma lagi mengagumi keindahan ciptaan tuhan yang ada di hadapanku." Hoshi memandang Keenan bingung.
"Aku gak ngerti, abang ngomong apaan sih?" Keenan akhirnya tertawa dan menggeleng.
"Bukan apa-apa."
Disisi negara yang lain, seorang pemuda tengah memandang datar pada proses pengadilan di depan nya.
Pemuda itu, Kavi, sedang menatap bagaimana sang ayah angkat diadili karena tuduhan kekerasan, penculikan, dan juga membuat berita kematian palsu.
Ini lah alasan Kavi belum bisa kembali ke jakarta, pemuda itu harus mendapatkan kembali identitasnya yang sudah dianggap negara meninggal.
Setelah ini Kavi bisa bebas dari segala hal, karena identitasnya sudah kembali, dan sang ayah angkat sudah mendapat hukumannya, hanya tinggal mengurus ibu dan adik angkat nya.
"Kavi, lo harus baca ini." Kavi menatap Rico yang menyodorkan ponselnya, dan menampilkan sebuah pesan dari orang yang di minta Kavi mengawasi sang adik.
"Adik lo di tembak sama Keenan, dan Jion kasih ijin buat pacaran." Kavi hanya diam, namun Rico tau jika sahabatnya itu tengah emosi, terbukti dengan tangannya yang terkepal.
"Kapan tiket kita?" Rico tersenyum karena rencananya membawa Kavi pulang sepertinya akan berhasil.
"Seminggu lagi." Kavi memejamkan matanya sejenak.
"Pesan ulang untuk besok atau lusa, gue mau pulang!"
*****
Tbc
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Hoshi
FanficKavi Aland Daran, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun harus meregang nyawa karena kecelakaan saat sedang melakukan balap liar. Namun bukannya beristirahat dengan tenang, Kavi justru terbangun di tubuh seorang remaja berusia tujuh belas tahun...
