Dengan langkah santai perempuan itu masuk kedalam sebuah gedung yang menjulang tinggi, dimana seseorang kini menunggunya didalam.
Resepsionis yang berjaga langsung membungkuk saat melihat perempuan yang kini berjalan dengan angkuh melewati para karyawan dan mulai memasuki lift.
Sesekali perempuan itu berdecak kesal saat panggilan teleponnya tak kunjung diangkat oleh orang disebrang.
Dengan langkah kesal perempuan itu membuka pintu ruangan dengan kasar, tidak peduli sekretaris didepan menghalanginya untuk masuk sebab sang bos yang sedang bertemu dengan klien.
"Sialan, bajingan" umpat perempuan itu tanpa menyadari beberapa pasang mata yang melihat kearahnya.
"Mungkin untuk hari ini kita cukupkan, tuan bisa langsung bisa menghubungi sekretaris saya jika ada hal yang ingin ditanyakan" ucap lelaki dikursi kebanggannya pada kedua klien dihadapannya.
"Baik, tuan. Terimakasih atas kerjasamanya, kalo begitu saya permisi"
kedua orang itu bangkit menyalami lelaki tersebut, tak lupa dua orang itu juga sedikit membungkukkan badan pada wanita yang langsung terdiam setelah menyadari ada orang lain didalam ruangan.
"Kebiasaan, apa kamu tidak bisa sabar menunggu? Mereka orang yang akan bekerja sama dengan perusahaanku."
"Aku tidak peduli, cepat katakan apa yang harus aku lakukan setelah ini? Aku muak berpura-pura, sialan?!!"
Perempuan itu langsung duduk disofa menyilangkan kaki keatas sofa, perutnya yang mulai membuncit sedikit membatasi ruang geraknya.
"Calm, sayang. Bersabar lah sebentar, aku yakin Hilmi akan menjadi milikmu sepenuhnya setelah itu kamu bisa pergi meninggalkan sibrengsek dengan mudah" ucap lelaki itu santai memberikan secangkir teh hangat untuk sang sepupu.
Lelaki itu adalah Ardian lebih tepatnya sepupu Mira dari pihak ibu, keduanya memang berkerja sama untuk menghancurkan Hilmi, seperti Hilmi menghancurkan keluarga Ardian 8 tahun lalu.
"Aku tidak akan meninggalkannya" sahut Mira menyeruput teh pemberian Ardian dengan anggun.
Ardian tekekeh dengan pengakuan Mira,"Kamu sudah jatuh cinta pada si brengsek itu?"
Mira mengangguk,"Tentu saja, dia lelaki yang baik dan bodoh, tapi aku tidak suka dengan semua anak-anaknya. Mereka parasit, benalu didalam hidup Hilmi dan aku akan menyingkirkannya. Dengan begitu bukankah sama saja dendammu terpenuhi?"
"Sedikit, aku ingin membuat dia hancur. Dan kamu tidak boleh lupa dengan rencana kita, bukankah kamu ingin membalas dendam atas kepergian adikmu juga." Ingat Ardian agar Mira tidak melupakan rencana awal masuk kedalam kehidupan Hilmi.
"Aku tidak lupa. Ouh iya mana sesuatu yang ingin kamu berikan padaku? Cepat berikan, aku harus pergi"
Ardian berjalan mendekat kearah meja, sedikit berjongkok mengambil sesuatu dilaci meja lalu memberikan sesuatu itu ketangan Mira.
Ardian sedikit menarik bibirnya tersenyum mengeringkan lalu mencondongkan tubuhnya berbisik tepat ditelinga Mira.
Mira membelalakkan mata kaget dengan semua ucapan Ardian.
"KAMU GILA?!!!"
***
"Papa, kok udah pulang?" Tanya Julian yang sedang bersandar disofa dengan kaki yang diselonjorkan keatas meja tak lupa iPad miliknya yang sedari tadi ia pegang menonton tayangan sikembar botak dari negara sebelah.
Hilmi menoleh saat Julian lebih dulu membuka percakapan diantara mereka.
"Kerjaan papa udah selesai, nanti malam papa mau keacara temen kuliah papa" jawab Hilmi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Ficción GeneralSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
