Hujan mengguyur kota dengan deras disertai gemuruh yang terus terdengar sejak tadi, suasana rumah sakit terasa mencekik bagi orang yang menunggu kabar kondisi keluarga mereka yang kini berada di ambang hidup dan mati.
Jake terus menunduk berdoa dalam hati untuk keselamatan Riki yang kembali collapse sejak tadi sore.
Satya duduk di bangku panjang meremat tangannya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalo Riki akan baik-baik saja.
Di sampingnya Lembayung senantiasa menemani Satya mengelus punggung ringkih itu agar tetap kuat dan tegar demi adik kecil mereka.
Sedangkan dikursi sebrang ada Sakala yang menangis dipelukan paman Harlan, anak kecil itu langsung menangis saat baru sampai bersamaan dengan kondisi Riki yang ikut collapse.
Paman Harlan dan Lembayung juga baru datang bersamaan dengan Sakala, keduanya mengurungkan niat menyusul Jayden karena mereka tahu Jayden sudah dirumah dan baru akan menyusul ke rumah sakit malam nanti.
"Paman, adek Kala gak papa, kan? Adek pasti bangun kan paman?" Harlan mengangguk, mengeratkan pelukan mereka menyalurkan rasa aman yang bisa Sakala rasakan.
"Tentu, Kiki anak yang kuat. Kiki pasti bisa kembali bersama kita semua." Yakin paman Harlan berdoa dalam hati agar Tuhan mau mengabulkan semua doa mereka yang mengharapkan Riki baik-baik saja.
Di sisi lain Jake hanya bisa menangis diam-diam tanpa suara, Jake tidak kuasa melihat tubuh kecil didalam yang tengah berjuang saat dokter berusaha mempertahankan Riki agar tetap bersama mereka.
"Adek harus kuat. Abang mohon, abang gak mau kehilangan adek." Lirih Jake memegang kaca di depan seolah ia tengah menyentuh tubuh rapuh sikecil.
Mereka semua tidak ada yang mengeluarkan suara, hanya suara hujan yang menjadi satu-satunya suara yang terdengar di antara mereka.
Pintu ruangan berdecit pelan saat dokter keluar ruang darurat, mereka semua langsung berdiri menghampiri sang dokter yang tengah membuka masker medisnya dengan perlahan.
Dokter itu menarik nafas dalam memperhatikan mereka semua yang harap-harap cemas menunggu kondisi keluarga mereka yang tengah berjuang.
"Maaf...
Kalimat pertama yang dokter itu katakan langsung membuat semua yang disana menahan nafas, bayang-bayang buruk menghantui mereka.
".... Kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi kondisi pasien memburuk sangat cepat, kondisi ginjalnya sudah berhenti berfungsi. Cairan racun di tubuhnya sudah menyebar. Detak jantungnya lemah, tekanan darahnya terus menurun. Tubuhnya juga menolak obat-obatan yang masuk."
"Kami menemukan kandungan obat berbahaya dalam tubuh pasien, overdosis obat yang tidak sesuai takaran juga memperparah kondisi ginjalnya dan mempercepat penurunan kesadaran pasien."
Kata-kata dokter barusan menghantam seperti pecahan kaca dihati mereka semua, Satya sudah menangis terisak tidak kuat mendengar semua penuturan dokter.
Jake menggeleng, suaranya hampir pecah karena manahan tangis,"Tapi adik saya masih bisa sembuh, kan dok?"
"Maaf, tapi saya harus jujur kemungkinan untuk pasien bisa sadar saja sangat kecil dan untuk bisa sembuh kami tidak bisa menjamin. Kami tim medis hanya bisa melakukan yang terbaik untuk pasien, selebihnya hanya Tuhan yang bisa menentukan."
"Kami hanya bisa menyarankan untuk keluarga bisa menyisakan ruang ikhlas untuk pasien. Sekarang kalian bisa masuk menemui pasien dan ajak dia bicara, pasien masih bisa mendengar suara mereka yang mengharapkan kesembuhannya."
Selepas dokter pergi Jake meluruhkan tubuhnya di lantai, menangis dengan hebat setelah mendengar semua penjelasan dokter.
Jake seperti kehilangan harapan, bayang-bayang kepergian Julian mampir kedalam pikiran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Fiksi UmumSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
