53

1.4K 174 121
                                        

Satya duduk disamping brangkar tempat Jayden terbaring dengan lemah, masker oksigen masih setia menutup sebagian wajah sang kaka. Jayden memang belum sadar sejak Satya membawanya kerumah sakit.

Riki, Satya titipkan diruang rawat Sakala agar anak itu bisa tertidur dengan nyaman, sebab Jayden masih berada diruang darurat dan baru akan dipindahkan mungkin besok pagi.

Waktu menunjukkan pukul 12 malam, tapi Satya tak kunjung tertidur dan malah asik memperhatikan wajah Jayden yang damai dalam tidurnya.

Julian tadi sempat menjenguk Jayden, anak itu menangis keras karena lagi-lagi Julian harus melihat Jayden terkapar lemah diranjang pesakitan, ia juga menyesal meninggalkan Jayden dirumah.

Julian marah mendengar semua cerita dari Satya, kalo papa mungkin memarahi Jayden habis-habisan dan menyalahkan kakanya karena mendorong tante Mira.

Julian dan Satya belum tahu kakanya yang di tampar, dipukul, sampai dilempar buku besar dan berat hingga mengenai dadanya.

Wajah lebam Jayden mereka mengira itu hasil tamparan nenek, jadi bisa dipastikan jika mereka tahu Jayden disakiti papa sedemikian hebatnya mereka pasti akan lebih marah.

Lagian kenapa papa jadi menyalahkan Jayden, padahal Julian dan Sakala adalah saksi utama, dari mana papa menyimpulkan kalo Jayden yang mendorong Mira pasti nenek dan tante Mira mengaku yang tidak-tidak.

Satya mengelus tangan Jayden yang terbebas dari infus, meletakkan tangan sang kaka dipipinya, agar kaka merasakan kehangatan kalo ada Satya yang menunggu Jayden untuk bangun.

"Kak, kalo Satya bilang ikhlas itu semua bohong, Satya gak pernah benar-benar mau kak Jay pergi. Kalo pun tuhan panggil Satya, Satya gak mau kak Jay ikut, tapi kalo tuhan panggil kak Jay, Satya ikut. Jadi kak, ayo bangun Satya masih disini nunggu kaka untuk sadar. Satya sayang banget sama kak Jay, maaf karena Satya ngingkarin janji buat lindungin kaka dari papa, maaf Satya benar-benar minta maaf" Satya terisak merasa begitu menyesal karena gagal melindungi Jayden dari amukan papa.

Seandainya Satya terus disamping Jayden, kakanya tidak akan seperti sekarang.

"Apapun yang terjadi semua salah papa. Satya gak akan pernah mau maafin papa, kalo kak Jay sama yang lain kenapa-kenapa, papa adalah orang yang pertama Satya salahkan dan paling Satya benci"

****

Keeseokan harinya Jayden dipindahkan keruang rawat, Julian senantiasa menunggu sejak pagi disamping brangkar. Satya sedang pulang kerumah mengambil barang-barang yang mungkin mereka butuhkan.

Riki masih tertidur diruangan Sakala bersama dengan Jake, remaja itu sudah tahu keadaan Jayden, Jake sempat mampir sebentar keruangan lalu keluar tanpa mengucapkan satu katapun.

"Kak Jay, maaf Lian gagal jadi superhero nya kak Jay. Pasti sakit, ya? Nenek jahat udah tampar kaka. Papa juga sekarang jahat, papa berubah karena tante Mira" Julian mengulurkan tangan menyentuh luka memar dipipi Jayden yang terlihat membiru.

"Apa yang nenek sama papa lakuin adalah hal buruk, mereka tidak pantas disebut orangtua. Papa mungkin papanya Lian tapi kalo sampe kak Jay kenapa-kenapa karena papa, Lian gak akan pernah sudi buat maafin papa lagi. Lian selalu nerapin kata kak Jay untuk selalu bisa memaafkan orang dan Lian lakuin itu ke papa dan abang. Tapi papa selalu ingkar dan menyia-nyiakan kesempatan maaf yang Lian kasih, Lian bukan kak Jay yang punya seribu maaf"

Julian menangis mendengar penuturannya sendiri, Julian tidak bisa membayangkan berapa maaf yang Jayden punya untuk selalu memaafkan semua orang. Julian mencoba menjadi pribadi seperti kak Jay, tapi ternyata dia tidak bisa.

Kesalahan papa sudah terlalu jauh, dan pada akhirnya ketakutan Julian tentang papa Juno terbukti akurat pada papanya sendiri. Papa berubah karena keluarga barunya, dan mereka mungkin harus siap kalo papa akan benar-benar menyingkirkan mereka dari hidupnya.

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang