89

1K 145 64
                                        

Pagi itu Sakala terbangun saat dirasa pipinya terus diciumi oleh seseorang, saat membuka mata Sakala melihat Jake tengah tersenyum lalu kembali mencium pipinya dengan sayang.

Remaja itu juga membelai rambutnya, membisikkan kalimat manis agar Sakala mau bangun.

"Kala sayang adiknya abang yang paling lucu, imut, tampan mirip sunoo enhypen ayo bangun. Nanti abang beliin sarapan paling spesial buat Kala, yuk bangun dulu."

Sebelum Jake kembali mencium pipinya, Sakala buru-buru menahan bibir sang abang dengan tangannya lalu bangkit sembari mengumpulkan nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi.

"Abang berisik ih, jangan cium-cium geli kalo dicium abang." Rengek Sakala mencebikkan bibirnya kesal, membuat Jake terkekeh senang ternyata menjaili Sakala memang seru pantas saja Satya sering mengganggu adiknya yang satu ini.

"Kenapa? Kalo dicium kak Jay aja mau kenapa kalo abang gak mau?"

"Engga mau soalnya abang serem kalo lagi marah."

"Oh jadi gitu ya lebih sayang kak Jay dibanding abang. Oke oke nanti jangan minta apapun ke abang ya, padahal abang udah siapin sesuatu spesial buat Kala." Jake pura-pura merajuk bersidekap dada membelakangi sang adik sedikit menggoda Sakala yang kini ikut penasaran dengan hadiah yang disiapkan Jake.

"Ih kok gitu, Kala sayang semuanya kok cuma abang kan jarang cium-cium Kala jadi geli. Abang ih ada hadiah apa buat Kala?" Sakala menggoyang tubuh sang abang meminta penjelasan tentang hadiah yang dimaksud.

"Sayang ya...tapi kayaknya lupa tuh hari ini hari apa?" Sindir Jake melirik sinis ke arah Sakala yang masih memasang wajah memohon, sepertinya adiknya itu penasaran dengan hadiah yang barusan ia katakan.

Memang benar Jake bukan hanya menyiapkan kado untuk Satya, Jayden juga Riki tapi Sakala yang tidak berulang tahun pun sengaja Jake siapkan hadiah sebagai penghargaan karena Sakala mau terus bertahan sampai sejauh ini.

"Emang ini hari apa?" Polos Sakala sama sekali tidak ingat ini hari apa.

Karena terlalu lama meninggalkan sekolah Sakala sampai tidak peduli hari dan tanggal, yang Sakala ingat ia hanya perlu bersyukur masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk membuka mata dipagi hari.

"Kala beneran gak ingat ini hari apa?!" Tanya Jake langsung menghadap Sakala sedikit terkejut dengan pengakuan sang adik.

Sakala menggeleng, lalu menunduk wajahnya berubah muram,"Kala beneran gak inget ini hari apa. Gak tau senin gak tau selasa Sakala beneran gak tau."

Jake menatap Sakala dengan cemas apakah efek samping dari terlalu lama meninggalkan sekolah akan membuat seseorang melupakan hari dan tanggal.

"Kala beneran gak inget, abang. Yang Kala inget semua hari itu sama." Lirih Sakala.

"Sama-sama sakit dan sesak."

Tanpa banyak bicara Jake langsung menarik Sakala yang masih saja menunduk kedalam rengkuhannya, hatinya ikut sakit mendengar penuturan Sakala.

Setelah semua yang terjadi Sakala benar-benar melewati harinya dengan penuh kesulitan. Dibalik keceriaan dan kuatnya seorang Sakala, Jake tau adiknya itu menyimpan beribu sakit yang tidak pernah bisa dia utarakan.

Setetes air mata jatuh tanpa diminta, ini masih pagi matahari bahkan belum sepenuhnya menampakkan sinar diluar sana tapi Jake sudah menangis.

"Abang kenapa nangis?"

Sakala bisa merasakan bahunya basah karena air mata sang abang, apalagi Jake tiba-tiba memeluknya dengan begitu erat setelah sekian lama.

Jake menggeleng pelan dibahu sang adik masih setia memeluknya dengan erat,"Kala, terimakasih karena sudah mau bertahan sejauh ini. Abang bangga banget sama Kala. Kala harus tetep jadi Kala yang ceria dan bahagia, abang bakal selalu ada buat Kala. Jangan ragu buat cerita sama abang kalo ada sesuatu yang bikin Kala gak nyaman. Abang itu abangnya Kala, abang pasti bakal selalu jadi orang pertama yang bakal dukung dan lindungin Kala dari semua orang jahat."

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang