Tiga hari berlalu, baik Jayden maupun Riki sama-sama belum menunjukkan perubahan untuk kondisi mereka.
Jayden masih setia menutup mata, seolah mimpi disana lebih indah dan membahagiakan.
Kondisi Riki semakin menurun, anak itu hanya bisa terbaring lemah di ranjang pesakitan. Jake, Satya ataupun Sakala bergantian menjaga Riki juga Jayden.
Jika Jayden, papa kadang-kadang datang untuk menjenguk, tapi papa sama sekali tidak menemui Riki sekalipun anak itu terus memanggil papa.
"A-bang" lirih Riki sangat pelan sampai Jake yang berada disampingnya harus mendekatkan telinga agar bisa mendengar suara sang adik.
"Adek butuh apa, hmm?" Tanya Jake dengan lembut.
"Pa-pa" jawab Riki dengan lirih, matanya kembali terpejam seolah jika Riki mengeluarkan banyak suara tenaganya habis tak bersisa.
Jake menjauhkan diri saat tidak kunjung mendapat kelanjutan dari ucapan sang adik, ia menghela nafas lelah ketika adiknya kembali memejamkan mata.
Dua hari terakhir, kesadaran Riki memang menurun anak itu hanya membuka mata sebentar menggumamkan beberapa kata lalu kembali jatuh kealam bawah sadarnya.
Dokter bahkan memberikan selang melalui hidung untuk memudahkan Riki tetap mendapatkan asupan nutrisi yang cukup.
Tidak ada lagi yang bisa Jake lakukan selain berdoa untuk kesembuhan Riki maupun Jayden, berharap mereka segera mendapatkan donor yang cocok untuk mereka.
Tak lama pintu terbuka, Sakala baru saja masuk memakai jaket tebal serta kacamata hitam dan topi.
Jake bisa menebak kalo Sakala pasti baru kembali dari rumah Julian bersama Satya tentunya.
"Kala abis dari pusara Lian?" Tanya Jake menghampiri Sakala yang kini tengah duduk disofa sembari melamun menatap jauh kedepan.
Kebiasaan Sakala setelah pulang dari pusara Julian pasti seperti itu melamun cukup lama memandangi sesuatu dengan pandangan kosong.
Jika tidak ditanya anak itu pasti mampu diam melamun selama 2 jam penuh, jadi sebisa mungkin mereka harus memberikan interaksi agar Sakala tidak terus melamun.
Sakala mengangguk kecil,"Semalam Lian dateng ke mimpi Kala"
Sakala kini menengok kesamping dimana Jake duduk tepat disebelahnya, netra mereka berdua saling menatap selama beberapa detik sebelum Sakala kembali mengalihkan pandangannya kearah Riki yang tidur diatas brangkar.
"Lian bilang dia sedih." Cicit Sakala lalu menunduk air matanya tiba-tiba menetes.
Sakala masih ingat tatapan terluka Julian dalam mimpinya, adiknya itu bilang kecewa karena Riki lagi-lagi harus terluka.
Sakala menangis kencang didalam mimpi meminta ampun kepada Julian karena lalai menjaga adik bungsunya, Sakala terlalu larut dalam kesedihan sampai seolah ia mengabaikan Riki.
Tapi Julian menepis pemikiran buruk Sakala, ia bukan kecewa pada sang abang melainkan pada papa.
Sakala juga ditunjukkan oleh Julian di suatu tempat dimana Jayden ada disana sedang berjongkok disamping sungai yang airnya begitu jernih dan tenang.
Kaka tertuanya itu seperti anak kecil yang sedang menjulurkan tangan kedalam air, lalu tersenyum cerah membajurkan air itu kesembarang arah lalu terkikik bahagia seolah Jayden menemukan bahagia barunya disana.
Sakala jarang sekali melihat senyuman Jayden yang begitu cerah seolah tidak ada beban, dihati kecil Sakala ia senang melihat Jayden akhirnya bisa melepas bebannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Fiksi UmumSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
