61

1.5K 156 118
                                        

Setelah kejadian hari itu Sakala semakin terpuruk, Sakala bisa menangis tiba-tiba dan terus memanggil nama Julian.

Anak itu akan mengamuk dan melempar barang jika ada yang mengatakan Juliannya sudah pergi, Sakala selalu bilang kalo dia adalah penyebab utama kematian Julian.

Sakala juga enggan beranjak dari kamar yang gelap dan berantakan. Hilmi sampai memanggil psikiater anak untuk menghadapi putranya yang semakin bertindak agresif.

Tapi itu tidak semudah yang di bayangkan, Sakala benar-benar menolak orang baru bahkan dokter psikiater yang mau membantunya.

Jayden jadi kembali mengingat masa lalu dimana Satya juga mengalami hal serupa.

"Gak Lian.. gak boleh pergi...dia anak baik..adik aku.. Lian gak mati..salah Kala..ini salah Kala..Kala bunuh..bunuh Lian" racau Sakala sembari memeluk lututnya sendiri dipojok kamar dengan baju dan rambut berantakan, jangan lupakan kamar yang gelap dengan barang-barang yang berserakan dilantai.

Jayden menangis melihat Sakala yang seperti ini, kehilangan Julian memang sakit tapi melihat Sakala yang kehilangan semangat hidupnya membuat Jayden semakin sakit.

Kemana Sakala yang ceria dan selalu melupakan masalah dengan cepat, kemana Sakala yang Jayden kenal.

Jayden perlahan mendekat tidak peduli Sakala akan mengamuk lagi ia hanya ingin merengkuh adiknya. Sakala harus sembuh, Sakalanya harus kembali ceria.

"Kala, ini kak Jay" Sakala tidak bergeming anak itu malah beringsut mundur saat Jayden menyentuh bahunya.

"JANGAN!!...JANGAN PEGANG ...

"...Kala pembunuh jangan pegang.. jangan" racau Sakala bertindak gelisah dan seperti orang ketakutan setiap kali seseorang mendekat atau menyentuhnya.

"Kala, ini kak Jay. Kakanya Kala, kak Jayden. Kala jangan takut, kaka gak akan mati kalo Kala mendekat, sini biar kaka peluk. Kaka jamin kalo Kala peluk kaka suara dikepalanya hilang" Jayden berinsiatif untuk lebih dekat dengan sang adik.

Dan Sakala akhirnya menoleh sedikit, masih beringsut mundur hingga membentur tembok menatap Jayden dengan takut.

"Sini kaka peluk, suaranya berisikkan? Biar kaka usir, ayo Kala peluk kak Jay" bujuk Jayden merentangkan tangan berharap Sakala mau masuk kedalam pelukannya.

Sakala tidak bergeming, ia hanya diam memperhatikan. Jayden ingin sekali langsung menarik Sakala kedalam rengkuhannya tapi ia juga harus bisa menunggu waktu agar Sakala tidak takut.

"Kaka... gak akan mati kayak Lian?" Cicit Sakala.

Jayden tersenyum lalu menggeleng,"Gak, kaka bakal selalu ada buat Kala. Ayo sini peluk kak Jay"

Dengan ragu Sakala akhirnya maju masuk kedalam pelukan Jayden yang langsung disambut hangat oleh Jayden.

Pelukan Jayden ternyata memang benar hangat dan menenangkan, Sakala nyaman, suara dikepalanya perlahan menghilang.

Jayden juga semakin merapatkan tubuhnya dengan Sakala, sambil terus mengucapkan kalimat positif.

"Kala anak baik, bukan salah Kala. Lawan suara-suara berisik dikepala Kala, ya. Jangan takut ada kak Jay yang selalu ada disamping Kala"

Perlahan tapi pasti Sakala mulai merasa lebih tenang dipelukan Jayden, tangisannya mulai reda.

"Kak Jay, Kala ngantuk tapi kepalanya berisik" lirih Sakala mengadukan suara yang terus mengalun dikepala, bayang-bayang Julian, dan ucapan tante Mira terus berputar bagai kaset rusak sampai kepalanya terasa sakit.

"Kalo gitu ayo Kala bangun dulu, kita tiduran dikasur nanti kaka peluk terus usap-usap kepalanya biar suaranya nanti hilang"

Jayden menuntun Sakala tiduran di ranjang, lalu keduanya merebahkan diri dengan Sakala yang berada dipelukan sang kaka menyandarkan kepalanya dengan nyaman tepat didada sembari mendengarkan detak jantung Jayden yang sedang bersahabat.

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang