91

1.2K 148 112
                                        

"Menurut kak Bayu, kak Jay bakal seneng kita kasih kejutan gini?"

"Tentu saja, Jay pasti bakal seneng banget setidaknya Jay jadi punya semangat kuat buat sembuh." Ujar Lembayung meyakinkan Jake kalo semua ini akan menjadi hadiah terbaik untuk Jayden.

"Apa adek juga bakal sembuh? Jujur Jake takut banget kak Bayu." Ungkap Jake pada Lembayung.

Jake merasa hanya Lembayung yang bisa mengerti perasaannya sekarang, ditambah sepupunya itu selalu ada di samping mendukung Jake disaat terpuruknya seperti sekarang.

"Kita berdoa ya serahin semuanya sama yang diatas. Kalo kita berdoa dengan yakin Jay sama Riki pasti sembuh. Jake percaya, kan?"

Jake mengangguk kembali menatap kedepan memperhatikan jalanan yang ramai karena memasuki waktu makan siang.

Keduanya berada didalam mobil membelah jalanan kota setelah tadi mengambil pesanan kue favorit Riki di toko langganan mereka, sekalian mengambil hadiah yang Jake siapkan sejak kemarin sebagai hadiah untuk saudara-saudaranya.

Disamping Lembayung fokus menyetir sesekali melirik ke arah sang sepupu yang lebih banyak diam seolah otaknya terus berpikir banyak hal.

"Perasaan Jake gak enak banget dari tadi pagi. Jake gak tau tapi kayak sesuatu bakal terjadi, semuanya bakal baik-baik aja, kan?" Jake kembali bersuara tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan dari jalanan di depannya.

Sekilas Lembayung melirik kesamping, mendengar ungkapan Jake barusan membuat hatinya juga ikut tidak tenang.

Namun, karena tidak mau memperkeruh suasana jadi Lembayung berusaha berpikir positif.

"Tentu, semua bakal baik-baik aja. Jake gak perlu khawatir. Setelah ini kita kemana?"

"Kita mampir sebentar ke toko buku."

"Ngapain?"

"Beli buku novel, Kala mulai suka baca novel Jake mau beliin satu lagi hadiah buat dia. Setidaknya Kala bisa mengalihkan perhatiannya dengan membaca novel." Usul Jake mengingat Sakala mulai tertarik dengan dunia novel karena usianya yang mulai beranjak remaja.

Jadi tidak ada salahnya memberikan novel sebagai hadiah.

"Oke, kita pergi kesana."

****

"Gimana apa semua sudah siap?"

"Tentu, aku sudah mengatur semuanya."

"Bagus, bagus sekali. Aku tidak sabar menunggu berita terbaru mereka."

****

"Akhirnya kamu datang, Hilmi. Darimana saja kamu? Meninggalkan istri sendirian di ruang rawat yang benar saja." Omel Ariyani saat Hilmi baru saja kembali setelah mengunjungi ruang rawat Jayden.

Tadi Hilmi sempat diusir saat Satya datang ke ruang rawat Jayden bersama Sakala.

Putranya itu menarik paksa Hilmi untuk keluar dari ruang rawat sang kaka tanpa belas kasihan.

"Satya biarin papa disini.. Papa mau nemenin-

"Gak perlu!! Kak Jay gak butuh papa sekarang. Lebih baik papa pergi dan urus istri papa itu!! Satya gak suka dituduh merebut perhatian papa karena peduli sama kita. Biar aja kita kayak gini, Satya muak disalahin sama semua orang."

"Siapa yang berani menyalahkan mu Satya? Tidak mungkin ada yang menyalahkanmu karena papa-

Satya tertawa sinis," Papa gak bakal tau dan gak bakal peduli. Jadi cukup!! Satya gak mau ambil resiko. Apa papa gak puas bikin adek kritis dan sekarang papa mau apain lagi kak Jay, hah?! Pergi dari sini sebelum Satya teriak dan minta satpam buat gak kasih papa izin mendekat."

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang