42.A

1.2K 137 41
                                        

Pernikahan Hilmi hanya tinggal menghitung jam. Besok pagi Hilmi akan kembali melepas kesendiriannya, otomatis hari ini papa sangat sibuk menyiapkan ini dan itu untuk acara pernikahan besok.

Hilmi sempat mengunjungi rumah sakit sebentar tadi pagi, sekalian membawakan barang anak-anak yang mungkin dibutuhkan lalu pergi lagi.

Malam pertama kedua putranya dirumah sakit Hilmi tidak ikut menginap, karena Ariyani minta diantar pulang, lalu diperjalanan kembali kerumah sakit Hilmi harus berganti arah saat Mira tiba-tiba menelepon memintanya datang keapartemen. Otomatis dirumah sakit hanya ada Satya, Julian, dan Sakala yang jaga.

Malam kedua hanya ada Julian dan Satya yang menginap dirumah sakit, karena Sakala tiba-tiba tidak enak badan. Hilmi beralasan sibuk membereskan masalah kantor agar saat menikah nanti semua kerjaannya sudah selesai. Ariyani sendiri mana sudi beralasan tidak bisa tidur jika menginap dirumah sakit.

Seperti malam ini hanya ada Julian yang berjaga diruang rawat, Satya belum pulang dari sekolah sejak pagi, menyiapkan tim basketnya mengikuti kegiatan porak selama menunggu pembagian rapot.

Sakala dijemput Ariyani sejak pagi, Julian sendiri tidak tau keduanya pergi kemana. Jake juga tidak pernah datang lagi mengunjungi keduanya setelah hari dimana ia membawa Jayden dan Riki kerumah sakit.

Untungnya sekolah Julian sedang bebas, jadi Julian tidak perlu pergi kesekolah dan memilih menjaga keduanya dirumah sakit. Julian bahkan menolak pulang kerumah selama dua hari ini dan tetap berjaga dirumah sakit.

"Kak Jay mau makan buah gak? Lian potongin, ya? Adek mau buah juga, gak?"

Riki menggeleng pelan, sama sekali tidak bernafsu untuk makan, apalagi kalo ujungnya harus kembali keluar. Seharian Riki juga terus tidur karena tubuhnya yang masih lemas dan sakitnya yang selalu datang.

Jayden juga sedang tidak ingin makan, pikirannya terus bercabang memikirkan esok hari papa nikah, Jayden tidak yakin apa besok ia bisa datang atau tidak. Tubuhnya bahkan masih terasa lemas untuk sekedar pergi kekamar mandi.

Julian melangkah mendekati Jayden, menyerahkan sepiring buah yang telah Julian potong-potong dengan sedikit berantakan

"Kak Jay harus tetep makan, tadi kan cuma makan sedikit" Julian tersenyum manis, membuat Jayden tidak bisa menolak apalagi melihat usaha Julian memotong buah yang seperti hidup dan mati.

"Makasih ya"

Julian mengangguk semangat, memperhatikan kaka menyuapkan satu-persatu buah kemulutnya, hingga rintihan Riki dibrangkar samping mengalihkan fokus Julian.

"Ian shh" lirih Riki.

Julian segera mendekati sang adik, menaiki kursi yang ada disamping brangkar, memudahkan Julian untuk bisa mensejajarkan tingginya dengan Riki yang berada diatas brangkar.

Jayden juga ikut menoleh raut khawatir terlihat jelas diwajahnya yang pucat.

"Adek kenapa? Ada yang sakit?" Khawatir Jayden dari brangkar samping, memperhatikan setiap gerak-gerik Riki yang terlihat kesakitan.

Riki menggeleng berusaha untuk baik-baik saja, tapi Julian dan Jayden tau kalo adik kecilnya kini kesakitan.

Julian mengelus surai Riki, sesekali lengan kain baju panjangnya mengelap keringat sebiji jagung yang menghiasi pelipis sang adik.

"Adek mual? Atau ada yang sakit? Jujur aja sama Ian gak papa" ucap Julian dengan lembut.

"Na untah"

Mendengar penuturan Riki, Julian dengan sigap mengambil ember kecil dibawah brangkar, membantu Riki untuk bangkit lalu memposisikan ember didepan sang adik.

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang