Hilmi memilih mendudukan diri disalah satu bangku ditaman belakang villa, menikmati hembusan angin malam yang langsung menerpa kulitnya karena Hilmi hanya memakai kaos hitam pendek.
Setelah makan malam Hilmi memang sengaja memisahkan diri, memberikan ruang untuk mereka lebih dekat dengan Arin.
Bagi Hilmi sendiri, perasaannya kini berubah menjadi campur aduk. Melihat interaksi anak-anak dan Arin yang begitu dekat tak ayal membuat Hilmi merasa sedikit iri.
Setelah semua yang terjadi kenapaa anak-anak bisa secepat itu dekat dengan Arin, melupakan fakta jika perempuan itu pernah meninggalkan mereka semua tanpa kejelasan.
Hilmi masih bertanya-tanya apa alasan dibalik perceraian mereka, seberapa keras Hilmi berusaha mencari tahu semakin sulit ia mendapat jawaban.
Arin juga seolah tidak menunjukkan raut bersalah atau apapun itu setelah sekian lama menghilang lalu kembali muncul dihadapan mereka.
Jika ditanya bagaimana perasaan Hilmi sekarang, maka jawabannya ia juga tidak tahu.
Hilmi memejamkan mata, membiarkan hati dan pikirannya berkelana jauh. Merenungi setiap perilaku dan perbuatannya selama ini.
Hilmi tidak bodoh jika anak-anak sengaja membentangkan jarak dengan dirinya, tapi Hilmi terlalu malu mengakui perbuatannya dihadapan anak-anak.
Jadi saat Jake mengibarkan bendera permusuhan dengannya, Hilmi tidak terima padahal ia sadar semua sikapnya selama ini.
Hilmi sudah terlalu jauh menggoreskan luka dihati anak-anak, ia menyakiti Riki dan Jayden dengan hebat hingga dirinya mungkin meninggalkan perasaan trauma yang mendalam dihati mereka.
Hilmi tidak bisa membagi waktu dan memberikan pengertian pada Sakala sehingga anak itu terus larut dalam penyesalan.
Hilmi juga tidak ada bersama Jake dan Satya saat keduanya begitu sibuk mengurus saudara mereka dirumah sakit.
Lalu bagaimana Hilmi memperbaiki semuanya? Rasanya semua terasa semakin jauh dari genggaman.
Hilmi memeluk dirinya sendiri, merapatkan tangannya ketika hawa dingin itu semakin menerpa kulitnya.
Hingga sentuhan hangat menyentuh bahunya, saat sebuah selimut tersampir apik disana. Hilmi membuka mata menoleh kebelakang melihat Arin yang tengah tersenyum tipis berjalan memutar kedepan untuk duduk disebelah Hilmi.
"Mas lagi ngapain? Udah tau gak kuat dingin sok-sok an pake kaos pendek nanti kalo sakit disini siapa yang repot? Aku juga mas." Ucap Arin mencoba mencairkan suasana.
Sedangkan Hilmi sendiri masih diam memperhatikan setiap inci wajah mantan istrinya dari samping.
Tidak ada yang berbeda, Arin yang dulu dan sekarang masih sama.
Kulit putih, mata hitam yang indah, alis tebal, bulu mata lentik, hidung mancung, rambut yang tergerai indah tak lupa bibir yang selalu menjadi candunya dimasa lalu seolah menggoda Hilmi untuk kembali merasakan kelembutan disana.
Sepersekian detik Hilmi terpaku membiarkan pikirannya menjelajah jauh bahkan suara Arin sama sekali tidak terdengar ditelinganya.
Arin yang merasa diperhatikan akhirnya memilih menoleh kesamping, tatapan keduanya bertemu saling menatap dan mengunci satu sama lain.
Tidak ada satupun dari mereka yang berniat melepas pandangan, netra keduanya seolah terkunci menyiratkan rasa rindu yang begitu mendalam sampai tidak bisa dilukiskan oleh kata-kata.
Entah sejak kapan keduanya semakin dekat, tidak ada jarak bahkan hidung mancung keduanya sudah begitu dekat hampir bersentuhan sebelum Hilmi akhirnya tersadar dan hendak menjauh namun Arin menahan pergerakannya dan membuat keduanya semakin dekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Genel KurguSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
