.
.
.
.
.
"Kak Kavi!" Kavi menoleh saat mendengar pekikan Hoshi.
"Jangan lari, nanti kamu jatuh." Kavi memperingatkan Hoshi agar berhenti berlari.
"Hehe... Kakak makasih ya." Kavi tersenyum saat Hoshi bergelayut manja di lengannya.
"Makasih buat apa?" Hoshi tersenyum dan menggeleng.
"Pokoknya makasih kakak, kakak udah kasih ijin abang Keen." Kavi tersenyum dan mengangguk.
"Kamu habis di ajak kemana sama bang Keenan?" Hoshi berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab.
"Bang Keenan jemput aku di kampus terus ajak aku beli ice cream." Kavi mengangguk paham.
"Capek?" Hoshi menggeleng.
"Gak capek, aku seneng kak." Kavi akhirnya tersenyum mendengar jawaban Hoshi.
"Ya udah sana ganti baju terus istirahat." Hoshi mengangguk dan segera beranjak untuk naik ke lantai dua.
"Bang Jion belum pulang?" Kavi menggeleng sebagai jawaban.
"Paling dia lagi keluar sama Nadhif, udah biarin aja." Hoshi mengangguk.
"Aku ke kamar dulu ya kak, kakak juga jangan diem disitu aja, sekali-sekali main sama kak Rico!" Kavi hanya bisa menggeleng kecil mendengar nya.
"Main sama Rico tanpa Leo itu bahaya, soalnya Rico suka maksa orang buat makan."
*****
"Riku, kapan mau ke rumah Jion? Aku kangen Hoshi." Riku tersenyum saat Irvin merengek padanya.
"Ya kalau mau main ayo aja, tapi siap ketemu kak Kavi memang nya?" Irvin merengut dan menggeleng.
"Kavi itu serem Riku, kenapa sih dia gak bisa jadi kayak Jion aja? Kan mereka kembar?" Riku menatap lekat pada kekasih hatinya itu.
"Kembar bukan berarti sama sayang, bahkan Nadhif sama Nyzan aja beda sifat. Gak ada orang yang benar-benar sama secara sifat di dunia ini." Irvin menunduk.
"Tapi aku takut sama Kavi Riku, dia suka cekik orang." Riku menggeleng.
"Sekarang aku tanya deh, waktu itu kenapa kamu bisa di cekik? Gak mungkin tanpa alasan kan?" Irvin mengangguk kecil.
"Aku ngehina dia, aku maki-maki dia karena aku iri soal Hoshi." Riku tersenyum tipis.
"Nah, udah ada jawabannya kan, jadi ayo sekarang ke rumah bang Jion, kita ketemu Hoshi sekalian kamu minta maaf ke kak Kavi, biar gak di tatap tajam terus sama kak Kavi." Irvin akhirnya mengangguk.
"Padahal sekarang kita sekampus sama Hoshi, tapi dia suka nya sama bang Keenan aja."
*****
"Narel, ayo jalan-jalan ke pantai." Jion yang sedang mengerjakan tugasnya langsung menoleh pada Nadhif dan mengangguk.
"Sebentar ya beb, aku selesaiin ini dulu terus kita jalan ke pantai." Nadhif mengangguk dan kembali duduk sambil memperhatikan Jion yang fokus pada tugas nya.
"Narel, kenapa kamu makin ganteng?" Jion hanya tertawa kecil, namun netranya tidak juga lepas dari laptopnya.
"Biar kamu makin cinta."
"Tapi nanti kalau makin banyak yang suka sama kamu gimana? Aku gak suka kamu di deketin orang lain." Jion hanya mengangguk.
"Kalau aku di sukai banyak orang berarti kamu spesial beb, karena cuma kamu yang bisa dapetin aku."
"Tapi aku suka cemburu, marah tiap kali kamu di deketin cewek!"
"Kalau gitu kamu harus terus ada sama aku biar gak ada yang berani deketin pacar kamu ini." Nadhif mengangguk mantap.
"Bener, aku harus terus sama kamu kecuali kalau pas di kelas, soalnya calon suami ku ini ganteng nya kelewatan nanti banyak yang naksir!"
******
"Sayang maafin aku dong, masa masih marah terus sih." Nafian mencoba membujuk Nyzan yang sedang marah padanya.
"Sana kamu pergi aja sama cewek itu, katanya dia cantik!" Nafian menghela nafas panjang.
"Aku bilang dia cantik bukan berarti aku mau sama dia sayang, dari dulu sampai sekarang orang yang cantik setelah mami ku itu cuma kamu. Lagi pula cantik itu relatif, tapi kalau kamu itu alternatif paling spesial buat aku."
"Tapi dia suka kamu Nafian!!!" Nafian tersenyum tipis.
"Dia suka aku tapikan aku gak suka sama dia sayang, yang aku suka, aku cinta itu cuma Nyzan seorang."
Blush
Wajah Nyzan langsung merona saat Nafian mengatakan hal itu, Nafian memang tidak pernah bersikap manis selama ini, dan itu membuat Nyzan sedikit sebal padanya, tapi begitu Nafian bersikap manis, justru tidak baik bagi jantung nya.
"Jangan gombal terus Nafian, sekarang anterin aku ke rumah Jion, mau ketemu Hoshi aja!" Nyzan langsung berjalan pergi setelah mengatakan itu, meninggalkan Nafian yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"NAFIAN CEPET!!" Nafian segera bergegas menyusul Nyzan sebelum kekasihnya itu kembali marah.
"IYA SAYANG TUNGGUIN!!"
*****
Semua berakhir bahagia dengan pasangan mereka, tapi buka berarti Kavi tidak berakhir bahagia.
Kavi juga bahagia, dia berkumpul bersama keluarga nya, sahabatnya dan lagi dia menemukan beberapa teman baru dan juga seseorang yang berhasil mencuri hatinya.
Namun kisah Kavi tidak akan di bahas disini, atau mungkin tidak sekarang. Nanti kisah Kavi akan terbuka seperti lembaran buku yang baru saja kalian baca, tapi entah kapan itu terjadi, hanya Kavi yang bisa menentukannya.
Jion bahagia bersama Nadhif, Riku bahagia bersama Irvin, Nafian dan Nyzan juga bahagia, Hoshi sudah pasti di jamin bahagia bersama Keenan.
Keenan benar-benar mengusahakan kebahagiaan Hoshi, tidak pernah membiarkan kekasih mungilnya itu bersedih atau bahkan meneteskan air mata.
Ochi masih sering muncul, namun kehadirannya justru membuat Keenan semakin menjaga Hoshi dengan ekstra. Keenan tidak ingin ada yang memanfaatkan Hoshi karena kondisinya, ya meskipun Keenan selalu siap membalas siapa pun yang berani mengusik adik kesayangannya.
Kebahagiaan yang menjanjikan suka tanpa luka itu adalah kebohongan terencana, karena nyatanya kebahagiaan selalu hadir beriringan dengan luka dan kesedihan.
Sampai jumpa di lain waktu, Little Hoshi selesai sampai disini.
*****
End
*****
Selamat malam....
Akhirnya Little Hoshi selesai malam ini...
Menurut kalian ending nya gimana?
Memuaskan atau mengecewakan?
pyeongsam_ie terima kasih udah request dan jadilah cerita ini.
Selebihnya maaf jika gak sesuai ekspetasi ya...
.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Hoshi
Fiksi PenggemarKavi Aland Daran, seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun harus meregang nyawa karena kecelakaan saat sedang melakukan balap liar. Namun bukannya beristirahat dengan tenang, Kavi justru terbangun di tubuh seorang remaja berusia tujuh belas tahun...
