70

1.4K 150 114
                                        

Sejak tadi Riki hanya meringkuk diatas brangkar, seluruh tubuhnya terasa sakit, dadanya sesak juga nyeri sekalipun ia memakai alat bantu pernapasan.

Riki juga menolak untuk digendong saat Jake ataupun Satya menawarkan diri, Riki sama sekali tidak mau membuat kedua saudaranya kerepotan, Riki menelan semua rasa sakit sendiri. Riki bahkan tidak mengeluh, tenaganya sudah habis tak bersisa.

"Adek kalo sakit bilang aja gak papa, mau kaka peluk?" Tanya Satya sejak tadi ia setia mengusap lembut surai Riki sesekali menyusut keringat sebiji jagung didahi sang adik.

Satya tidak tega melihat Riki yang terus diam dan menyembunyikan rasa sakitnya sendirian.

"Iya adek bilang aja, abang sama kak Satya disini. Jangan ditahan ya, adek juga boleh gigit tangan abang kalo adek gak kuat." Jake sedikit memajukan tubuhnya mengulurkan tangan untuk bisa menjadi pelampiasan rasa sakit yang adiknya rasakan.

Riki menggeleng lemah, membuka mata menatap sayu keduanya,"Abang...kaka.. adek antuk.. adek na tidul..api badana cakit.." Lirih Riki.

Satya yang sejak tadi mengelus surai Riki berhenti sejenak, ucapan Riki membuat pikirannya langsung liar kemana-mana ditambah kondisi Riki yang seperti sekarang membuat Satya ingin menangis.

Riki terbatuk membekap mulutnya sendiri saat mual kembali menyerang, dari pagi Riki memang terus-menerus muntah sekalipun jarang asupan makanan yang masuk.

Jake dengan sigap mengambil ember kecil dibawah ranjang memposisikan disamping agar Riki mudah jika sekiranya anak itu ingin mengeluarkan isi perutnya.

Huekk..huekk..

Riki muntah dan bajunya sedikit kotor terkena noda karena posisinya yang menyamping, Jake dengan telaten memijat tengkuk adiknya agar Riki memuntahkan isi perutnya.

Tidak peduli baju, selimut atau apapun kotor, bahkan lengan baju panjangnya ia gunakan untuk menyusut noda disudut bibir sang adik.

Sedangkan Satya memilih bangkit membiarkan Jake mengurus Riki, bukan jijik tapi Satya merasa tidak sanggup melihat Riki yang terus kesakitan.

Remaja itu memilih berlari keluar, meluruhkan diri dibangku panjang agak jauh dari ruang rawat, menunduk lalu membekap mulut meredam tangis yang sialnya tidak bisa ia tahan setelah tadi mati-matian menahannya didalam.

Kenapa Satya harus dihadapkan ditengah kondisi seperti ini, Satya tidak kuat Tuhan. Sekiranya Tuhan memang sedang ingin menguji seorang hamba penuh dosa seperti Satya, kenapa Engkau berikan ujian sesakit ini.

Satya tidak sanggup, rasanya sakit sekali. Satya tidak bisa mengurangi rasa sakit Riki, Satya tidak bisa menanggung beban sakit yang Jayden hadapi, Satya juga tidak mampu menggantikan Jake yang pasti memikul banyak tanggung jawab, ataupun membantu menghilangkan trauma Sakala.

Satya tidak bisa melakukan apapun untuk membantu saudaranya, Satya tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Sekalipun Satya merelakan nyawanya, Satya sangat yakin itu tidak akan cukup menggantikan semua yang dirasakan seluruh saudaranya.

"Tuhan, Satya gak kuat. Kenapa Engkau menguji Satya seberat ini. Dosa apa yang pernah Satya lakukan dimasa lalu, apa lahir dari luar ikatan adalah dosa yang harus Satya tanggung? Tapi kenapa, Tuhan?"

Sekeras apapun Satya bertahan hidup, pada akhirnya ia selalu merasa mati secara perlahan. Orang tidak akan peduli bagaimana cara Satya bertahan, orang hanya akan mencibir setiap perbuatan seseorang saat dirasa orang itu melakukan kesalahan.

Dan Satya adalah bentuk dari sebuah kesalahan dimata banyak orang, seolah hadirnya saja sudah menjadi kesalahan.

"Satya" panggil Jayden, Satya lantas menoleh mendapati Jayden yang tengah duduk dikursi roda dengan Sakala dibelakang yang setia mendorong kursi roda Jayden.

Precious Family || EnhypenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang