76.B

1.2K 137 79
                                        

Seperti janji Hilmi semalam, lelaki itu benar-benar mengajak Mira untuk pergi ke mall mencari barang-barang bayi untuk calon anak mereka.

Harusnya Hilmi pergi kekantor hari ini karena meeting dengan klien tapi karena Mira terus saja merengek ditambah Ariyani juga menekan Hilmi untuk mengajak istrinya berbelanja mau tidak mau Hilmi menurut dan membawa Mira pergi ke mall.

Selama di mall, Hilmi hanya mengikuti langkah kaki sang istri yang begitu antusias memilih baju-baju bayi yang terlihat mungil dan kecil.

Ngomong-ngomong mereka belum tahu jenis kelamin calon bayi mereka, Mira sengaja meminta dokter merahasiakan jenis kelamin calon bayi mereka sampai usia kandungan 7 bulan.

Dan anehnya Hilmi sama sekali tidak penasaran dengan jenis kelamin calon bayi mereka, Hilmi hanya pasrah kalo laki-laki lagi ia terima, kalo pun perempuan Hilmi bersyukur.

Bahkan untuk hari ini Hilmi sama sekali tidak tertarik membeli apapun, pikirannya malah terus tertuju pada urusan kantor.

Beberapa kali sekretarisnya menelepon dan meminta Hilmi untuk segera datang ke perusahaan.

"Mas bagus ini atau itu?" Tanya Mira menunjuk dua box bayi yang terpajang di store.

Hilmi melirik bergantian, tidak ada yang aneh hanya box bayi. Dimatanya juga tidak ada yang bagus, tapi karena tidak ingin mengecewakan Mira Hilmi menunjuk salah satu dari dua box disana.

"Ini bagus cocok untuk perempuan ataupun laki-laki."

"Oke, berarti kita pilih yang ini."

"Mas suka yang ini atau itu?" Mira menujuk dua buah selimut bayi.

"Biru bagus."

"Tapi kalo anaknya perempuan?"

"Biru netral bisa masuk kemana aja."

Mira terus bertanya pendapat Hilmi dan Hilmi hanya bertugas menjawab atau mengangguk sebagai respon dari pertanyaan Mira.

Rasanya ini benar-benar membuat Hilmi lelah daripada menghadapi klien yang rewel.

Bukankah perasaan Hilmi sudah terlalu jauh untuk Mira?

Entah berapa kali Hilmi mencoba untuk kembali menyalakan api cintanya dengan Mira, tapi semua itu terasa gagal apalagi setelah bertemu Arin.

Dan sekarang keduanya sedang berada disalah satu restoran untuk makan siang, bukannya makan Hilmi malah teringat anak-anak.

Hilmi ingat sekali, Jayden pernah mengiriminya pesan meminta papa untuk mengajak adik-adiknya pergi ke restoran yang sama karena mereka suka makanan yang ada disini.

'Papa kata adek kalo papa pulang harus ajak lagi nonton, Sakala sama Julian pengen ajak papa makan ditempat yang kata papa gak enak, soalnya buat mereka makanannya enak.'

Hilmi baru ingat dulu ia sempat berjanji pada Riki mengajaknya pergi menonton saat ia kembali dari perjalanan bisnis, Hilmi juga menjanjikan pada mereka untuk pergi mengunjungi restoran yang sama.

Tapi kenapa Hilmi melupakan itu semua dan baru teringat sekarang.

Beberapa kilasan masa lalu juga kembali hadir dibenaknya tanpa diminta.

Hilmi sampai lupa kapan terakhir kali anak-anak berkumpul dirumah untuk makan bersama disatu meja makan yang sama.

Hilmi lupa kapan terakhir Riki merengek memaksa Hilmi untuk pergi membawanya jalan-jalan, Hilmi juga lupa kapan terakhir ia memperhatikan putra bungsunya.

Dulu Riki sangat manja pada Hilmi, Riki selalu mencari Hilmi saat lelaki itu selalu sibuk dikantor.

Dulu Hilmi selalu sibuk mengomel setiap pagi membangunkan Satya yang selalu sulit untuk dibangunkan, apalagi saat ia kewalahan membuat bekal untuk anak-anak berakhir Jayden yang ikut membantu membuat bekal.

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang