Di tengah cahaya yang begitu indah, bunga-bunga bermekaran dengan warna-warna cantik menghiasi taman.
Udara terasa hangat dan menenangkan. Hamparan langit biru, dihiasi awan-awan bergerak perlahan seperti alunan musik yang kini menjadi atap taman tempat Sakala berdiri sekarang.
Gemericik air dari kejauhan membuat Sakala tanpa sadar terus berjalan menyusuri taman yang begitu indah. Setiap langkah membawa Sakala ke tempat yang lebih damai, lebih terang, seolah tempat ini memang diciptakan untuk mebuat siapapun merasa tenang dalam kedamaian yang utuh.
Sakala tidak tau bagaimana ia bisa berada ditempat ini. Seingatnya ia sedang berbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit setelah peristiwa memilukan itu terjadi.
Mengingat kejadian yang menimpanya, Sakala teringat pada yang lebih tua, Satya. Samar-samar ia ingat saat kejadian Satya sempat memeluknya erat membiarkan tubuhnya menjadi perisai untuk sang adik.
Benturan pertama Sakala masih ingat ia berada dalam pelukan Satya, kakanya itu sudah berlumuran darah. Lalu selang beberapa detik Sakala merasa tubuhnya melayang keluar, pelukan Satya terlepas begitu saja.
Kejadiannya begitu cepat, samar ia bisa melihat asap mobil dari kejauhan juga tubuh Satya yang terhimpit didalam mobil yang terbalik. Ia ingin bangkit meraih tubuh kakanya disana, tapi seluruh tubuhnya kaku dan setiap inci tubuhnya terasa nyeri hebat.
"Kak..Satyah...shh.." Sakala bergumam memanggil nama yang lebih tua ditengah rasa sakit yang menghantam. Sampai kegelapan bersamaan dengan suara sirine ambulan merenggut kesadaran Sakala.
Kembali ke waktu sekarang. Sakala masih berjalan menyisiri taman yang dikelilingi bunga-bunga. Sesekali tangannya terulur menyentuh lembut kelopak bunga yang bergoyang tertiup angin.
Perlahan, langkah Sakala akhirnya sampai di dekat sungai. Airnya sangat jernih hingga dasar sungainya pun masih terlihat jelas, suara aliran air begitu terasa menenangkan.
Sakala terdiam sejenak, pandangannya mengedar ke setiap sudut tempat kala dia tidak menemukan siapapun disana. Hening, hanya suara aliran sungai yang masih begitu jelas terdengar di telinga.
Rasa takut tiba-tiba saja menyelinap masuk kedalam hatinya.
Bayang-bayang wajah kelima saudaranya mendadak hadir kedalam benak, membuat Sakala tanpa sadar memanggil nama mereka dengan lirih.
"Kak Jay... Abang... Kak Satya...
Langkah kecilnya tertatih, sedikit terhuyung berjalan menyusuri aliran sungai berharap dengan itu ia bisa menemukan saudaranya disana.
Sakala takut. Takut ia memang sudah mati tanpa sempat berpamitan. Sakala takut ia pergi tanpa sempat mengutarakan kata maaf dan terimakasih pada Satya yang hari itu melindunginya sampai merelakan tubuh yang lebih tua menjadi perisai demi melindunginya.
"Adekk... Hiks.. Kala takut... Lian...
Tangisan Sakala pecah, beberapa kali Sakala terjatuh tersandung kakinya sendiri lalu kembali bangkit memanggil nama saudaranya dengan lirih dan penuh harapan.
"Kak Jay... Hiks maafin Kala... Tolong jangan hukum Kala kayak gini... Hikss... Kak Satya..
Sakala mulai berpikir, mungkinkah ini adalah salah satu hukuman yang diberikan Tuhan padanya karena selalu menjadi alasan penyebab saudaranya terluka.
Sakala ingat betul saat kematian Julian, Sakala ada disana sebagai orang yang merekomendasikan membeli makanan diluar tanpa mempedulikan ucapan Julian yang sempat curiga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Ficción GeneralSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
