Keinginan Riki bermain istana pasir pada nyatanya harus pupus karena Riki sama sekali tidak ingin menyusul Sakala karena ada papa disana.
Riki juga memilih untuk terus bersama Arin tanpa berniat melepas pelukan mereka hingga tertidur, mungkin karena Riki juga kelelahan bermain air bersama yang lain.
Satya dan Jake ikut bergabung bersama Sakala setelah makan. Mereka berdua sempat membujuk Jayden dan Riki untuk ikut bergabung tapi mereka tetap memilih ditempat.
Jayden sendiri mulai merasa lelah setelah lama bermain, menyandarkan kepalanya dibahu mama dadanya juga sedikit terasa sesak tapi ia tidak mau cerita pada siapapun, Jayden merasa masih bisa menanganinya sendiri.
"Mama" panggil Jayden.
Arin menyahut dengan deheman, netranya masih sibuk memperhatikan Riki dalam pelukannya yang kini tertidur dengan nyenyak mengusap kepalanya dengan sayang.
"Mama punya anak lain ya selain kita? Siapa mereka?" Tanya Jayden, ia penasaran dengan anak tiri Arin.
Kata Satya, Jayden pasti kenal anak tiri Arin karena berada satu sekolah. Tapi Satya tidak mau memberitahu siapa mereka.
"Punya, namanya Jeremy, Jevano sama Emily. Jeremy lebih tua satu tahun dari Jay, Jevano seumuran Jay. Kalian juga sekolah disatu sekolah yang sama. Kalo Emily dua tahun diatas dek Iki. Kenapa?"
"Gak ada Jay cuma mau tau aja, mereka baik ya?" Lirih Jayden, entah kenapa hatinya sedikit sakit.
"Baik, mereka semua anak baik, penurut juga pintar. Pertama kali mama ketemu mereka mama kira Jeremy anak yang nakal tapi ternyata dia anak yang baik dan gak senakal itu, mama suka mereka."
Perkataan Arin membuat Jayden merasa berkecil hati, dadanya yang semula sesak semakin sesak karena pemikirannya yang mulai liar.
Jayden menyadari mama mungkin menyukai anak pintar seperti anak tirinya dan Jake. Jayden kan bodoh jadi dia tidak boleh berharap terlalu tinggi, ia tidak boleh serakah.
"Mama sayang mereka?" Jayden menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditanya, seolah mencari penyakit jika jawaban mama adalah iya.
"Hmm, sayang. Ayah mereka selalu ada dan bantu mama disaat susah, jadi bukannya mama harus balas Budi dengan cara menyayangi mereka? Apalagi ayah mereka udah bahagia sama istrinya diatas sana."
Jayden terkejut dan langsung menegakkan kepalanya menghadap mama," maksud mama? Suami baru ma-
"Iya Jay, mama sama suami baru mama cuma satu tahun menikah lalu mas Damar pergi." Jawab Arin matanya kini beralih menatap kearah hamparan pantai lalu bergantian kearah anak-anak dan Hilmi.
"Maaf, Jay gak tau." Sesal Jayden.
"Santai aja Jay, lagian Jay tau? Mama sama mas Damar cuma nikah diatas kertas, mama gak pernah cinta sama mas Damar. Mama anggap mas Damar murni sebagai seorang kaka, mas Damar juga masih cinta sama istrinya. Mama sayang anak-anak mas Damar sebagai bentuk dari balas Budi. Dihati mama cuma ada papa kamu sampai kapanpun dan kasih sayang mama sama Jay dan adik-adik Jay lebih besar dari sayang mama sama anak-anak mas Damar. Jadi Jay gak usah khawatir bagi mama Jay dan adik-adik Jay selalu no satu dihati mama. Maaf karena dulu mama pernah egois, mama bakal berusaha berubah dan mengganti semua hal yang dulu gak bisa mama kasih buat kalian. Mama selalu sayang Jay lebih dari apapun." Ungkap Arin dengan jujur pada Jayden, ia tidak mau menutupi apapun dan membuat Jayden bertanya-tanya.
Arin hanya ingin membangun kepercayaan Jayden padanya, Arin ingin Jayden percaya jika dirinya benar-benar berubah dan menyayangi putra sulungnya segenap hati.
"Tapi Jay penyakitan, Jay cuma beban, Jay juga gak pinter kayak Jake. Apa mama masih sayang sama anak kayak Jay?" Lirih Jayden, tanpa terasa air matanya menetes.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
General FictionSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
